Jumat, 30 Oktober 2015

Sejarah Terbentuknya Negeri Mamala Amalatu (Pausela Amalatu)




Negeri Mamala merupakan salah satu negeri di jazirah Leihitu Pulau Ambon.  Bertolak dari penuturan  tua-tua adat bahwa negeri Mamala dalam bahasa daerah disebut dengan kata “Ama-Latu”  yaitu “Ama’ artinya Negeri , dan “Latu”  artinya  Raja., jadi kata  “Ama-Latu”  artinya Negeri  Raja.

Negeri Mamala-Amalatu

Dikatakan bahwa ketika masyarakat Mamala bertemu dengan orang-orang Portugis, kemudian mereka bertanya kepada masyarakat Mamala  bahwa dimana tempat tinggal mereka atau negerinya, maka masyarakat Mamala menjawab sambil  menunjuk ke arah gunung dengan menyebut kata “Mala-mala”, yang maksudnya  letak  negeri mereka  ke arah gunung yang berwarna kebiru-biruan, yang oleh orang Portugis  di sebut “Mamala”.

Negeri Mamala yang pertama terletak di puncak gunung Salahutu dan disebut “Pausela”  (Ulupokol), kemudian pindah ke gunung “Iyal-Uli” ,  yang letaknya kurang lebih 3 km sebelah timur dari letak Mamala sekarang.  Pada abad ke XVII sebagian penduduk berpindah ke tempat sekarang dan bergabiung dengan negeri Loing dan Polut.

Sebagai orang pertama tiba di tempat tersebut adalah Uka Latu Apel, beliau datang dengan membawa sebuah kendi tempat air minum, dan seekor ayam, nama ayam tersebut bernama Lusi. (Wawancara , Hi. Hasanuddin Malawat: 12 Juni 1993).

Setelah tibanya Uka Latu Apel  di tempat tersebut, kemudian datang lagi suatu kelompok yang terdiri dari : “ Meten, Tuhe, dan Hitiy”.  Ketiga orang ini tidak mengetahui bahwa ada orang yang sudah datang terlebih dulu dari mereka bertiga, sehingga mereka bermufakat untuk mengangkat salah seorang  di antara mereka sebagai pemimpin.  Sementara mereka bermufakat,  tiba-tiba terdengar seekor ayam berkokok yang datangnya dari arah Salahutu. Hal itu menunjukkan bahwa sudah ada seseorang yang lebih dahulu datang di tempat tersebut.

Dengan demikian mereka bertiga  yakni “Meten, Tuhe dan Hitiy”, berusaha  untuk mencari di mana orang itu berada, untuk itu mereka mengikuti  arah suara ayam berkokok. Dalam usaha pencarian tersebut , mereka  berhasil  bertemu dengan beliau  (Uka Latu Apel) di Salahutu, kemudian mereka  berempat mulai bermufakat untuk mengangkat salah seorang di antara mereka  sebagai pemimpin. Dari  hasil mufakat, atas usul dari Uka Latu Apel bahwa apabila bertemu dengan siapa saja yang mencari ikan di pantai, maka orang tersebut  diangkat sebagai pemimpin.  Kemudian mereka turun ke pantai  dengan persetujuan hasil mufakat tersebut, mereka turun  ke pantai sekaligus dengan menurunkan air (sungai) “Selepai”  yang oleh masyarakat Mamala di sebut “Air besar”.  Setelah sampai di pantai ternyata yang ditemukan adalah orang  yang memberikan usul tadi, yakni Uka Latu Apel.  Beliau kemudian dibawa  ke darat oleh tiga orang tersebut  (Meten,  Tuhe, Hitiy).

Beliau (Uka Latu Apel) langsung diangkat untuk menjadi pemimpin (Raja) mereka, dengan mendudukkan beliau di atas sebuah batu, dan batu tersebut  sampai saat ini dikenal  dengan sebutan “Hatu Hiti Latu”.  Hatu artinya batu, hiti artinya angkat dan Latu artinya Raja. Sehingga bisa diterjemahkan Batu tempat pengangkatan Raja.  Hingga  saat ini tempat tersebut dipakai sebagai  tempat upacara pengangkatan Raja Mamala, yang secara adat diangkat di tempat tersebut. Sehingga tempat ini dikenal dengan sebutan “Hiti Latu Tetui” (Tanjung Pengangkatan Raja). (Wawancara, Tua Adat , Abd. Gawi Malawat : 16 Juni 1993).

Sedangkan ketiga orang tersebut , yakni Meten, Tuhe dan Hitiy,  sebagai  pengawal  pemimpin (Raja), atau hulubalang dari Raja yang mereka angkat, di mana:
o   “Meten”  yang namanya “Uka Leolisa” bertugas sebagai penunjuk jalan
o   “Tuhe” yang namanya “Kolongsusu”  bertugas sebagai pembersih jalan, apabila  di dalam perjalanan , mereka terhalang oleh kayu-kayu besar maka Tuhe lah yang memotong  kayu tersebut hingga jalan itu bersih.
o   “Hitiy” yang namanya “Sabtu” , bertugas sebagai angkat Raja, “Hitiy” artinya angkat,  sehingga setiap upacara pengangkatan Raja Mamala , maka yang berhak untuk mendudukkan atau mengangkat Raja secara adat adalah Hitiy.

Uka Latu Apel  setelah diangkat menjadi pemimpin atau Raja, mereka kemudian kembali ke gunung Salahutu atau disebut Pausela sebagai tempat kediaman mereka, untuk melanjutkan kehidupan mereka di tempat tersebut. Seperti pada sebuah kapata  (Lani)  yang diciptakan leluhur yang berbunyi sebagai berikut
  
o  Sopo Telu Hata – Hata Teluey Hini”
o   Lihut, itite, u’- ule haholo
o   Mo-e salele “Salahutu” Simalopu
o   Tei  Meten husa hatu rimulai molo
o   Tei Yaha husa hatu rimulai molo
o   Tei Poko  husa hatu Sina Uli yau
o   Tei  Poko  husa hatu Sinai Matawa-a
o   Hatu telu pakalala Totohatu
o   Telu pakalesi Manulatu “Pausela”
o   Liani Sasupu yupu  Tei Mala Tasibeha
o   Telu yulu pele salele yulu pokol
o   Nisasopo  lete Nusatapi Posiela
o   Telusy tahale Telu sopo hini
o   Telu Hata  Si’eleha  ‘e Tane Hitu
o   Nala peia Ina hanu  Sini Telu
o   Simi hini Latu, Meten, Tuhe, Hitiy
o   Hatwa Tina Matua Ama Latu

Yang artinya, sebagai berikut:
o   Topan, petir, halilintar bersahutan
o   Kabut menyeliputi  “Salahutu” dan “Simalopu”
o   Datang pertama berjubah hitam , membawa batu saat fajar (Meten)
o   Datang yang kedua , berjubah merah, saat bintang merah sedang naik, dengan membawa batu (Tuhe)
o   Datang yang ketiga , berjubah kuning , saat bintang sedang naik , dengan membawa batunya (Hitiy)
o   Tiga  buah batu membentuk tungku di puncak Simalopu. Mengisyaratkan kedatangan mereka.
o   Ketiganya melambangkan “Manulatu” , perlambang dari Negeri Latu Pausela. (Ketiganya sedang berdiskusi  tiba-tiba terdengar suara ayam / burung merpati milik Latu Apel.
o   Ketiganya  mencari  ke arah datangnya  suara ayam / burung merpati, dan bertemu pemiliknya yang sedang berwirid setelah sholat Subuh.
o   Ketiga bukit tersebut di atas, merupakan pertanda munculnya Tiga tuan tanah,  yang mengelilingi bukit Ula Pokol, yang merupakan perlambang Raja Latu Apel.
o   Ketiganya dijunjung dan dilantik sebagai  Malesi.
o   Ketiganya  mempunyai  kedudukan yang sama sebagai pemangku adat , dan yang ke-empat  memangku tugas pemerintahan.
o   Ke-empat  Upu (Empat Perdana), adalah keaslian Tanah Hitu (Pemerintahan Tanah Hitu).
o   Ketiga Upu berusaha mencari Wanita bakal isteri Rajanya, yang keturunannya akan mewarisi jabatannya.
o   Ketiga pemangku adat tersebut,  Meten, Tuhe dan Hitiy tetap disanjung dan dijunjung.
o   Hatwa Tina, Isteri Raja, Putri laut, keturunannya pemangku adat Amalatu (Mamala).

Kapata-kapata (Lani)  tersebut biasanya dilagukan pada saat dilaksanakan upacara pengangangkatan Raja  secara adat.  Di dalam kapata tersebut secara berulang-ulang menyebutkan Uka Latu Apel  dengan ketiga pengawalnya yakni Meten,  Tuhe,  dan Hitiy. Hal ini membuktikan bahwa merekalah yang pertama datang dan menempati  daerah tersebut, yang pada akhirnya  anak cucu keturunannya  mereka di negeri Mamala.

Iyal Uli sebenarnya nama sebuah gunung yang letaknya kurang lebih 3 km sebelah timur  dari lokasi Negeri Mamala sekarang, dan merupakan negeri yang kedua. Pada tahun  1643-1644 pada masa pemerintahan Belanda, yakni pada masa pemerintahan Gubernur Gerard Demmer, menurunkan  hena-hena atau aman-aman  dari gunung Iyal Uli ke pesisir pantai, tujuannya  adalah untuk mempermudah pengawasan oleh Belanda, untuk kemudian bergabung dengan hena-hena kecil seperti Loing dan Polut. Sedangkan Hena-hena atau aman yang ada di gunung saat itu adalah Latu,  Hausihol dan Liang.

Madina Tjolleng ST. Mengatakan bahwa hena atau aman  adalah bentuk persekutuan yang lebih besar dari Uku. Sebuah hena bisa terdiri dari beberapa Uku yang merupakan kesatuan genealogis, namun dengan adanya perkembangan , maka sudah harus  diperhitungkan unsur-unsur teritorial  uku-uku yang bersangkutan. Adannya pertimbangan ini, sehingga hena tidak dapat dipastikan hanyalah persekutuan genealogis semata, lebih tepat bila dinyatakan sebagai suatu persekutuan genealogis-teritorial, di mana unsur genealogislah yang dominan, ( Madina Tjolleng ST; 1988;32).

Soa Latu meliputi marga-marga Malawat,  Pelau, Samaniri dan Mony
Soa  Pati meliputi marga-marga Lating, Selay dan Hatuala
Soa Tuhuputa meliputi marga-marga Lilisula, Latukau dan Kiang
Soa Loing meliputi marga-marga Lulung (Lessy), Selakoko, Sasole, Tulapessy dan Thenu
Soa Polut meliputi marga-marga Tomu, Pulhehe, Ollong dan Wakang

Kelima Soa ini yang membentuk negeri adat yang disebut  Pausela Amalatu / Mamala Amalatu

Rabu, 28 Oktober 2015

Dari Mana Asal Kebudayaan Pukul Sapu (Ukuwala Mahiat)



Pendahuluan

Kebudayaan Pukul Sapu (Ukuwala Mahiat) telah terkenal luas di Indonesia bahkan di dunia Internasional. Perayaan ini diadakan setahun sekali setiap hari kedelapan Syawal.  Budaya ini hanya dilakukan di Negeri Mamala dan Negeri Morela dengan motif latar belakang yang berbeda. Akhir-akhir ini masyarakat di kedua negeri tersebut saling mengklaim jika budaya Pukul Sapu tersebut adalah budaya yang pertama kali dilakukan di negerinya masing-masing. Hal ini menimbulkan polemik di kalangan masyarakat kedua negeri, siapa  yang lebih dahulu menjalankan ritual Pukul Sapu (Ukuwala Mahiat).


Pentas Pukul Sapu Mamala di Festival Keraton dan Masyarakat Adat ASEAN di Lombok

Latar belakang Ritual Pukul Sapu di Negeri Mamala dan Negeri Morela, mempunyai latar belakang yang berbeda, jika di negeri Mamala berlatar belakang ketika pembangunan Mesjid, dan negeri Morela berlatar belakang ketika akhir dari perang Kapahaha. Kalau orang Mamala menyebutkan budaya Pukul Sapu  dilaksanakan saat setelah keberhasilan pembangunan mesjid di lokasi yang baru, maka kebenarannya hanya berdasarkan sejarah lisan (oral history). Demikian pula dengan orang Morela jika ditanyakan kebenarannya terkait dengan penyelenggaraannya juga hanya berdasarkan sejarah lisan (oral history). Jika dilihat dari latar belakang keduanya maka akan sulit menentukan mana yang lebih dahulu menyelenggarakan ritual Pukul Sapu (Ukuwala Mahiat), dikarenakan keduanya hanya berdasarkan sejarah lisan.

Dengan alasan ini maka dicoba mengkajinya dari pengertian sejarah dan kebudayaan, serta kaitannya dengan kedudukan kedua negeri tersebut dalam filosofis Siwalima. Selanjutnya di kaji siapakah yang memang lebih memungkinkan terlebih dahulu melakukan budaya Pukul Sapu (Ukuwala Mahiat) dihubungkan dengan sejarah perkembangan kedua negeri tersebut dari konsep budaya Siwalima, konsep Sejarah dan konsep Kebudayaan terkait dengan perbedaan latar belakang penyelenggaraannya. Penjabaran ini bertujuan menyimpulkan mana yang terlebih dahulu mengadakan Ritual Pukul Sapu (Ukuwala Mahiat). Serta menyimpulkan mana yang lebih cocok disebut sebagai budaya dengan perbedaan latar belakangnya.
 Carr (1982: 30). menyatakan, bahwa “history is a continous process of interaction between the historian and his facts, and unending dialogue between the present and the past”. Maka dapat disimpulkan bahwa Sejarah  Pukul Sapu (Ukuwala Mahiat) dari negeri Mamala dapat dibenarkan.
Siwalima Sebagai Budaya Maluku

Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Pattimura, Profesor JE Lokollo menjelaskan budaya Siwalima merupakan budaya yang disepakati oleh semua orang Maluku yang hidup dalam komunitas Provinsi Maluku dimana kesepakatan ini meliputi sistem nilai-nilai serta pandangan-pandangan yang ada dan masyarakat telah menyepakati nilai-nilai di bidang kehidupan apapun termasuk bidang kebudayaan.
Setiap negeri (desa) di Maluku Tengah tergolong ke dalam salah satu dari kedua kelompok pata atau uli tersebut. Patasiwa-patalima ini menurut Cooley, menunjukkan bahwa seluruh negeri yang tergolong pada salah satu kelompok mempunyai sistem adat yang serupa dalam segi-segi tertentu. Suatu negeri yang tergolong ke dalam kelompok sembilan (pata/uli siwa ) atau kelompok lima (pata/uli lima ), mempunyai akibat-akibat tertentu. Susunan sosial dari negeri-negeri yang tergolong pada kelompok sembilan dikatakan terdiri dari sembilan satuan yang lebih kecil, demikian pula susunan sosial dari negeri-negeri yang tergolong pada kelompok lima dikatakan terdiri dari lima satuan yang lebih kecil.


Pengertian dan Ruang Lingkup Sejarah.

 Istilah “sejarah” berasal dari bahasa Arab, yakni dari kata “syajaratun” (dibaca” syajarah), yang memiliki arti “pohon kayu”. Pengertian “pohon kayu” di sini adalah adanya suatu kejadian, perkembangan/pertumbuhan tentang sesuatu hal (peristiwa) dalam suatu kesinambungan (kontinuitas). Selain itu ada pula peneliti yang menganggap bahwa arti kata “syajarah” tidak sama dengan kata “sejarah”, sebab sejarah bukan hanya bermakna sebagai “pohon keluarga”, ”asal-usul” atau ”silsilah”. Walaupun demikian diakui bahwa ada hubungan antara kata “syajarah” dengan kata “sejarah”, seseorang yang mempelajari sejarah tertentu berkaitan dengan cerita, silsilah, riwayat dan asal-usul tentang seseorang atau kejadian (Sjamsuddin, 1996: 2). Dengan demikian pengertian “sejarah” yang dipahami sekarang ini dari alih bahasa Inggeris yakni “history”, yang bersumber dari bahasa Yunani Kuno “historia” (dibaca “istoria”) yang berarti “belajar dengan cara bertanya-tanya”. Kata “historia” ini diartikan sebagai pertelaan mengenai gejala-gejala (terutama hal ikhwal manusia) dalam urutan kronologis (Sjamsuddin dan Ismaun, 1996: 4).

Setelah menelusuri arti “sejarah” yang dikaitkan dengan arti kata “syajarah” dan dihubungkan dengan pula dengan kata “history”, bersumber dari kata “historia” (bahasa Yunani kuno) dapat disimpulkan bahwa arti kata sejarah sendiri sekarang ini mempunyai makna sebagai cerita, atau kejadian yang benar-benar telah terjadi pada masa lalu. Sunnal dan Haas (1993: 278) menyebutnya; “history is a chronological study that interprets and gives meaning to events and applies systematic methods to discover the truth”. Carr (1982: 30). menyatakan, bahwa “history is a continous process of interaction between the historian and his facts, and unending dialogue between the present and the past”. Kemudian disusul oleh Depdiknas memberikan pengertian sejarah sebagai mata pelajaran yang menanamkan pengetahuan dan nilai-nilai mengenai proses perubahan dan perkembangan masyarakat Indonesia dan dunia dari masa lampau hingga kini (Depdiknas, 2003: 1). Namun yang jelas kata kuncinya bahwa sejarah merupakan suatu penggambaran ataupun rekonstruksi peristiwa, kisah, maupun cerita, yang benar-benar telah terjadi pada masa lalu.

Bury (Teggart, 1960: 56.) secara tegas menyatakan “History is science; no less, and no more”. Sejarah itu adalah ilmu, tidak kurang dan tidak lebih. Pernyataan ini mungkin tidak bermaksud untuk memberikan penjelasan batasan tentang sesuatu konsep, melainkan hanya memberikan tingkat pengkategorian sesuatu ilmu atau bukan. Penjelasan tersebut jelas tidak memadai untuk untuk memperoleh sesuatu pengertian. Definisi yang cukup simple dan mudah dipahami diperoleh dari Carr (1982: 30). yang menyatakan, bahwa “history is a continous process of interaction between the historian and his facts, and unending dialogue between the present and the past”..

Saat Akhir Perlawanan di Kapahaha



"........Hatta demikian itu dengan kehendak Tuan Yang Mahatinggi seorang dagang ia lari masuk kepada Wolanda. Maka ia menunjukkan jalan kepada Wolanda itu, naik tengah malam serta dengan kehendak Allah ta`ala lalu alah negeri. Maka orang semuanya itu cerrai-berrai masing-masing membawah dirinya. Ada mati di tengah jalan, ada mati di bawah pohon kayu, tiada dapat berjalan lagi, sebab ia kalaparang. Ada masuk ke dalam hutan, ada masuk ke dalam guwah batu. Barang apa didapatnya, di situlah ia diam, lalu mati kepada tempatnya. Dan setengah masuk ke negeri Mamala dan setengah masuk ke negeri Hitulama dan setengah masuk ke Hila. Ada masuk negeri Tiyal dan orangkaya Pati Tuban ia masuk ke negeri Wai. Maka semuanya itu diberikan kepada gurendur itu dan orangkaya Tubanbesi ia membawah sebuah perau sudah keluar sehingga pantai Hatuhaha....."(Sumber: Hikayat Tanah Hitu, Imam Rijali)


Pengertian Kebudayaan

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
  

Pembahasan

Dalam buku Hikayat Tanah Hitu nya Imam Rijali, nama negeri Morela tidak pernah disebut, yang ada hanya negeri Kapahaha. Sedangkan Rhumpius memberi keterangan bahwa negeri Kapahaha dihuni oleh orang Hausihol (Hausihu). Kaitannya dengan budaya Siwalima tentang hubungan antara negeri Mamala dan negeri Hausihu terdapat dalam bukunya Rhumpius dan juga Valentijn, yang menyebutkan bahwa keduanya termasuk dalam Uli Sailesi yang berpusat di negeri Mamala. Setiap negeri (desa) di Maluku Tengah tergolong ke dalam salah satu dari kedua kelompok pata atau uli tersebut. Patasiwa-patalima ini menurut Cooley, menunjukkan bahwa seluruh negeri yang tergolong pada salah satu kelompok mempunyai sistem adat yang serupa dalam segi-segi tertentu. Dalam kaitannya dengan budaya Siwalima, Negeri Mamala dan Morela mempunyai latar belakang sejarah yang berbeda. Sebelum dan sesudah kekalahan perang Kapahaha nama negeri Morela belum ada sampai dengan tahun 1812. Setelah kekalahan perang melawan Belanda tahun 1646, seluruh negeri yang terangkum dalam satu uli dijadikan satu dengan pimpinannya adalah kepala ulinya. Dalam bukunya Rhumpius menyebutkan negeri Liang sudah pada posisi seperti saat ini. Sehingga saat itu Raja Mamala membawahi negeri Latu, negeri Hausihu, negeri Loing dan negeri Polut.

Sesuai dengan pendapat Cooley, maka  dapat dipastikan jika negeri Mamala dan Morela mempunyai persamaan dalam  sistem adat yang serupa dalam segi-segi tertentu, termasuk dalam budaya Pukul Sapu (Ukuwala Mahiat). Jika negeri Morela mengaitkannya dengan makna psikologis akibat kekalahan perang Kapahaha namun dari uraian peristiwa di atas, maka timbul pertanyaan apakah hal itu memungkinkan dilakukan pada saat itu? Mengingat pada masa itu Gerrad Demmer (Gubernur Belanda) segera menginstruksikan seluruh penduduk dari keempat negeri tersebut segera menyatukan diri menjadi satu negeri dengan pimpinan Raja Mamala.  Jika negeri Mamala mengaitkannya dengan pembangunan Mesjid, maka itu hal itu dapat dibenarkan mengingat kebutuhan Mesjid di daerah yang baru menjadi prioritas utama.

Dalam konsep ilmu Sejarah, Sunnal dan Haas (1993: 278) menyebutnya; “history is a chronological study that interprets and gives meaning to events and applies systematic methods to discover the truth”. Carr (1982: 30). menyatakan, bahwa “history is a continous process of interaction between the historian and his facts, and unending dialogue between the present and the past”. Maka dapat disimpulkan bahwa Sejarah  Pukul Sapu (Ukuwala Mahiat) dari negeri Mamala dapat dibenarkan.


Skema Perbedaan Latar Belakang Pukul Sapu di Negeri Mamala dan Negeri Morela.

Di negeri Mamala, ritual Pukul Sapu mempunyai hubungan yang erat antara Mesjid, Pukul Sapu itu sendiri dan Nyuwelain Matehu yang digunakan sesudah acara tersebut. Ketiganya mempunyai hubungan erat yang tidak dapat dipisahkan. Sementara di negeri Morela  setelah  acara Pukul Sapu, luka-luka yang ditimbulkannya di obati dengan getah daun jarak. Hal ini menimbulkan tanda tanya tentang apa dan bagaimana hubungan antara daun jarak dengan kekalahan perang Kapahaha dan makna psikologis yang ditimbulkannya

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial, norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Budaya Pukul Sapu Mamala sudah sejak dari dulu sejak masa kolonial

Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Suasana Acara Pukul Sapu / Ukuwala Mahiat di Negeri Mamala (Sejak Dahulu)
.
Dari pendapat para ahli tentang Kebudayaan, maka berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa acara Ukuwala Mahiat (Pukul Sapu) di negeri Mamala merupakan suatu bentuk kebudayaan karena terdapat hubungan yang erat antara Mesjid, Pukul Sapu dan Nyuwelain Matehu, yang merupakan sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Ketiga unsur tadi mengandung keseluruhan  pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Simpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Negeri Mamala merupakan negeri asal acara Pukul Sapu (Ukuwala Mahiat), dan memenuhi syarat untuk dikatakan sebagai suatu kebudayaan.


Kamis, 22 Oktober 2015

Cerita Sejarah Tali Gandong Negeri Mamala Dengan Negeri Tiouw


* Carita ini merupakan kisah nyata tentang percintaan seorang Putri Raja dari Negeri Mamala dengan Putra Raja Negeri Tiouw *

Gambar Lambang Negeri Adat Mamala dan Tiouw

Pendahuluan

Merangkai suatu cerita yang benar-benar nyata dan benar pernah terjadi di Maluku sangatlah sulit untuk dibuktikan keasliannya,  mengingat budaya orang Maluku adalah budaya tutur yang mempunyai banyak kelemahan. Sekalipun data tentang waktu, peristiwa dan pelakunya tidak benar-benar tercatat, namun kebenaran cerita ini dapat dijelaskan dengan nama tempat "SALAINAHU" yang lokasinya di belakang sekolah SMA muhammadiyah Negeri Mamala. Tanpa menghilangkan substansi kisah nyata tersebut dan kaitannya dengan ikatan Tali Gandong Negeri Mamala-Tiouw, maka di sini ditampilkan semua mengenai cerita yang berdasarkan tuturan dari basudara Mamala-Tiouw.

Percintaan seorang Putri Raja dari Negeri Mamala dengan Putra Raja Negeri Tiouw (Versi I)

Awal ceritanya saat itu Putra Raja Tiouw (Pattiwael) mau pergi mancari ikan disekitar perairan  Leihitu, saat itu sang Putra Raja ditemani pela dari Asilulu, ketika itu situasi lautan tidak cukup  bersahabat (sangat berombak) sehingga membuat gosepa / kora-kora hilang kendali dimuka labuhan  Negeri Mamala, secara kebetulan ada warga Mamala yang pada waktu itu sedang berada di pesisir  pantai, mereka pun menolong para nelayan yang ada dalam gosepa / kora-kora, ternyata di dalam gosepa / kora-kora ada seorang Putra Raja Tiouw, warga Mamala-pun memberitahu Raja Mamala. (karena dahulu hubungan kekerabatan antar turunan Raja sangatlah kuat sehingga sang Putra Raja pun diundang untuk tinggal bersama-sama di kediaman Raja Mamala. Sambil menunggu situasi  lautan teduh. Selama tinggal di rumah Raja Mamala, Putra Raja Tiouw dilayani oleh seorang Putri Raja Mamala yang diketahui bernama Fatimah Malawat, dikarenakan tiap hari keduanya sering bertemu, timbullah perasaan saling mencintai yang sangat mendalam antara keduanya.  Putra Raja Tiouw-pun kembali ke Negeri Tiouw.  (Sumber: Peter Matahelumual mendengar langsung dari bapak Raja-Mamala).

Seiring waktu berjalan Putra Raja Tiouw (Pattiwael) datang kembali kedua kalinya ke Negeri Mamala dengan menyamar sebagai Tukang jual tabaku demi untuk mendapatkan pujaan hatinya Putri negeri Mamala (malawat), dan kembali ke negeri Tiouw.

Demi cintanya Putri Raja Mamala;Fatimah Malawat dia dengan segala cara mencari jalan bagaimanapun agar bisa bertemu deng Putra Raja Tiouw karena dia sangat suka dan sangat mencintai Putra Raja Tiouw. Pada waktu itu Raja Mamala mengetahui hubungan keduanya, Raja Mamala sangat marah karena perbedaan Agama.  Negeri Mamala sangatlah Fanatik dalam masalah Agama. (karena Negeri Tiouw Kristen). Tapi dengan penuh tekad akhirnya Fatimah Malawat memutuskan untuk pergi / kaluar dari Negeri Mamala. Fatimah Malawat dengan hanya bermodalkan gosepa / kole-kole, kemudian berangkat meninggalkan Negeri Mamala. Sebelum kaluar dari Negeri Mamala sempat Raja Mamala mengeluarkan satu kata yang sampai sekarang tempatnya dinamakan "SALAINAHU" yang artinya 'SANGAT MARAH, CUCI DIA DARI TAMPA KAKI'. akhirnya Fatimah Malawat pun berangkat mengiringi lautan hanya ingin mendapatkan laki-laki pujaanya (Pattiwael). Tempat Fatimah Malawat menginjakkan kaki yang terakhir kali di Pantai Negeri Mamala sebagai tanda dia anak Negeri Mamala yang kaluar dari Negeri Mamala (sampai sekarang tempat tanda kaki masih ada kalau pantai surut). Dalam perjalanan Fatimah sempat singgah di 'Pulau Haruku' dan menanyakan dimana tempat Negeri Tiouw berada, Fatimah Malawat pun diantar oleh masyarakat disitu ke Negeri Tiouw.....(Sumber dari masyarakat negeri Mamala)
 "Sebelum keluar dari Negeri Mamala sempat Raja Mamala mengeluarkan satu kata karena sangat marah, yang sampai sekarang tempatnya dinamakan "SALAINAHU" yang artinya 'CUCI DIA DARI TAMPA KAKI'."
Percintaan seorang Putri Raja dari Negeri Mamala dengan Putra Raja Negeri Tiouw (Versi II)

Dulu zajirah leihitu adalah tempat keramaian dan anak Raja Tiow (Patiwael) singgah di zajirah leihitu tepatnya di negeri Mamala hanya untuk melihat-lihat. Saat itu aturan yang di anjurkan oleh raja mamala adalah kalau terdapat orang asing yang singgah di Mamala harus melapor ke Raja Mamala. Dan anak raja Tiow pun di bawa menghadap ke Raja Mamala. Tetapi ketika sampai di sana anak Raja Tiow tidak memberitahukan kepada Raja Mamala kalau dia adalah anak Raja Tiouw (Patiwael). Pada saat itulah Fatimah Malawat dan anak raja Tiow (Patiwael) bertemu dan mereka saling jatuh cinta. Akan tetapi Raja Mamala tidak setuju dengan hubungan itu tetapi Fatimah sangat keras kepalaa. Dan Fatimah pun melarikan diri ke Tiow mengikuti pujaannya.  Jejak Kaki Fatimah Di Hapus, tempatnya dinamakan "SALAINAHU" (belakang sekolah SMA muhammadiyah Mamala).  cerita ini diperkirakan terjadi sekitar abad ke XVI. (Sumber: Tuturan warga Mamala)


Catatan :

1. Fatimah Malawat masuk negeri Tiouw tanpa ada yang mengetahuinya....sekalipun anak Raja Tiouw menyamar sebagai seorang penjual tabaku, tapi Fatimah Malawat masuk ke negeri Tiouw dengan menggantikan Marga menjadi Marga Riupassa dengan nama yang sudah dikristen kan. Tanpa jejak hidup di Negeri Tiouw. Jejak ini sangat kabur di Negeri Tiouw. Hanya Marga Riupassa saja yang mengetahui perjalanan hidup Fatimah malawat.

1. Saat mulai ada keterbukan dari Negeri Mamala bahwa Negeri Tiouw itu merupakan Gandong dari Negeri Mamala yakni pada saat pertandingan Final Bola kaki Gubernur cup di Ambon antara Ment vs Putra Mamala, ada beberapa pemain Mamala yang bermain kasar terhadap pemain Ment. Tetapi yang cedera bukan pemain Ment tetapi pemain Mamala, malam harinya Bapak Raja Tiouw pada waktu itu Bapak Buce Tehubijuluw yang dijemput ke Mamala untuk menyelesaikan cedera yang dialami pemain Mamala di Negeri Mamala.

* Pernah ada percakapan antara Pelatih Ment (Bapak Bob Matahelumual) dengan Raja Mamala      (Bapak Ir. Abdullah Malawat) pada waktu itu, untuk mempererat lagi tali persaudaraan gandong antara Mamala dengan Tiouw. Ternyata berhasil. Semoga bapak Bob Matahelumual dan Bapak Dulah Malawat selalu dikenang]

2. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Gandong Negeri Mamala dengan Negeri Tiouw pada tahun 2005, mengundang Bapak Raja Tiouw (Bapak Bob Matahelumual) bersama-sama masyarakat Negeri Tiouw untuk bersama-sama menghadiri pelantikan Raja Mamala dan acara Pukul Manyapu di Negeri Mamala

3. Juga saat Pelantikan Raja Tiouw (Bapak Christian Pattiwael) bersama masyarakat Negeri Tiouw mengundang Negeri Mamala menghadiri acara pelantikan Raja Tiouw di Negeri Tiouw.

4. Pada Tanggal 26 september 2015, basudara Negeri Tiouw di Belanda yakni Ibu Mien Limaheluw dengan saudaranya bapak Sam Limaheluw dengan sukarela mencari Lambang Negeri Mamala dan menyerahkannya di baleu Lounussa Hatalepu Amapati kepada bapak wakil Negeri Mamala Bapak Ismail Malawat dan Drakel.

video


LAGU AMALATU – AMAPATI

 
Cipta  Om Ruben Atmajaya & Java Buloglabna
Aransamenn AYAH
Vokal AYAH
                 

                     DIPESISIR PANTAI LEIHITUEEE
                     BETA BERLAYAR MENCARI IKAN SIO....
                     ARUS OMBAK PUKUL BADAN KOLE-KOLE
                     BETA TADAMPAR DI NEGERI GANDONGEEE



      LASAPA SANGKA MAU BAKU DAPAE
      NONA FATIMAH MANIS LAWANG EEE
      TAGAL CINTA PUNG TAHELA ...SIO
      MAMALA TIOUW JADI GANDONGEEEEE


R             BETA KOMBALI KE NEGERI TIOUW SAYANGEEE
  E           BETA PUNG CINTA CARI JALAN SANDIRI
   F          NAIK GOSEPA SINGGAH HARUKU ...SIO
    F         BAKU DAPA DI NEGERI TIO..UW


                   AMALATU AMAPATI GANDONGEEE
                   KATONG BASUMPAH ANGKA JAN...JI
                   ALE SALAM BETA SARANE SIO..OOOO
                   MAR KA..TONG TETAP SATU DARAH EEEE

       ***** MAR KATONG LA-LA-E-SAI.......LALA ESAIIIII


Terimakasih untuk basudara gandong Tiouw /  Negeri Amapati   yang telah memberikan dendang pilu tentang ikatan gandong untuk katong Mamala  / Negeri Amalatu. Jangan lupakan katong pung sejarah.

Dangke for samua basudara yang bisa sumbang kata-kata di setiap bait, semoga lagu ini bisa di nikmati, dangke Tante Mien Limaheluw, Fico Matahelumual, Jilvand Pattiwael, Chaky, Leo Maelissa Hogendorp, Sam Limaheluw, Stian Limaheluw, Frengko mailuhu(tus-tus) Franklin Patty, Paet Tabalessi, Rocky de Sirat, Lanny Luana
 
Semoga lagu ini bisa mempererat Tali gandong.....