Sabtu, 01 Oktober 2016

Pengorbanan Halaene sang Raja Mamala Untuk Tanah Hitu (Ambon)





Indonesia yang dahulu disebut Nusantara merupakan suatu wilayah yang sangat subur dan banyak menghasilkan rempah-rempah. Waktu itu, wilayah Nusantara dipimpin oleh raja-raja sebagai penguasa negara atau penguasa wilayah. Banyak pedagang, baik dari wilayah Nusantara sendiri maupun dari bangsa lain.  Pedagang Eropa yang datang pertama kali memasuki wilayah Nusantara adalah bangsa Portugis dan Spanyol. Kedua bangsa ini bersaing untuk merebut daerah hasil rempah-rempah. Lalu, bangsa Spanyol tersingkir dan bangsa Portugis dapat menguasai daerah penghasil rempah-rempah. Namun, bangsa Indonesia dengan para raja dan penguasa daerah sebagai pemimpin tidak senang dengan kelakuan Portugis yang ingin menjajah. Rakyat Indonesia pun berjuang mengusir Portugis dari bumi Nusantara dengan mengangkat senjata dan mengadakan perlawanan.

Sejak tiba di Hitu dalam tahun 1512, orang-orang Portugis di bawah pimpinan d’Abrio dan Serroa disambut dan dijamu dengan ramah tamah oleh orang Hitu yang telah beragama Islam. Jumlah orang Portugis yang sedikit itu tidak dianggap sebagai ancaman, apalagi mereka segera pergi setelah tinggal beberapa lama. Maksud orang-orang Portugis itu hanyalah mencari rempah-rempah (cengkih dan pala), dan zaman itu mereka harus pergi ke Ternate, Tidore dan Banda. Dalam tahun 1525, barulah orang Portugis mendapat izin membangun sebuah rumah di pantai Hitu sebelah Utara, tepatnya di Hassamuling-tanjung Tetulaing (lokasinya berada di antara Mamala-Hitu). Tetapi, keadaan tersebut menjadi buruk ketika orang Portugis melanggar kedaulatan orang Hitu yakni ketika mereka hendak membangun sebuah benteng dan mengadakan peraturan-peraturan sendiri. (Lihat: Kekalahan Mengerikan Di Tanah Hitu) Orang Hitu menolaknya dan menghendaki orang Portugis meninggalkan wilayah mereka dan tinggal di antara orang-orang uli siwa (cikal bakal benteng Victoria). Sejak itu pula terjadi pengkristenan orang uli siwa di Leitimor oleh Portugis.

Sekilas Sistem Kerajaan Tanah Hitu

Hikayat Tanah Hitu menyebutkan bahwa ketika keempat perdana bermufakat untuk membentuk kerajaan Islam di Tanah Hitu dengan seorang raja yang bergelar “Latu Sitania” dan Hukom yang pertama Abubakar Nassidik, serta ke empat Perdana dibantu dengan tujuh penggawa yang merupakan raja / pimpinan uli yang ada di Tanah Hitu yang terdiri dari tigapuluh negeri, terbentang mulai dari Negeri Lima sampai Negeri Tial sekarang. Berbagai cobaan berat langsung dialami oleh kerajaan ini, dengan usaha menghadapi kolonialisme Portugis. (Lihat: “Perjuangan Melawan Portugis di Mamala” dan “Kekalahan Mengerikan di Tanah Hitu”).

Gambar 1. Rincian Tiga Puluh Negeri di Tanah Hitu

Perjuangan Halaene sang Raja Mamala untuk Tanah Hitu (Ambon)

Negeri Latu atau yang identik dengan negeri Mamala dalam kronologis masa terbentuknya menjadi suatu negeri dan akhirnya berkembang menjadi suatu Uli Saylesi sebelum terbentuknya kerajaan Tanah Hitu mempunyai pimpinan yang disebut “Latu Liu” atau “Latu Polonunu”. Pattikayhatu dalam pendahuluan bukunya yang berjudul “Negeri-negeri di Jazirah Leihitu Pulau Ambon” menyebutkan bahwa Mamala adalah kepala dari para penggawa.

Halaene yang disebut merupakan putra kedua dari Kapitan Hitu Tepil setelah Ariguna (Mihirjiguna), sebelum Kakiali. Semasa hidupnya menjabat sebagai Hukom di Tanah Hitu, selain menjadi raja Mamala.

Gambar 2. Keterangan dari Rhumpius tentang Halaene sebagai Raja Mamala
 
Gambar 3. Keterangan dari Valentijn tentang keberadaan Halaene sebagai Hukom Tanah Hitu dan juga Raja Mamala

Penjelasan bagaimana Halaene yang merupakan cicit dari Perdana Jamilu (Klan Nusatapi) akhirnya menjadi raja Mamala, yang merupakan perpaduan antara dinasti pimpinan uli Saylesi dengan Klan Nusatapi sampai saat ini belum ditemukan referensi yang menjelaskannya.  Hikayat Tanah Hitu menjelaskan peran besar dari Halaene saat itu, beliau sangat ditakuti dan disegani bukan saja di Tanah Hitu, namun juga di pulau Ambon. Saat ayahnya Kapitan Tepil sedang ke Batavia, Halaene mengambil peran ayahnya sampai ajal menjemputnya karena diracun Belanda.(Lihat: Gejolak Perlawanan di Tanah Hitu tahun 1636-1637).  Masa kolonialisme Belanda kala itu terlihat upaya memecah kerajaan Tanah Hitu menjadi dua, dengan terlhatnya adanya dua raja yakni raja Mamala dan raja Hitu Lama, seperti gambar di bawah ini,

Gambar 4. Keterangan dari Rhumpiuss  tentang keberadaan dua raja di Tanah Hitu pada tahun 1637

Kepustakaan

Valentijn F, 
Oud en Nieuw Oost-Indiën: vervattende een naaukeurige en uitvoerige, available at
https://books.google.co.id/books?id=1XtEAQAAMAAJ

Rijali I, Hikayat Tanah Hitu, available at : http://mamala-amalatu.blogspot.co.id/2015/10/hikayat-tanah-hitu.html

Rhumphius, G.E : Ambonsche Landsbeschrijving, Arsip Nasional RI, Jakarta, 1983.

Sabtu, 17 September 2016

Perjuangan Melawan Portugis di Mamala





Pendahuluan

Peristiwa perlawanan leluhur Tanah Hitu melawan Portugis yang bersumber dari Hikayat Tanah Hitu- nya Imam Rijali menjadi menarik, setelah membandingkannya dengan keterangan yang ada dalam referensi lainnya seperti Sejarah Kepulauan Rempah-Rempahnya M. Adnan Amal. Kedua referensi ini saling melengkapi dalam tahun kejadian dan tokoh-tokoh yang terlibat sehingga dapat menegakkan peristiwa apa yang terjadi. Sekaligus memberi bantahan kepada M. Adnan Amal tentang “Penculikan Sultan Baabullah yang dilakukan Portugis” tidak dicampuri oleh leluhur Tanah Hitu saat itu, seperti yang disampaikan dalam tulisannya. Mamala ditekankan dalam tulisan ini mengingat Mamala adalah tempat pertama kali didatangi oleh Portugis dan kemudian menjadi basis pertahanan Portugis. Bagian ini sekaligus merupakan penjelasan perjuangan leluhur Tanah Hitu di Ambon sebelum mengalami kekalahan (lihat: Kekalahan Mengerikan di Tanah Hitu) yang kemudian menjadi acuan Kapitan Tepil dalam diplomasinya terhadap Belanda.

Kedatangan Portugis di Tanah Hitu

Sejak tiba di Hitu dalam tahun 1512, orang-orang Portugis di bawah pimpinan d’Abrio dan Serroa disambut dan dijamu dengan ramah tamah oleh orang Hitu yang telah beragama Islam. Jumlah orang Portugis yang sedikit itu tidak dianggap sebagai ancaman, apalagi mereka segera pergi setelah tinggal beberapa lama. Maksud orang-orang Portugis itu hanyalah mencari rempah-rempah (cengkih dan pala), dan zaman itu mereka harus pergi ke Ternate, Tidore dan Banda. Dalam tahun 1525, barulah orang Portugis mendapat izin membangun sebuah rumah di pantai Hitu sebelah Utara, tepatnya di Hassamuling-tanjung Tetulaing (lokasinya berada di antara Mamala-Hitu). Tetapi, keadaan tersebut menjadi buruk ketika orang Portugis melanggar kedaulatan orang Hitu yakni ketika mereka hendak membangun sebuah benteng dan mengadakan peraturan-peraturan sendiri. (Lihat: Kekalahan Mengerikan Di Tanah Hitu) Orang Hitu menolaknya dan menghendaki orang Portugis meninggalkan wilayah mereka dan tinggal di antara orang-orang uli siwa (cikal bakal benteng Victoria). Sejak itu pula terjadi pengkristenan orang uli siwa di Leitimor oleh Portugis. Orang-orang uli siwa ini meminta dibaptis menjadi Kristen oleh orang Portugis dengan harapan akan mendapat bantuan terhadap penyerbuan orang uli lima tersebut. Keuning mencatat bahwa abad ke 16 bagi Ambon bukanlah zaman yang damai. Adanya orang Portugis pada umumnya merupakan faktor yang mengganggu suasana, terutama di Leitimor. Kehadiran mereka memperuncing pertentangan lama (tradisional) antara uli siwa dan uli lima, dan membagi seluruh negeri dalam dua kelompok kekuatan yang terus menerus saling memerangi.

Salah seorang misionaris terkenal adalah Francis Xavier. Tiba di Ambon 14 Pebruari 1546, kemudian melanjutkan perjalanan ke Ternate, tiba pada tahun 1547, dan tanpa kenal lelah melakukan kunjungan ke pulau-pulau di Kepulauan Maluku untuk melakukan penyebaran agama. Persahabatan Portugis dan Ternate berakhir pada tahun 1570. Peperangan dengan Sultan Babullah selama 5 tahun (1570-1575), membuat Portugis harus angkat kaki dari Ternate dan terusir ke Tidore dan Ambon.


Keberadaan Portugis di Mamala

Don Duarde datang dari Portugis dengan kelengkapannya, maka ia naik ke darat, dengan berbagai bunyi-bunyian. Maka didirikanlah panji-panji perang dan tentara Islam pun demikian. Panglima dan pendekar serta dengan harkatnya. Maka kedua pihak saling berperang. Pada saat itu Khatib ibnu Maulana dan  Tahalele ibnu Abubakar Nasiddik keduanya syahid. Kemudian Totohatu ibnu Zamanjadi mengamuk dan menyerang orang Portugis. Pendekar perang Umar mengamuk dan merampas panji-panji Portugis.

Disamping kemarahannya kepada Portugis, pahlawan Tubanbesi maju dan merengsek kedalam medan pertempuran sambil membathin dalam dirinya, “Sangat beruntunglah aku pada kesempatan kali ini, karena pintu surga sudah terbuka”. Saat itu atas kehendak Allah Swt, kulitnya menjadi kebal terhadap besi. Tentara Portugis bercerai berai hingga akhirnya mundur dan melarikan diri.

Beberapa waktu kemudian, terbertik kabar di telinga Empat Perdana tentang berita kedatangan Sultan Ternate Baabullah yang biasa disebut Sultan Bab, ke Ambon (tahun 1583). Setelah memastikan kebenaran berita tersebut, maka Empat Perdana bermufakat untuk berdamai dengan Portugis dan melakukan upaya diplomasi bertemu dengan Sultan Baabullah. Kerajaan Tanah Hitu merupakan wilayah yang independen, tidak dibawahi oleh Kesultanatan Ternate. Kedatangan Baabullah ke Ambon (Kota Laha) sendiri ternyata adalah hasil upaya Portugis untuk membuat kesepakatan damai Portugis dan Ternate. Namun dibalik rencana tersebut Portugis memprovokasi adu domba antara Ternate dan Hitu sehingga terkesan bahwa orang Hitu membantu menculik Sultan Ternate Baabullah. Karena rencana busuk Portugis inilah akhirnya Portugis mau berdamai dengan Empat Perdana di Tanah Hitu.

Empat Perdana Tanah Hitu mengutus empat puluh orang gagah yang membawa empat puluh mata keris yang dimasukkan ke dalam gendaga dan di atas keris itu adalah kain muslim sehelai yang ditaburi sirih pinang, bunga dan buah-buahan. Setelah melihatnya, Sultan berkata. “Sampaikan salamku kepada Empat Perdana. Adapun daging darahku tidak demikian. Tanda kasih dan tulus serta kehendaknya itu telah sampai kepada kami, maka kami pun menerima dengan sempurnanya. Kalian saudaraku dari dunia datang ke akhirat.” Setelah penyampaian tersebut disampaikan kepada Empat Perdana, keempatnya sebenarnya hendak melakukan kunjungan ulang kepada Sultan di kapal, namun Portugis telah berlayar membawa Sultan.(Diketahui kemudian adalah upaya penculikan Sultan Baabullah oleh Portugis).

Maka terjadilah lagi perang antara Tanah Hitu serta Tanah Ambon sekalian berperang melawan Portugis kembali.  Don Duarte datang dan membuat poskonya di pantai Hitu, maka terjadilah perang yang amat dasyat, siang dan malam. Orang Tanah Hitu terdesak dan mundur serta bertahan di Ulu Kolol (Ulu Pokol?) perbukitan di Mamala dan bertahanlah orang Tanah Hitu di situ.
 
Gambar 1. Pegunungan Ulu Kolol (Ulu Pokol?) di Mamala, sumber Valentijn


Akhirnya pertahanan di Ulu Kolol (Ulu Pokol?) pun kalah. Maka takluklah orang Tanah Hitu kepada Portugis. Sehingga ke-Empat Perdana dan sebagian masyarakat Tanah Hitu pindah ke tanah besar (Seram) tepatnya di Luciela. Sekalipun demikian peperangan selalu terjadi berulang di Tanah Hitu. Saat itu Kimelaha Laulata ada di Tanah Ambon, dan kembali ke negeri Luhu. Kemudian setelah beberapa waktu kemudian Hukom Abubakar menghadap Sultan Ternate, untuk membuat perjanjian. Untuk keterangan lebih lanjut tentang hal ini belum berhasil didapatkan dari referensi lainnya.
 
Gambar 2. Skema perang gerilya perlawanan terhadap Portugis

Sistem kerajaan Tanah Hitu saat itu adalah dipimpin oleh seorang raja dan hukom, serta empat perdana dengan tujuh punggawa (tujuh punggawa yang dimaksud adalah pimpinan dari masing-masing uli) serta membawahi tiga puluh gelaran (tiga puluh gelaran yang dimaksud adalah tiga puluh negeri yang terbentang dari Negeri Lima sampai Tial sekarang). Kedudukan antara raja dan hukom sampai saat ini sulit ditemukan referensi lainnya yang menerangkan keduanya. Apalagi pada ulasan berbagai referensi terlihat posisi hukom yang lebih dominan, pada masa dijabat oleh Abubakar.

Gambar 3. Peta ketigapuluh negeri di Tanah Hitu

Masyarakat Tanah Hitu yang mendengar berita kedatangan Hukom Abubakar dari Ternate, segera menyuruh gelaran (pimpinan negeri) Tuheasal dan Tuhelusun menemui Hukom dan keempat perdana. Keduanya menyatakan loyalitasnya serta mempertanyakan keberadaan dan perhatian  Hukom Abubakar kepada mereka serta meminta Hukom untuk kembali ke Tanah Hitu. Hukom Abubakar menyampaikan bahwa perhatian beliau kepada mereka sangat besar dan meminta mereka untuk mengenyahkan para penjajah, jikalau mereka loyal kepadanya.

Keduanya menyampaikan kepada negerinya dan mereka pun membunuh kafir di dalam negeri itu. Hasilnya mereka sampaikan kepada Hukom Abubakar dan keempat perdana, ketika pulang ke Tanah Hitu, dan mendiami bukit Hatunuku. Pada masa itu negeri Hitu sekalian memberi upeti ikan kepada keempat perdana. Hal ini diperintahkan oleh Hukom Abubakar dan keempat perdana, dan semua negeri pun kembali kepada Hukom Abubakar dan keempat perdana. Sekelumit info mengenai Hatunuku (Hatoenoeko); Pada tahun 1600, yakni dua tahun sebelum VOC didirikan, Belanda membangun benteng Verre di sini untuk menentang Portugis, yang kemudian disebut benteng Kota Warwijk, nama dari seorang pelaut Belanda yang pertama kali menginjakkan kaki di Ambon.

Negeri Hitu dan negeri Nusaniwe bermusyawarah untuk bermufakat dan membuat perjanjian, Pati Lopulalan dengan Perdana Tanahitumesen, Totohatu dengan Lisakota, Latuhalat dengan Perdana Nusatapi, Pati Tuban dengan Pati Naelai. Hasil musyawarah menyatakan jika ada kesulitan atau kebaikan di keduanya, adalah milik bersama. Sejak saat itu tidak ada perbedaan antara negeri Nusaniwe dan negeri Hitu. Nama gelaran negeri Henalale dinamai Hehahitu dan gelaran negeri Latua dinamai Hehatomu. (Keduanya berada di Uli Nau Binau). Negeri Ureng dan Asilulu sekalipun termasuk dalam kategori uli siwa, tetapi dalam pihak uli lima (dalam martabat negeri Hitu). Perjanjian itu mencakup negeri Alang, Liliboi, Larike, Wakasihu, Asilulu dan Ureng. Nusaniwe merupakan suatu negeri asli di pesisir selatan Ambon, dan salah satu kerajaan pertama di Ambon. Kebangkitan Islam di sana dibendung sejak masa Portugis maupun masa-masa awal kolonialisme Belanda. Hal tersebut juga dilakukan di negeri-negeri lainnya seperti Alang dan Hutumuri.

Mendengar penculikan Sultan Baabullah oleh Portugis, Kimelaha Rubohongi yang merupakan orang dekat sekaligus pembantu utama Baabullah datang ke Ambon beserta keluarganya Kimelaha Haji dan Kimelaha Sakatruna, Kimelaha Kasigu, Kimelaha Jumali, Kimelaha Kulabu, Kimelaha Aja, Kimelaha Basi dan Kimelaha Angsara. Sementara dari pihak Sultan Ternate yang datang adalah Kaicil Cuka, Kaicil Kodrat, Kaicil Abu Syahid, Kaicil Kaba, Kaicil Naya, Kaicil Ici, Kaicil Aya, Kaicil Ali. Sementara dari pihak anggota Kesultanan Ternate yakni raja pertama Kalaudi, Usman, Kabutu Malu, Sagalua, Sibangua, dan Ambalau. Kisah selanjutnya bersumber dari Hikayat Tanah Hitunya Imam Rijali. (Lihat: Kekalahan Mengerikan di Tanah Hitu)

Pembahasan

Pemerintahan Kerajaan Tanah Hitu dipimpin oleh seorang Raja atau Hukom dengan Empat Perdana yang membawahi tigapuluh negeri (gelaran) dengan tujuh punggawa (Pimpinan Uli). Kedudukan Raja atau Hukom sulit untuk dibedakan, karena keterbatasan referensi. Dari kisah yang ternarasikan di atas memperlihatkan peran Hukom Abubakar Nassidik yang begitu besar laiknya seorang raja.

Pergolakan awal leluhur Tanah Hitu melawan Portugis yang dipimpin oleh Hukom Abubakar Nassidik dan Empat Perdana serta ketujuh Punggawanya (lihat: Kekalahan Mengerikan di Tanah Hitu); menggunakan sistem gerilya ditandai dengan mundur disaat terdesak ke Mamala, Ulu Kolol (Ulu Pokol?) akhirnya ke Luciela (daratan Huamual di sebelah Luhu sekarang). Hukom Abubakar Nassidik kembali ke Tanah Hitu untuk mengkonsolidasikan kekuatan dengan membuat basis pertahanan di bukit Hatunuku.

Pertemuan antara Sultan Baabullah dengan empatpuluh orang utusan Empat Perdana dimanfaatkan Portugis untuk membuat opini bahwa penculikan terhadap Sultan Baabullah ini juga dibantu oleh orang Hitu. Kunjungan balasan Hukom Abubakar Nassidik ke Ternate, sepertinya menjadi pencerahan bagi pihak kesultanan Ternate dengan mengirimkan Kimelaha Rubohongi dan keluarganya serta para pangeran (Kaicil) Ternate serta pasukannya untuk menyerang Portugis yang sudah membuat basis pertahanan di Mamala.

Rubohongi merupakan orang kepercayaan dan pembantu utama Babullah. Setelah Babullah dinobatkan sebagai Sultan Ternate, ia mengirim Rubohongi ke Ambon (1570) sebagai Salahakan untuk menggantikan ayahnya, Samarau, yang sudah tua. Di bawah Rubohongi, Ternate berhasil memantapkan posisinya atas Seram, Buru dan sekitarnya. Rubohongi juga berlayar ke Tomimi dan mempersembahkan Teluk Tomimi di Sulawesi Tengah kepada Kesultanan Ternate. Rubohongi mempunyai lima anak: Jumali, Angsara, Kasigu, Dayan, dan Basaib. Jumali, putera pertama Rubohongi, memiliki seorang putera bernama Sabadin, yang menurunkan Majira. Pada masa pemerintahan Sultan Hamzah, Majira menjadi Salahakan, dan melakukan pemberontakan melawan VOC. (Lihat: Hubungan Cerita Sejarah Tanah Hitu di Ambon dan Ternate Bagian Satu).

Perjalanan sejarah kolonialisme  di Maluku, dapat digambarkan dengan video yang berjudul "This is the spice island history according to Indonesia coloniser  history", yang menjelaskan kepentingan bangsa penjajah akan rempah-rempah dimulai dari Banda, Mamala (Ambon) dan Ternate sebagai berikut:





Referensi

Imam Rijali, Hikayat Tanah Hitu, source www.anu. edu. au

Amal Adnan M, Kepulauan Rempah-Rempah, available at
www.batukarinfo.com/system/files/Sejarah%20Kepulauan%20Rempah-Rempah.pdf

Nusaniwe, available at 
http://www.atlasofmutualheritage.nl/en/Noessanive.403p

Hatoenoeko, available at
http://www.atlasofmutualheritage.nl/en/Hatoenoeko.435p

Valentijn F, 
Oud en Nieuw Oost-Indiën: vervattende een naaukeurige en uitvoerige, available at
https://books.google.co.id/books?id=1XtEAQAAMAAJ

Senin, 22 Agustus 2016

Gejolak Perlawanan di Tanah Hitu Tahun 1636-1637





"Berderap Menjejak Perjuangan Leluhur Yang Berjejak"


Crisis and failure: war and revolt in

The ambon islands, 1636-1637

Pendahuluan

Kekayaan orang Maluku tempo dulu banyak menarik perhatian bangsa asing untuk menguasainya dengan berbagai cara. Berbagai cerita sejarah tentang era kolonialisme saat Portugis dan Belanda terekam dalam berbagai buku sejarah baik lokal maupun asing.  Uraian yang dinarasikan dalam topik ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan informasi yang ada dalam berbagai referensi baik yang terdapat di Hikayat Tanah Hitunya Imam Rijali, Lant-Beschrijvinge van Het Ambonse dan De Ambonsche Historie-nya Rumphius, Oud en Nieuw Oost Indien-nya Francois Valentijn serta catatan harian Van Diemen selama ekspedisinya maupun informasi yang diperoleh dari berbagai sumber penting lainnya. Kesemuanya menjabarkan tentang pergolakan perlawanan para leluhur Tanah Hitu khususnya dan kolaborasi perjuangan leluhur dari Ternate, Makassar, Jawa, Banda, Kelang, Manipa, Buru, Hoamoal, Hatuhaha dan Ihamahu umumnya dalam melawan Belanda. (Iha dalam sumber referensi ini disebut sebagai Ihamahu). Terlebih khusus lagi memperlihatkan posisi negeri Mamala dan Halaene (Putra kedua Kapitan Tepil) yang merupakan Hukom di Tanah Hitu yang juga sebagai Raja Mamala.

Bagian utama penjabaran berasal dari tulisan G.Knaab yang berjudul “Crisis and failure: war and revolt in The ambon islands, 1636-1637” ini pernah dimuat dalam majalah “Cakalele, Vol .3 tahun 1992. Tulisannya yang mengacu kepada catatan Van Diemen tentang segala kelemahan dan kekuatan dari perjuangan masyarakat di Hitu, Leitimor, Hoamoal dan Lease pada masa itu, memberikan pelajaran yang amat berharga untuk generasi muda Maluku pada umumnya.

Peta Politik Belanda di Ambon Sebelum 1636

Pada tanggal 14 Januari, 1637, kimelaha Leliato, yang merupakan gubernur dari Temate  yang bertugas (dependensi) di Maluku Tengah,  kembali ke markasnya di Lusiela di Hoamoal dari ekspedisi ke Saparua dengan 30 kora-kora hongi-nya.  Alasan untuk kembali mendadak adalah bahwa ia baru saja menerima pesan dari Buru yang memberitahukan bahwa armada kapal Belanda dalam jumlah besar telah mendekat.  Armada yang berada di bawah komando tertinggi Gubernur Jenderal Anthonie van Diemen, pejabat tertinggi Belanda dalam hirarki  VOC (Verenigde Oost – Indische Compagnie ) di Asia.

Alasan untuk kedatangan Van Diemen di pulau-pulau tersebut adalah karena adanya perlawanan terhadap aturan VOC.  Selama bertahun-tahun, sejak Belanda mengambil alih  pulau-pulau dari Portugis di tahun 1605,  telah ada gencatan senjata dan  tergantung kepada (dependensi) Ternate  di daerah yang sama. Namun, untuk beberapa tahun terakhir VOC dihadapkan dengan berkembangnya oposisi dari wilayah yang terletak antara Temate dan  Belanda.

Akhirnya,  di tahun 1636,  pemberontakan pecah antara penduduk dengan VOC sendiri, penyebab terbesarnya akibat perlakuan  kora - kora di hongi Belanda. Peristiwa antara tahun 1636-1637 adalah krisis  terberat yang  dihadapi  Belanda saat itu.  Peristiwa ini terjadi hampir dua ratus tahun sebelum krisis sebesar itu terjadi lagi yakni pada pemberontakan Pattimura, 1817.

"Peristiwa antara tahun 1636-1637 adalah krisis  terberat yang  dihadapi  Belanda saat itu.  Peristiwa ini terjadi hampir dua ratus tahun sebelum krisis sebesar itu terjadi lagi yakni pada pemberontakan Pattimura, 1817"
Ternate

Ketika Belanda tiba di Maluku sekitar tahun 1600, mereka disambut hangat oleh masyarakat Ternate, baik  di pusat kerajaan di  Maluku Utara serta di kabupaten terpencil, seperti Hoamoal dan kepulauan di sebelah baratnya.  Alasannya adalah adanya persaingan Ternate dengan Portugis, yang telah mengakibatkan perang permanen hampir dari rentang tahun 1570 dan seterusnya. Belanda, yang mereka anggap sebagai musuh bebuyutan dari Portugis dan Spanyol, tampaknya dianggap cukup menjadi sekutu alami untuk Ternate.
 
Gambar 1. Skema Wilayah VOC, Ternate dan Hitu

Ternate ingin dilengkapi dengan baik oleh Belanda untuk menyerang Portugis. Belanda yang pada prinsipnya siap untuk melakukannya,  dengan syarat bahwa mereka diberi hak untuk membeli semua cengkeh yang tumbuh di daerah. Pada tahun 1605, Belanda mengambil alih dependensi (ketergantungan) Portugis di Kepulauan Ambon dan juga menghancurkan benteng-bentengnya di Maluku Utara .

Satu tahun kemudian, pada tahun 1606, Spanyol berhasil menduduki sebagian besar  Ternate. Akibatnya,  Sultan Ternate,  Mudafar,  memperbaharui aliansi dengan Belanda pada tahun 1607, dan  menjanjikan mereka hak eksklusif untuk membeli cengkeh. Atas dorongan Mudafar, pada 1609 ditandatangani sebuah perjanjian antara Hoamoal dan VOC, di mana hak tunggal VOC untuk membeli cengkeh di daerah itu.

Setelah beberapa waktu berlalu, kesenjangan yang semakin lebar tumbuh antara Belanda di satu sisi, menuntut semua cengkeh, dengan produsen adat yang menuntut harga lebih tinggi di sisi lainnya. Beberapa produsen di Hoamoal diam-diam menjual sebagian hasil panen mereka ke Jawa dan pedagang lainnya, yang siap untuk membayar lebih besar dan untuk menawarkan barang dagangan yang lebih baik  daripada Belanda.

Belanda bereaksi dengan mencegat  Jawa dan kapal  dagang  lainnya dengan alasan mencoba untuk mencegah "penyelundupan" cengkeh. Proses polarisasi ini mengancam posisi kimelaha berturut-turut, yang bukan dari Hoamoal tetapi dari anggota keluarga bangsawan Tomagola dari Ternate. (Lihat Hubungan sejarah Tanah Hitu di Ambon dan Ternate bagian-1).

Mereka harus memilih antara loyalitas terhadap Sultan mereka sendiri atau mendukung masyarakat mereka di Hoamoal.  Akibatnya,  selama pemerintahan kimelaha Sabadin, antara tahun 1611-1619, ada upaya  dari masyarakat untuk menyingkirkan penguasa Ternate. Selain itu, kimelaha juga terancam oleh Belanda, yang mempertanyakan klaim Temate untuk sebagian besar dari Kepulauan Ambon dalam rangka untuk mendapatkan legitimasi tambahan untuk intersepsi mereka dari pedagang asing. Selanjutnya, VOC menghambat kimelaha ini dengan kebijakan Islamisasi, khususnya pada Seram daratan.

Selama pemerintah kimelaha Hidayat, pada tahun 1619-1623, otoritas lokal Ternate di Kepulauan Ambon memilih kebijakan anti-Belanda yang jelas. Namun, belum ada pertempuran yang sebenarnya antara kekuatan kimelaha dan Belanda.  Hal Ini berubah setelah Leliato berhasil menjadikan Hidayat sebagai kimelaha pada tahun 1623. (Lihat: Hubungan Cerita Sejarah Tanah Hitu di Ambon dan Ternate bagian Satu).  Setelah lebih dari satu tahun insiden kecil, Belanda meluncurkan serangan dengan skala penuh pada posisi  kimelaha pada tahun 1625. Pasukan VOC lokal dan hongi Ambon Kristen yang  diperkuat oleh kapal-kapal  yang disebut armada " Nassau ".

Benteng utama kimelaha ini, Gamasongi, cepat dibanjiri oleh Belanda, mereka juga menghancurkan puluhan ribu pohon cengkeh, sejumlah negeri, dan banyak kapal laut  yang hancur. Namun, Leliato dan pasukannya mundur, menunggu kesempatan lebih baik.

Satu tahun kemudian, tahun 1626, Leliato dan Belanda sepakat mengadakan gencatan senjata. Pada waktu yang sama, Leliato mulai membangun markas baru di Lusiela. Pada tahun 1628 , dengan bantuan kaicili Ali dari Temate, perdamaian secara resmi dipulihkan, yang pada kesempatan itu VOC diberikan hak lagi untuk membeli semua cengkeh. Anggota lain dari keluarga Tomagola, yang bernama Luhu, dinominasikan sebagai kimelaha baru tapi Leliato menolak untuk menyerahkan posisinya dan tetap pada Hoamoal.

Kimelaha Luhu dan Leliato sepakat untuk memerintah Hoamoal dan sekitarnya bersama-sama . Akibatnya, perdagangan asing yang merusak monopoli Belanda seperti mendapat tenaga baru. Belanda kembali intersepsi kebijakan mereka sehingga pada akhir tahun 1632, terjadi perang antara Hoamoal dan VOC itu sekali lagi, dengan kedua belah pihak saling serang dengan hongi masing-masing.

Dengan pengecualian bagian dari negeri Luhu, jajaran Hoamoal tertutup sepenuhnya di belakang Leliato. Pada tahun 1635, VOC melancarkan serangan skala penuh pada Lusiela, namun upaya itu gagal. Para pemimpin ekspedisi Belanda dikatakan telah memilih rute yang buruk dalam serangan mereka, di mana sekitar 400 pejuang Makassar dipersenjatai dengan senjata api membantu Leliato . Dalam tahun yang sama kimelaha Luhu mengundurkan diri sementara ke Ternate, meninggalkan Leliato untuk menangani perkembangan yang dramatis.

Hitu

Wilayah Islam antara  VOC dan kimelaha meliputi  Hitu, Hatuhaha dan Ihamahu. Hitu adalah yang paling penting, yang lebih kurangnya merupakan wilayah yang independen. Menurut perjanjian menyimpulkan antara mereka dan Belanda, di atas kertas mereka bisa dianggap sebagai hampir bawahan atau negara "satelit". Mereka berjanji kepada Belanda untuk memberikan monopoli cengkeh dan menyetujui layanan kerja wajib. Selain itu, mereka mengambil sumpah ketaatan ke  Jenderal Republik Belanda, Pangeran Orange, dan Gubernur VOC di Ambon. Dalam masalah internal untuk administrasi, peradilan, atau agama , mereka sepenuhnya bebas.  Meskipun menurut Belanda, entitas ini masih bertindak cukup mandiri dalam hal-hal praktis mengenai  kebijakan luar negerinya.
 
VOC mendirikan pos di Mamala, di pantai utara pulau Ambon, pada awal tahun 1601. (Lihat: Hubungan Cerita Sejarah Tanah Hitu di Ambon dan Ternate bagian dua). Kota ini membuat tembikar, dan bersama-sama dengan Hitu lama adalah salah satu pusat perdagangan yang paling aktif di wilayah Hitu di semenanjung Ambon bagian utara. Seperti Ternate, Hitu telah menyambut hangat Belanda karena sentimen anti-Portugis mereka. Selama pemerintahan Kapitan Hitu Tepil, 1602-1633, hubungan Belanda-Hitu  cukup baik, antara lain karena Tepil dirinya menyadari bahwa kekuatan militer Eropa adalah sebuah fenomena yang mungkin berakibat fatal untuk setiap negara adat yang menantang itu. Dia telah mengalami ini sendiri, ketika Hitu telah menderita kekalahan mengerikan dari pasukan ekspedisi Portugis di bawah komando Andrea Furtado de Mendonya.(Lihat: Kekalahan Mengerikan di Tanah Hitu)

Belanda  melihat Tepil sebagai orang yang berpengaruh yang sangat diperlukan untuk kerjasama menjaga stabilitas daerah. (Lihat: Mamala-Amalatu Markas VOC pertama di Ambon). Meskipun ada situasi yang bisa dengan mudah memprovokasi konflik terbuka antara Hitu dan VOC,  seperti harga cengkeh, kebebasan akses  dari pedagang Asia asing, dan kontrol atas sejumlah negeri-negeri di bagian barat dari pulau Ambon,  seperti  Larike, Wakasihu, Tapi, uring, dan Asilulu, umumnya hubungan tetap ramah. Sekitar tahun 1630, bagaimanapun, Kebijakan Tepil ini kadang  dipertanyakan oleh banyak orang Hitu, khususnya dengan negeri-negeri di bagian timur dari Hitu,  yang berkumpul di Kapahaha yakni Samusamu, yang merupakan anggota elit Hitu lainnya. (lihat Catatan di bawah tentang Halaene sebagai Raja Mamala)

Karena kepentingan strategis dan ekonominya,  Belanda terus mencermati Hitu, dan menggunakan setiap kesempatan untuk memperoleh lebih banyak pengaruh dalam urusan internal Hitu. Langkah ini khususnya terjadi setiap kali anggota dari elit penguasa meninggal dan penggantinya harus dinominasikan oleh Belanda.


Gambar 2. Silsilah Klan Nusatapi

Catatan:

Sebelum meninggalnya kapitan Tepil. Anak keduanya yang bernama Halaene telah meninggal lebih dahulu akibat diracun sekitar tahun 1630 (Hikayat Tanah Hitu). Halaene menurut LantBeshriving-nya Rhumpius disebut sebagai Hukom di Tanah Hitu, juga sebagai Raja Mamala (Raja Halauw).  Keterangan mengenai Halaene sebagai raja Mamala juga dijelaskan di Oud en Niew Oost Indiest nya Francois Valentijn, dimana saat Halaene sebagai Raja Mamala, Samusamu merasa tersinggung. Tetapi pada saat meninggalnya Halaene karena diracun Samusamu sangat bersedih. Uraian tentang hal ini tergambar di Hikayat Tanah Hitu sebagai berikut:

"Serta kehendak Allah ta`ala, kemudian daripada Arinjiguna* itu Unus Halaene akan hukum. Ialah bengis di tanah Hitu serta kelakuannya, karena adatnya raja ada kepadanya dan adat bendahara pun ada kepadanya. Dan kelakuan hulubalang pun ada kepadanya, karena ia berjalan atau duduk serta senjata tiada boleh meninggalkan dia dan syaudagarnya pun sangat serta murahnya tangannya. Seorangpun tiada sebagainya di tanah Ambon."
"Alkissah peri mengatakan sekali perastawa perdana Kapitan Hitu pada suatu ketika ia duduk, maka ihtiar sendirinya, demikian katanya: ‘Ada pun aku ini sudah tuah. Siyapa tempat kuserahkan tanah ini?’ Lalu diserahkan kepada orangkaya Samu2 menunggu tanah Hitu serta orangkaya Bulan, keduanya memerintahkan tatkala perdana Kapitan Hitu lagi dalam negeri Betawih. Hatta datang musim perdana pun pulang, maka suatu tiada fitnah dalam tanah Hitu. Apabila datang suatu fitnah daripada negeri yang lain bagi Islam atau Nasrani, melainkan hukum Halaene juga tiada mau kecewa kepada nama tanah Hitu. Daripada ialah orang Wolanda itu tiada dapat melakukan kehendaknya kepada tanah Hitu pada zaman itu. Hatta berapa lamanya apa2 kehendaknya, maka ia datang kepada gurendur endak mengatakan kepadanya. Maka datang kehendak Allah ta`ala kepada seorang perempuan bedzebai, artinya celaka, memberi racung kepadanya. Maka ia tiada boleh tahan dirinya lagi, lalu ia kembali sehingga datang ke negeri. Masya Allah ia meninggal kepada darulfanah datang kepada darulbaka, yakni meninggal kepada dunia datang kepada akhirat. Maka dipeliharakan serta adat sehingga datang seratus harinya. Maka dinaikan kepada Kakiyali akan hukum, maka ia kedua orangkaya Samu2 keluar serta dengan angkatan melepaskan dukacittanya. Karena istiadat orang besar yang ternama, apabila ia mati tiada boleh masuk esukaan dan beramai-ramaian atau bunyi-bunyiandalam negeri, melainkan alah sebuah negeri atau keluar arta daripada takluknya sekalian; kemudian daripada itu, maka bersuka-sukaan serta beramai-ramaian dan bunyi-bunyian dalam negeri itu."

Pada saat keputusan Landdag tahun 1637 antara Kapitan Hitu, Kakiali dengan Belanda (lihat gambar 5). Nama Raja Mamala tidak disebut. Pada masa tersebut anaknya Halaene masih kecil, dan yang memegang kendali pelaksana pemerintahan adat di sana saat itu adalah Upu Bagae dan selanjutnya dipegang secara resmi oleh Kakipati yang secara adat adalah Raja Mamala sampai tahun 1704. Pengganti Kakipati berikutnya disebut adalah cucu dari Halaene yang sudah bermarga Malawat. Asal kata Malawat berasal dari kata Maulana Salawat, untuk mengenang ayah dari Halaene yakni Kapitan Tepil yang mempunyai panggilan lain sebagai Maulana Salawat (Beliau disebut demikian karena selalu bersalawat nabi diberbagai kesempatan).

Sebagai tambahan hubungan kekerabatan saat itu. Selain mempunyai hubungan kekerabatan dengan Hila, Mamala mempunyai hubungan dengan Soya dan Luhu, yakni adik-adik perempuannya Halaene, ada yang menikah dengan Raja Soya dan juga Kiemelaha Luhu.
   
Gambar 3. Keterengan mengenai Halaene sebagai Raja Mamala (sumber: Valentijn)

Gambar 4. Keterengan mengenai Halaene sebagai Raja Mamala (sumber: Rumphius)
   
Kesempatan Belanda ini muncul dengan sendirinya pada saat kematian Tepil pada bulan April 1633. Menurut Rumphius, yang almarhum lebih sukai sebenarnya adalah adiknya, Latu Lisalaik, sebagai penerusnya, pendapat yang tampaknya sejalan dengan pola dalam Hikayat Tanah Hitu. Namun, untuk menghindari konsentrasi kekuasaan lebih lanjut di tangan satu orang, Belanda berhasil membagi fungsi Tepil ini kepada tiga pesaing utama untuk suksesi yakni Latu Lisalaik menjadi kepala negeri Hila saja, sedangkan saudaranya yang lain, Barus, menjadi Kepala klan Nusatapi, yang secara otomatis membuatnya menjadi salah satu dari Empat Perdana yang secara tradisional memerintah negara itu. Akhirnya, anak tertua Tepil yang masih hidup ini, Kakiali, menjadi Kapitan Hitu. Posisi Kapitan Hitu adalah yang paling bergengsi dan berpengaruh di Hitu.

Kakiali segera menjadi plot anti-Belanda, bekerja sama dengan kimelaha dan menaruh harapan pada koalisi yang kemudian dengan cepat menambah kekuatan  dengan kesultanan Makassar. Dalam rangka untuk menghentikan perkembangannya, pada bulan Mei 1634 Gubernur Anthonie van den Heuvel melakukan  penangkapan kepada dua belas pemimpin terkemuka dari Hitu, termasuk Kakiali. Kakiali dituduh mencoba untuk bergabung dalam koalisi anti-Belanda. Dalam beberapa hari, semua pemimpin yang ditangkap,  dibebaskan dengan pengecualian Kakiali dan Tamalesi, pemimpin negeri Wakal. Kakiali dan Tamalesi dimasukkan di penjara. Pada tahun 1636 mereka diangkut ke Batavia.  Sementara, karena kebencian pada intervensi Belanda meningkat, hampir seluruh tanah Hitu berdiri untuk melawan Belanda.

Apa yang terjadi di Hitu pada saat ini merupakan perkembangan dramatis  di wilayah VOC sendiri. Kakiali dan Tamalesi masih menjadi tawanan. Saingan utama Kakiali, adalah Kayoan, Perdana Tanahitumesen yang dinominasikan sebagai Kapitan Hitu sementara, pergi ke Batavia untuk mencoba untuk melepaskan Kakiali. Kayoan melakukannya karena ia menyadari bahwa pembebasan Kakiali adalah satu-satunya cara untuk memulihkan persatuan dan perdamaian di Tanah Hitu. Namun, ketika Kayoan kembali ke Ambon pada awal tahun 1636, sekali lagi dia dinominasikan sebagai Kapitan Hitu, kali ini oleh Gubernur sendiri.

Fakta mengejutkan lainnya adalah upaya menominasikan Latu Lisalaik, yang sudah memegang gelar kehormatan 'orangkaya' Bulang, untuk menjadi Perdana Nusatapi, yang sudah di tempati oleh saudaranya Barus. Latu Lisalaik adalah sama sekali tidak senang dengan penunjukan barunya; ia secara terbuka menolak untuk menerimanya. Dalam percakapan dengan otoritas lokal VOC pada akhir April ia menyatakan bahwa Gubemur Jenderal tidak memiliki hak untuk mencalonkan keanggotan pemerintahan di Hitu, hanya karena ia sendiri tidak memiliki hak untuk mempromosikan Gubernur Belanda Ambon menjadi raja. Dengan pengecualian dari para pengikut terdekat dari Tanahitumesen dan Latu Lisalaik, populasi Hitu tetap di kubu pedalaman dan tidak ingin ada hubungannya dengan Belanda. Menjelang akhir tahun 1636, Latu Lisalaik memimpin delegasi kedua dari Hitu ke Batavia untuk membebaskan Kakiali.

Bagian kedua tahun 1636 ini memperlihatkan Belanda dan sejumlah kecil sekutunya terus mempertahankan diri melawan tindakan ofensif dari musuh-musuh mereka. Tindakan ini biasanya berupa pengacauan,  serangan frontal yang hampir tidak pernah diduga. Di Hitu dan di Leitimor, hal tersebut  tetap tidak berubah. Hitu dan Leitimor keduanya mengharapkan pengadaan bubuk senjata dan dukungan lainnya dari Kimelaha,  sementara pada saat yang sama berusaha untuk tetap se-independen mungkin. Para kepala Leitimor mengunjungi Lusiela, tapi rupanya tidak bersumpah untuk setia kepada kimelaha tersebut. Leliato tampaknya telah menyadari hal ini, karena dalam sebuah surat kepada orang-orang Kristen ia meminta mereka untuk menyingkirkan Belanda, tidak menjadi subyek dari orang lain, tetapi untuk menjadi  orang bebas,  dan bertindak menurut keinginan mereka sendiri. Demikian juga, baik Leitimor dan sejumlah besar Hitu menolak untuk memberikan cengkeh mereka untuk Leliato. Sebaliknya, mereka terus menimbunnya di gudang, dengan harapan ada perubahan dari Belanda. Pada permulaan tahun 1637 Van Diemen datang di Kepulauan Ambon dengan armada tujuh belas kapal besar yang membawa sekitar 2.000 pelaut dan tentara.

Van Diemen di Ambon

Van Diemen tiba di Maluku Tengah, yakni di pulau Buru, pada tanggal 13 Januari setelah  pelayaran selama  dua minggu. Dan setelah lima hari kemudian armada mencapai Tanjung Sial, titik selatan Hoamoal. Pada saat itu, Van Diemen telah memutuskan untuk membuat serangan langsung di Lusiela. Para tentara yang akan dikerahkan terhadap benteng kimelaha ini diinstruksikan untuk mengikuti perintah dari perwira mereka, untuk tidak meninggalkan pasukan. Penjarahan, pembakaran, pembunuhan, dan pemerkosaan secara eksplisit dilarang dan akan dihukum mati, kecuali petugas diberi izin untuk melakukannya. Di malam hari tanggal 19 Januari, armada berlabuh di Lusiela, yang benar-benar kompleks terdiri dari beberapa benteng pada tingkat yang berbeda. Sebuah pasukan pengintai dikirim keluar untuk menemukan situs pendaratan yang tepat.  Sementara itu, Belanda menyaksikan kegiatan besar di sekitar Lusiela yang disebabkan oleh orang-orang yang mencoba untuk melarikan diri

Keesokan harinya, pada tanggal 20 Januari setelah sarapan dan diberkati oleh Pendeta, dengan kekuatan 1.525 orang turun di pantai sekitar satu setengah jam  dari Lusiela. Para pejuang, yang sedikit jumlahnya, sekitar beberapa ratus orang saja, merespons cepat dengan menembakkan meriam dan senapan, menembak panah, dan tombak dan batu, tetapi tidak mampu menghentikan Belanda. Setelah Belanda berhasil memanjat dinding benteng terendah dengan tangga bambu, semua pejuang mundur  ke daratan.  Dalam waktu lima jam keperkasaan Lusiela telah jatuh. Di dalam benteng, Belanda hanya menemukan dua mayat musuh  serta sekitar 20 buah artileri ringan dan 3000 lbs. mesiu. Sementara, ada yang menyebutkan dari dua tawanan tersebut , satunya adalah seorang wanita, dan 125 kapal, sebagian besar dari mereka, ditangkap pada pantai. Kecuali satu dari kapal ini hancur untuk digunakan sebagai kayu bakar. VOC telah menderita 10 tewas dan 38 luka-luka, beberapa dari mereka yang luka-luka kemudian menyerah. Pada hari kemenangan, Belanda sibuk menghancurkan bagian dari benteng dan menghancurkan daerah sekitarnya, khususnya perkebunan cengkeh. Pada tanggal 27 Januari, Van Diemen meninggalkan Lusie!a, meninggalkan  garnisun 400 tentara dan lima kapal besar di dermaga tersebut

Armada butuh tiga hari untuk mencapai benteng Victoria di Kota Ambon. Setelah penerimaan oleh pejabat tertinggi VOC  dan pemeriksaan garnisun dan milisi, Van Diemen menetap sendiri di benteng. Dia menemukan ada beberapa kepala negeri dari Leitimor dan bagian tenggara dari semenanjung Hitu. Sekitar satu minggu sebelumnya, Gubernur van Deutecom telah memerintahkan pejuang dari negeri Kristen turun dari benteng-benteng mereka untuk mendapat pengampunan dari Gubernur Jenderal. Namun , tak ada tanggapan. Pada tanggal 6 Februari sebelum pesan datang dari pejuang Leitimor . Dikatakan bahwa para  pemimpin dari Soya, Kilang, Ema, dan Urimesen berkumpul di Soya  mereka menyatakan akan turun, tapi mereka membutuhkan waktu. Pada hari yang sama, seorang utusan dari negeri Hatiwe kembali dari Lilibooy dan Alang. Dia tidak bisa membuat hubungan kontak yang baik.

Pada tanggal 25 April, Van Diemen tiba di Hitu. Di Hitu, lawan VOC ini telah menyiapkan diri di dua tempat, Wawani dan Kapahaha. Paling anti-Belanda adalah mereka dari Wawani, yang terdiri dari uli dari Nau-Binau, Leala, dan Hatunuku, dan bagian dari Sawani. Di Kapahaha terkonsentrasi orang-orang dari uli Saylesi, yang lebih mengupayakan rekonsiliasi dengan Belanda daripada Wawani. Dari awal krisis, Wawani telah menuntut pembebasan Kakiali dan Tamalesi sebagai prasyarat untuk negosiasi lebih lanjut. Akhirnya, Belanda memutuskan untuk menggunakan umpan ini. Akibatnya, Kakiali, yang telah kembali dengan Van Diemen dan telah sekali lagi menawarkan kerjasama untuk menenangkan Hitu, Kakiali dengan Tamalesi diangkut dari Victoria ke Hila satu hari sebelum Van Diemen tiba di sana. Melalui Latu Lisalaik, para pemimpin  dari Wawani mengirim kabar bahwa mereka siap untuk bertemu dengan Van Diemen. Kakiali dan Tamalesi yang dibebaskan pada  tanggal 26 April, mereka berangkat segera ke Wawani, di mana semua kepala negeri berkumpul untuk mempersiapkan delegasi kepada Gubernur Jenderal. Tamalesi juga membantu dalam melibatkan Kapahaha dalam proses perdamaian. Akhirnya, pada tanggal 3 Mei, delegasi dari Wawani dipimpin oleh Barus, bertindak perdana Nusatapi, menemui Van Diemen di Hila. Pada kesempatan itu diputuskan bahwa Hitu juga akan berpartisipasi dalam landdag di benteng Victoria yang dijadwalkan setiap bulan. Hari berikutnya, Van Diemen berangkat dari Hila, dengan membawa Kakiali, yang pembebasan resminya harus menunggu landdag.

Setelah kunjungan singkat ke Larike, Gubernur Jenderal tiba di benteng Victoria pada tanggal 5 Mei. Pada tanggal 16, Van Diemen membuka landdag, dengan kehadiran sebagian besar kepala negeri dari Ambon dan Lease yang telah berkumpul di Kota Ambon di benteng Victoria. Di hari pertama,  semua hal-hal mengenai orang-orang Kristen dari pulau Ambon diselesaikan, dengan pengecualian orang-orang dari Alang, yang masih menentang rekonsiliasi, sedangkan Lilibooy telah membuat perdamaian dengan VOC di pertengahan April. Pada sesi kedua landdag, yang berlangsung pada tanggal 18, semua hal yang menyangkut Kepulauan Lease dan pantai Seram Selatan dimasukkan dalam agenda. Pada kesempatan ini, penduduk dijanjikan bahwa layanan pada hongi akan terbatas pada jangka waktu maksimum lima minggu setahun. Jika itu perlu untuk mendayung lagi, mereka akan dibayar untuk itu. Pada hari yang sama kaicili Sibori tiba dari Hoamoal. Dia dihadapkan dengan pertanyaan apakah negeri-negeri Islam Ihamahu, Hatuhaha, dan Latu dan Hualoy di Seram tunduk untuk monopoli cengkeh dan kerja wajib untuk VOC. Pertanyaan ini diajukan oleh Van Diemen karena negeri bersangkutan telah menyatakan ketidaktahuan mereka tentang kepada siapa mereka tunduk untuk: Sultan atau VOC.  Sibori menjawab bahwa itu adalah keinginan dari Sultan Ternate kepada negeri-negeri untuk taat kepada Gubernur Ambon dan tidak mengindahkan kimelaha.

Pada sesi ketiga pada tanggal 19 Mei, orang-orang Kristen dari pulau Ambon Gubernur Jenderal, menyerahkan petisi lebih di mana mereka bertanya, antara lain, untuk pembayaran kora-kora, penurunan kerja wajib, dan perlakuan lebih baik pada saat hongi, selain untuk jaminan tanah dan hak memancing mereka di sekitar Kota Ambon. Van Diemen blak-blakan menolak setiap kompensasi untuk pembayaran kora-kora, tetapi  waktu untuk hongi dibatasi maksimal hanya lima minggu, seperti yang telah dilakukan pada Lease. Dia berjanji untuk melarang penganiayaan pada saat hongi dan menyarankan para kepala negeri untuk menyuarakan keluhan mereka jika ini pernah terjadi lagi. Akhirnya, Van Diemen berjanji untuk menarik lebih banyak peraturan tentang memancing dan hak tanah. Selain menanggapi permohonan ini, Van Diemen memerintahkan penutupan semua sekolah negeri Kristen. Semua Leitimor yang ingin pendidikan agama untuk anak mereka harus mengirimnya ke sekolah di Kota Ambon. Para kepala negeri menunjukkan diri tidak  senang dengan kebijakan Van Diemen yang baru tentang  agama. Tiga hari kemudian, pada tanggal 22 Mei, semua kepala dari Ambon dan Lease, dengan pengecualian dari orang-orang Hitu, yang belum hadir, Dengan sumpah setia kepada Republik Belanda dan VOC. Sumpah orang Kristen diambil dari Alkitab, sedangkan umat Islam mengambil mereka dari Al-Quran

Sementara itu, belum ada kemajuan dalam hubungan antara Hitu dan Belanda. Pemimpin utama tidak menunjukkan kecenderungan untuk mengunjungi Gubernur Jenderal di Victoria. Oleh karena itu, pada tanggal 20 Mei, Van Diemen memutuskan untuk memberikan Kakiali kebebasan penuh. Kakiali diberi sambutan hangat oleh para pengikutnya dan kembali ke Wawani, dan pemimpin di sana membuat resolusi akhir untuk menghadiri landdag . Pada tanggal 31 Mei, Kakiali menghadiri  landdag, memimpin delegasi dari 100 orang, tidak hanya dari Hitu itu sendiri tetapi juga dari uring, Asilulu, Wakasihu, TAPI, Alang, dan Lilibooy. Kedua belah pihak dengan cepat setuju untuk memulihkan perdamaian dan memperbaharui perjanjian tua.(Lihat: Hubungan Cerita Sejarah Tanah Hitu di Ambon dan Ternate bagian dua). Belanda dijanjikan monopoli dalam cengkeh, yang berarti orang Hitu harus menahan diri dari mengakui pedagang asing untuk pantainya. Sebaliknya Van Diemen memperbolehkan Hitu untuk mengembalikan pemerintahan tradisional. Kakiali menjadi Kapitan Hitu sekali lagi. Kayoan, perdana Tanahitumesen, kehilangan posisi Kapitan Hitu dan diberi kehormatan dengan sebutan 'orangkaya' tua sebagai  gantinya. Barus secara resmi dikembalikan sebagai perdana Nusatapi di tempat yang lama dan Latu Lisalaik yang sakit,memilih untuk tidak ingin posisi ini pula. Soulisa adalah perdana Totohatu dan Beraim-ela perdana Patih Tuban. Hitu  menyatakan bahwa mereka adalah teman dan bukan subyek dari Sultan Ternate dan bahwa mereka tidak memiliki klaim ke negeri-negeri dari uring, Asilulu, Larike, Wakasihu, TAPI, Alang, dan Lilibooy. Pada bulan Juni, baik Hitu dan sekutu mereka dari negeri terakhir bersumpah setia kepada Belanda. Akhirnya, Gubernur VOC yang baru bernama Johan Ottens, mengambil sumpah bahwa ia akan melindungi dan mengakui jika orang Hitu sebagai teman sejati dan sekutu Republik Belanda
 
Gambar 5. Struktu pemerintahan Tanah Hitu tahun 1637 (Sumber: Rhumpius)

Gambar 6. Struktur pemerintahan Adat Tanah Hitu (lanjutan)

Setelah Van Diemen meninggalkan Hoamoal pada tanggal 24 April, kaicili Sibori mencoba  untuk bekoordinasi dengan kimelaha Leliato. Sekitar satu minggu kemudian, Sibori melapor kepada Van Diemen bahwa ia telah menyerahkan surat Sultan untuk Leliato dan pengikut utamanya, yang datang ke Luhu untuk tujuan itu pada tanggal 29 April.  Sibori tidak berhasil untuk membujuk Leliato untuk menghadiri landdag di Victoria. Sibori juga tidak berhasil dalam usahanya untuk melarang pedagang asing yang dependensi Ternate. Oleh karena itu, Sibori percaya bahwa satu-satunya obat untuk memperbaiki situasi tersebut adalah aksi militer. Kimelaha menunjukkan dirinya kurang cenderung untuk menyerah lagi karena dia sekarang dibantu oleh ratusan orang asing bersenjata , yang telah tiba selama beberapa bulan terakhir. Satu-satunya hal yang Sibori mampu lakukan untuk saat ini adalah untuk memiliki pemimpin Luhu dan sejumlah negeri di bawahnya untuk mengucapkan sumpah setia kepada Belanda pada tanggal 2 Juni. Pada hari yang sama, yakni pada sesi kesembilan, landdag itu resmi ditutup , dan hadiah  dibagikan kepada orang-orang yang memiliki paling banyak bantuan kepada Van Diemen dalam menetapkan peraturan. Penghargaan terbesar diraih oleh Luis Gomes , kepala Mardika , juara kerjasama dengan Belanda. Pada tanggal 4 Juni , Van Diemen berangkat dari Victoria , berlayar ke Batavia

Epilog dan Kesimpulan

Van Diemen sepenuhnya menyadari fakta bahwa proses perdamaian hanya berkembang di tengah jalan. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk kembali ke Ambon tahun depan, ia berharap untuk bertemu Sultan Hamzah dari Ternate. Dia berpendapat bahwa masalah dalam dependensi Ternate hanya bisa diselesaikan melalui intervensi pribadi dari Sultan, karena kimelaha dan para pengikutnya tidak menunjukkan diri cenderung untuk mendengarkan  utusan dari Sultan. Akibatnya, Van Diemen mengundang Sultan datang ke Kepulauan Ambon tahun depannya. Pertemuan antara Gubernur Jenderal dan Sultan berlangsung sesuai rencana, dan dependensi Ternate yang diredakan saat itu. Namun, dalam waktu lima tahun perang skala besar pecah lagi, khususnya dengan Hitu, di mana Kakiali mencoba untuk menyingkirkan Belanda dengan bantuan Makassar.  Luhu, yang akhirnya menggantikan Leliato sebagai kimelaha, mencoba mengikutinya dalam hal ini, tapi mengalami kerugian karena kurangnya dukungan dari rakyatnya. Meskipun dengan bantuan Makassar, Kakiali   di Hitu kehilangan keduanya baik dalam hal perang dan kemerdekaannya. Mengenai dua wilayah lainnya antara alam Temate dan Belanda, dapat dikatakan Hatuhaha yang berhenti untuk bertindak secara independen setelah ekspedisi Van Diemen yang dijelaskan di atas.  Ihamahu diam sampai 1650-an, ketika bekerjasama dengan penerus kimelaha Luhu, Majira, yang menganut kebijakan yang sama seperti Kakiali. Pada tahun 1651, Majira bergabung dengan pemberontakan terhadap Sultan Mandarsyah di Ternate yang terinspirasi oleh  sentimen anti-Belanda. Namun, Majira dan sekutu-sekutunya dari Makassar yang kalah. Akibatnya, semua yang Ternate dependensi di Kepulauan Ambon secara tegas dimasukkan ke dalam wilayah Belanda pada tahun 1656. peran independen lhamahu ini sudah tidak ada lagi, ketika negeri ini  melarikan diri dari benteng pada Saparua ke  Seram Selatan di tahun 1653. (Lihat: Hubungan Cerita Sejarah Tanah Hitu di Ambon dan Ternate bagian satu)

Faktor-faktor apa yang menyebabkan Van Diemen menjadi sukses dan musuh-musuhnya   dihadapkan dengan kegagalan? Dalam publikasi beberapa tahun sebelumnya, G.Knaab menyebutkan empat alat utama kekuasaan Belanda selama periode tahun 1656 tersebut, periode dimana Kepulauan Ambon yang dengan tegas dimasukkan ke dalam bagian VOC, berikutnya : (A) mengamankan dominasi militer; (B) lokasikan penduduk di tempat yang mudah dikontrol ; (C) Memanfaatkan perpecahan dalam masyarakat adat ; (D) membangun tingkat konsensus tertentu dengan setidaknya beberapa bagian dari populasi subjek ( Knaap 1987a : 29-33 ) . Selama krisis pertengahan 1630-an , semua faktor ini nampak baik  atau setidaknya sudah muncul .

Sejauh situasi militer memprihatinkan, jelas bahwa garnisun VOC setempat, yaitu sekitar 500 orang, tidak mampu mengatasi krisis dengan serius jika hongi tidak tersedia untuk mengambil tindakan. Dalam kasus tersebut, tambahan Pasukan harus dimobilisasi dari Batavia untuk menyelamatkannya. Ini adalah apa yang terjadi dalam kasus Van Diemen ini. Melalui kombinasi yang sebenarnya pertempuran dan penggunaan ancaman kekuatan, menetralkan sebagian besar resistensi. Fakta bahwa Belanda memiliki tentara dan angkatan laut berarti mereka memiliki keunggulan yang jelas atas kimelaha. Sistem pertahanan Leliato terdiri dari dua elemen. Pertama, ia mengerahkan populasi yang dependensi Temate untuk hongi atau untuk membangun dan mempertahankan benteng nya. Kedua, ia menerima bantuan dari pedagang Asian asing. Namun, kedua elemen tersebut memiliki kekurangan. Populasi dependensi nya tidak bisa dimobilisasi untuk jangka waktu lama. Sebagus-bagusnya, mereka berfungsi sebagai milisi selama beberapa bulan. Para pedagang asing bukan kekuatan permanen yang baik; setelah beberapa bulan mereka berlayar, mereka akan kembali ke kampung halamannya. Selain memiliki tentara tetap dan angkatan laut, VOC juga lebih siap. Kapal besarnya merupakan rintangan yang hampir tak dapat diatasi dengan kora-kora. Selanjutnya, Belanda memiliki senjata yang lebih kecil dan lebih artileri (lincah dan kuat).

Pada tahun 1637, kebijakan penempatan penduduk di tempat-tempat yang mudah diakses untuk kontrol belum sepenuhnya terwujud. Seperti yang telah kita lihat, ini adalah salah satu tujuan yang jelas  dari Van Diemen di Lei timor, Hitu, dan Haruku. Yang akhirnya tercapai selama perang tahun 1640-an dan 1650-an. Faktor ketiga, membagi dan membuat aturan, juga terlihat jelas, meskipun Situasi belum semaju selama paruh abad tersebut, hampir setiap kesatuan negeri otonom dihapuskan. Pada tahun 1637, Belanda masih mentoleransi prinsip kekuasaan pusat untuk Hitu dan belum mempertanyakan prinsip semacam kemaharajaan Ternate di Hoamoal dan pulau-pulau di sebelah baratnya. Sebaliknya, divisi yang sudah ada di Hitu dan dependensi Ternate yang bersemangat, dimanfaatkan untuk melemahkan front anti-Belanda. Elemen keempat dan terakhir, membangun konsensus dengan bagian dari populasi, adalah faktor yang jelas rusak selama pertengahan tahun 1630. Agama Protestan khususnya, tidak terbukti menjadi semen yang mempererat antara pembuat aturan dan yang diatur  bersama-sama di Leitimor dan Lease. Ambon Protestan masih baru dan hanya nominal ditaati. perlakuan kasar, serta kerja wajib berlebihan dan memberatkan, telah meletakkan terlalu banyak tekanan pada  solidaritas antara penguasa dan masyarakat.

Akhirnya, topik kesatuan atau perpecahan di antara orang Ambon, termasuk kerajaan Ternate, harus ditinjau. Pertama,dapat dikatakan bahwa aturan Ternate adalah relatif baru dan akibat kurang berakarnya dari yang diharapkan. Fakta bahwa potensi militer kimelaha sendiri yang relatif lemah membuat legitimasi dan konsensus  penting dalam kelangsungan hidup politiknya. Jelas bahwa Leliato memiliki masalah dengan legitimasi, karena Sultan Ternate tidak memberikan dia dukungannya. Sejauh konsensus yang bersangkutan, bisa dikatakan bahwa ia didukung oleh populasi Hoamoal dan pulau-pulau di sebelah barat itu, karena ia telah menganut aspirasi yang sama dalam penentangan terhadap Belanda mengenai monopoli cengkeh, gangguan dalam pergerakan perdagangan bebas dan pengiriman, dan, sampai batas tertentu, diskriminasi Belanda melawan Islam. Faktor-faktor ini membuat basis kekuasaannya rapuh. Karena itu, pada saat-saat tertentu dalam waktu yang sama, sejumlah besar subyek harus dipilih. Jika itu tidak Luhu, maka itu Kambelo; jika tidak Kambelo, maka itu Manipa, dalam proses yang kontinyu. Pembentukan negara Adat Ambon belum sangat baik. Oleh karena itu, stabilitas internal tidak selalu dijamin. Pada tingkat uli (federasi negeri), ketidakstabilan kurang terlihat, tetapi pada entitas yang lebih besar, seperti Hitu dan Luhu (federasi dari uli) menunjukkan perpecahan yang cukup.  Dalam kasus Luhu ini, ini bahkan menyebabkan hilangnya kemerdekaan dari Ternate. Di Kasus Hitu itu, krisis pertengahan 1630-an menunjukkan tiga faksi yang bertikai: (a) kelompok yang lebih-atau-kurang pro-Belanda, (b) yang sangat anti-Belanda Mayoritas pada Wawani, dan (c) pihak yang relatif moderat pada Kapahaha

Dari sudut pandang struktural,  prasyarat untuk kesatuan Ambon  tidak ideal. Di sisi lain, orang bisa membayangkan bahwa ketidakpuasan dengan Belanda mungkin telah menjadi katalis untuk menstimulasi kesatuan. Kita telah melihat, bagaimanapun, bahwa anti-Belanda pada pertengahan 1630-an terbukti gagal. Salah satu alasan utama adalah tentu saja ketidakmampuan kimelaha untuk memobilisasi kekuatan militer yang mengesankan seperti Van Diemen, yang mungkin telah memberikan perlindungan yang memadai untuk sekutu barunya. Untuk menjadi "sekutu", bukan "subyek" dari kimelaha itu tujuan yang  tidak puas. Akibatnya, pada kenyataannya kelompok anti-Belanda hanya  kumpulan pihak yang rapuh dan mementingkan diri sendiri. Berat bagi Hitu terus kontak dengan kimelaha dan bersedia untuk menerima pasokan senjata, tapi hampir tidak pernah bergabung dalam kampanye militernya. Hitu tidak terlihat baik pada saat membela Lusiela atau ekspedisi di Lease dengan Leliato. Sekalipun ada kerja sama militer antara faksi Wawani dan pejuang di bagian barat dari pulau Ambon, seperti Wakasihu, Alang, dan sebagainya, tapi ini adalah pengecualian. Kesimpulannya adalah bahwa sebagian besar dari Hitu tidak benar-benar tertarik untuk bekerjasama dengan pihak lain. Sebuah keengganan bergandengan tangan dengan Leliato ini mirip, bisa perhatikan di Ihamahu, Hatuhaha, dan pejuang  Kristen di Saparua. Mereka bergabung  setelah Leliato telah mengambil serangan terhadap tempat terdekat seperti Tuhaha dan benteng VOC di Haruku (Rumphius 1910: 127; Enkhuizen 399: 53,99, 150).


Kelompok anti-Belanda merupakan koalisi entitas politik yang hanya sesekali,  cenderung tidak memberikan diri untuk saling membuat sedikit ruang untuk bermanuver, seperti yang mereka miliki sebenarnya. Hanya motivasi "negatif" untuk menyatukan mereka, yaitu, menjadi anti-Belanda. Motivasi positif seperti identitas bersama (menjadi Amboncse), atau ideologi umum (Islam), tidak cukup kuat untuk membentuk serikat abadi. Ambon "ethnogenesis," sebuah konsep yang digunakan oleh Bartels berarti proses di mana masyarakat dari pulau-pulau secara bertahap diikat, antara hal-hal lain dengan ikatan pela (aliansi antar negeri yang bertujuan untuk saling membantu selama situasi krisis), rupanya tidak terlihat dalam periode ini(Bartels 1977: 131, 132). Elemen milik Ulilima atau ulisiwa klasifikasi sosial tidak memainkan peran penting dalam memilih sisi mana yang baik  (van Fraassen 1987, vol 2:. 462-470). Sebuah tradisi perang panjang inter-Ambon, terinspirasi atau tidak terinspirasi oleh persaingan Portugis / Belanda dan  Temate serta intervensinya, telah menciptakan terlalu banyak ketidakpercayaan. Jadi, ketika Van Diemen tiba, kelompok anti-Belanda berantakan sepotong demi sepotong. Biasanya, keputusan untuk membalikkan loyalitas diambil setelah konsultasi intern dan diskusi yang menyeluruh. Masing-masing tidak ingin bertaruh pada kuda yang salah lagi.


Kepustakaan

G.Knaab , Crisis and failure: war and revolt in The ambon islands, 1636-1637, Cakalele, Vol .3 tahun 1992.

Kapitan Hitu Kakiali, available at: http://venstersmoluksegeschiedenis.nl/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=49&Itemid=40

Valentyn F, Beschryving van Amboina;

Rijali I, Hikayat Tanah Hitu, available at : http://mamala-amalatu.blogspot.co.id/2015/10/hikayat-tanah-hitu.html

Rhumphius, G.E : Ambonsche Landsbeschrijving, Arsip Nasional RI, Jakarta, 1983.

Rhumpius, G.E : Ambonsche Historie, Arsip Nasional RI, Jakarta, 1910.