Jumat, 04 September 2015

Misteri Sembilan Bendera Panji-Panji Islam Negeri Mamala



Suasana Pemasangan Bendera-bendera tersebut pada Hari Idul Fitri 1435 H tahun 2015

Di kerajaan-kerajaan atau kesultanan Islam di Nusantara hampir selalu mempunyai bendera sebagai identitas kerajaan atau kesultanannya, selain Istana kerajaan dan simbol kerajaan atau kesultanan lainnya seperti mesjid, mahkota kerajaan, atau kitab-kitab / alquran tua. Riwayat masuknya agama Islam di negeri Mamala sampai sekarang belum di ketahui dengan jelas, namun sejak masuknya bangsa-bangsa Portugis untuk menjajah Maluku, Negeri Mamala telah beragama Islam.

Keberadaan benda-benda pusaka yang menandai kebesaran Negeri Mamala sangat banyak, di antaranya adalah adanya Sembilan Bendera Panji-Panji Islam. Jika di lihat dari jumlah benderanya ada sembilan, mengingatkan kita pada Kerajaan Gowa-Tallo. Makassar yang mempunyai sembilan bendera juga namun hal ini mempunyai simbol jumlah kampung yang membentuk kerajaan tersebut. Jika di maknai  seperti di atas, belum dapat dipastkan karena Negeri Mamala dahulunya adalah  termasuk kategori Negeri Ulisiwa,yang kemudian menjadi Negeri Ulilima.



Studi Tentang Bendera

Bendera adalah sepotong kain, sering dikibarkan di tiang, umumnya digunakan secara simbolis untuk memberikan sinyal atau identifikasi. Hal ini paling sering digunakan untuk melambangkan suatu negara untuk menunjukkan kedaulatannya.

Bendera pertama digunakan untuk membantu koordinasi militer di medan perang, dan bendera sejak berevolusi menjadi alat umum untuk sinyal dasar dan identifikasi, terutama di lingkungan di mana komunikasi juga menantang (seperti lingkungan hidup maritim di mana semaphore digunakan). Bendera nasional adalah simbol-simbol patriotik kuat dengan interpretasi luas bervariasi, sering termasuk asosiasi militer yang kuat karena asli dan berkelanjutan militer mereka. Bendera juga digunakan dalam pesan, iklan, atau untuk tujuan hias lain. Studi tentang bendera dikenal sebagai vexillology.

Peradaban-peradaban purba seperti peradaban Persia dan Tiongkok sudah lazim menggunakan panji, pataka atau bendera sebagai penanda pasukan perangnya. Pada zaman dahulu, di medan pertempuran tanda-tanda atau standar yang digunakan dalam peperangan yang dapat dikategorikan sebagai vexilloid atau "seperti bendera". Contohnya dari legiun Romawi seperti elang dari legiun X Agustus Caesar, atau naga dari Sarmatian, yang kedua adalah membiarkan terbang bebas di angin, dibawa oleh seorang penunggang kuda, tetapi dinilai dari penggambaran itu lebih mirip dengan layang-layang naga panjang daripada bendera sederhana.

Selain sebagai simbol negara, bendera jadi alat komunikasi serta penanda geografis dan lokasi. Ada sejak 1000 SM. Benda mirip bendera atau vexilloid ada sejak ribuan tahun silam. Salah, satu bendera tertua ditemukan di Mesir. Setelah ditelusuri, benda mirip bendera itu muncul sejak 1000 SM dan berfungsi sebagai penanda suatu tempat. Saat itu bendera belum menggunakan kain sebagai bahan dasar pembuatan. Masyarakat memakai kayu dan tembaga sebagai bahan bendera. Memasuki era 27-10 BC, pasukan Mesir dan Romawi mulai memanfaatkan bendera sebagai simbol perang. Misalnya, simbol elang milik Kaisar Augustus dan gambar naga milik pasukan Sarmatian. bendera tersebut kemudian mulai digunakan sebagai elemen dalam peperangan.

Pada 1001-1300 M, bendera berbentuk panji atau banner yang menunjukkan simbol heraldic atau simbol peperangan. Setiap bendera heraldic memiliki standar masing-masing. Biasanya, dalam sebuah bendera heraldic, terdapat simbol lencana, lambang, dan peralatan lain yang menunjukkan identitas dan house atau kerajaan yang dibela. Bukan hanya dalam bendera, simbol heraldic juga terdapat pada perisai para prajurit. Makanya, bentuk bendera pada masa itu cenderung lebih lebar atau perbandingan ukurannya lebih kecil dari 2:3. Variasi jenis tersebut, yakni gonfalons dan guidons, mempunyai panjang 198 cm.

Khususnya di Mamala Amalatu, terdapat sembilan bendera yang ukurannya bervariasi, beberapa buah di antaranya berukuran segi-empat memanjang dan sebagiannya lagi berukuran kecil berukuran segitiga yang di dalamnya ada tulisan-tulisan kaligrafi dan simbol perjuangan, seperti bendera kerajaan / kesultanan Islam lainnya di Nusantara. Melihat gambar dan tulisan-tulisan yang tertera pada bendera-bendera tersebut. Maka ada yang menyebutkannya sebagai bendera panji-panji peperangan.

Salah Satu Bendera, bermotif gambar seperti Macan atau Kucing dikelilingi dengan Kaligrafi Islam

Bendera-bendera tersebut berjumlah sembilan buah, kesemuanya sering digunakan warga negeri Mamala saat berperang melawan penjajah baik Portugis dan Belanda. Keberadaanya saat ini disimpan di rumah adat negeri Mamala, dan hanya dikeluarkan pada saat hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha di mesjid Mamala. Salah satu bendera yang ditancapkan disamping mimbar, adalah bendera Suri Latu, bendera ini pernah berkibar di kedaton Ternate ketika rapat dan audensi para bobato dan latupaty sekawasan jaziratul Al-Mulk di abad XVI, penanaman sepohon cengkeh yang bakal menjadi cengkeh tertua (avo) menandai peresmian pertemuan para kepala suku dan pemimpin maluku kala itu. Cerita cengkeh avo Ternate ini menarik konon, anakan cengkehnya itu sebenarnya berasal dari negeri Mamala.

 "Suasana Pengibaran Panji-Panji Islam Negeri Mamala saat Hari Raya Idul Fitri 1435 H"

Mengenai kapan bendera tersebut dibuat sampai sekarang belum dapat dipastikan. Namun dari beberapa sumber di Negeri Mamala mengatakan bahwa bendera-bendera tersebut pertama kali dibuat dan dipancangkan oleh para Leluhur ketika hendak membangun mesjid yang saat itu masih diatas. Jadi semasa perang melawan para penjajah Portugis dan Belanda bendera-bendera tersebut  sudah digunakan sebagai panji-panji pembakar semangat kaum pejuang dan para syuhada kala itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.