Senin, 05 Oktober 2015

Hikayat Tanah Hitu




Hikayat Tanah Hitu
Sifar Ar-Rijal (Imam Rijali)hikayat tanah hitu
Sumber source: www.anu.edu.au

Sejarah adalah perkembangan penentuan ide diri,
perjalanan perkembangan diri dalam roh. karena roh
hakekatnya bebas,maka sejarah adalah perjalanan
kebebasan.(Hegel)


(potongan seperti dari sumber)Empunya tanah, karena ia dari mulanya
datang. Itulah kesudahan bangsya Ambon. Alkissah peri
mengatakan bangsya Jawa. Maka diceriterakan oleh yang
empunya ceritera tatkala raja Tuban dinaikan kerajaan, maka
tiada ia bersettia dan muafakat dengan kaum kulawarganya.
Maka suatu kaum dua bersyaudara, seorang kiyai Tuli namanya
dan seorang kiyai Dau namanya, dan seorang syaudaranya
perempuan, nyai Mas namanya, ia naik serta kelengkapannya
membawah dirinya mencari tempat kedudukannya. Hatta dengan
kehendak Tuhan Yang Mahatinggi dibawah oleh angin dan arus
datang ke tanah Hitu. Ia masuk dalam labuan Husekaak namanya.
Maka tiada melihat negeri dan tiada manusyia, lalu turun daripada
kelengkapannya, naik ke darat membuat negeri akan
kedudukannya.Hatta demikian itu keluar seekor anjing, maka
orang itu dikatakan: ‘Ada anjing, adalah lagi manusyia; jikalau
ada manusyia, ada juga negeri.’ Lalu ditangkap anjing itu,
digantungkan suatu bungkusan di atas leher anjing itu. Ada pun
dalam bungkusan itu serba sedikit daripada alamat negerinya.
Lalu dilepaskan anjing itu pulang ke negeri kepada tuannya. Maka
apalah* dilihat tuannya bungkusan itu, maka ia melihat alamat
serba sedikit itu. Maka ia berkata kepada orang sekalian: ‘Ada
juga manusyia di pantai itu.’ Maka ia mengambil buah-buahan
akan tanda alamat negerinya, lalu digantung kepada leher anjing
itu, dilepaskan pulang keluar ke pantai. Maka dilihat oleh orang
itu, maka kata orang itu: ‘Marilah kita pergi periksyai kepada
negeri itu’, lalu ia berjalan. Hatta ia datang ke tengah jalan, maka
bertemu seorang, lalu dipangil serta dengan dia berjalan menuju
kepada negeri dan orang dalam negeri itu pun keluar semuanya
berjalan ke pantai. Maka ia bertemu dengan penguluh
kelengkapan itu, maka kedua pihak berhadapan bertanyatanyakan
kehendaknya datang itu. Maka menyahut penguluh
kelengkapan itu, segala hal-ahwal semuanya diceriterakan
kepada orang itu. Lalu ia bertanya pula kepada orang negeri itu,
maka menyahut orang itu. Segala hal-ahwal mulanya datang itu
diceriterakan kepada penguluh kelengkapan itu. Tellah demikian
itu, maka kedua pihak bennarnya jual-beli, tukar-menukar
beramai-ramaian. Hatta datang malam orang itu pun pulang ke
negerinya. Apabila datang esok harinya, ia turun juga jual-beli,
tukar-menukar sebagailah. Maka suatupun tiada dalamnya
melainkan melakukan kesukaannya. Itulah kesudahan bangsya
Jawa. Alkissah peri mengatakan bangsya Jailolo dan diceriterakan
oleh yang empunya ceritera, demikian riwayatnya. Ada pun dalam
negeri Jailolo itu dua bangsya, seorang bangsya Jailolo dan
seorang bangsya Jawa, yakni anak raja keduanya. Maka dalam
keduanya itu, setengah mengatakan bangsya Jailolo akan
kerajaan dan setengah mengatakan pula bangsya Jawa akan
kerajaan, maka jadi fitna dalam negeri endak berkelai. Tellah
demikian itu, hatta datang kepada suatu ketika serta dengan
kehendak Allah ta`ala keluar bangsya Jawa serta dengan
kelengkapannya. Entah apa-apa kehendaknya gennap puluh dan
tanjung sehingga datang ke benua Bacang. Maka di belakangnya
itu dinaikan bangsya Jailolo akan kerajaan, lalu ia menyuruh
rusak negeri syaudaranya. Maka disampaikan khabar itu kepada
syaudaranya, demikian katanya: ‘Hai tuhanku, pattik minta maaf
ke bawah dulli yang dipetuhan. Tellah sudah paduka syaudara
enda dinaikan kerajaan dan negeri yang dipetuhan pun sudah
rusak.’ Tellah didengar warta demikian itu, maka ia tiada mau
pulang lagi, lalu ia berangkat mencari tempat akan
kedudukannya. Hatta berapa lamanya di tengah jalan serta
kehendak Tuhan Yang Mahatinggi datang ribut dan angin, maka
cerai-berai kelengkapannya itu, masing-masing membawah
aluannya. Ada datang ke tanah Buru, ada datang ke tanah Seran.
Ia dibawah oleh angin dan arus datang ke tanah Ambon. Maka
syaudaranya dan setengah raiyat turun duduk menjadi penghulu
kepada negeri Lisabata, kiyai pati namanya atau Ulima*
Sitaniya*. Maka ia berangkat sehingga datang ke tanjung Siyal*.
Seorang pula kaum gulawarganya duduk menjadi penghuluh
kepada negeri Waiputih, digelar Sellat* namanya. Lalu
menyeberang ke tanah Hitu, masuk dalam labuan, maka ia naik ke
darat mengambil tempat akan negerinya. Maka suatupun tiada
hijab pada mereka itu melakukan kehendaknya. Itulah kesudahan
riwayat bangsya Jailolo. Alkissah peri mengatakan bangsya
Goron* dan diceriterakan oleh yang empunya ceritera demikian
riwayatnya.[Sekali] perastawa* dengan kehendak Allah ta`ala ia
datang kepada suatu tanjung Nukuhali, lalu masuk ke dalam
sungai, diam dirinya dalam utang, seorangpun tiada mengetahui
dia. Tellah demikian itu maka sebuah perau daripada pihak
bangsya Jailolo ia keluar mengambil ikan. Daripada ketika itu
sebuah perau daripada orang yang datang itu keluar memukat.
Lalu ia pulang sehingga seorang juga, ia duduk di tepi sungai itu
menengok pada orang mengambil ikan itu dan orang mengambil
ikan itu pun pandang kepadanya, lalu bertanya-tanyakan:
‘Darimana engkau datang dan di mana engkau duduk?’ Maka ia
menyahut: ‘Di darat sungai ini kami duduk.’ Lalu perau mengambil
ikan itu kembali menyampaikan khabar kepada perdana Jamilu,
maka ia pergi sendirinya kepada orang itu. Sama berhadapan, lalu
bertanya padanya: ‘Darimana datang dan apa kehendakmu
datang ini?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang dari
benua Goron* dan kehendak kami mencari tempat kedudukan
kami.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Maukah duduk serta kami?’
Maka ia menyahut: ‘Mengapa maka tiada mau, jikalau dengan
faedahnya yang baik?’ Maka pula perdana Jamilu: ‘Mengapa maka
tiada dengan faedahnya yang baik? Jika duduk serta kami
kupersuamikan anakku akan isterimu supaya jangan was-was
hatimu kepada kami.’ Maka ia menyahut: ‘Apatah daya lagi, jika
bagai kata demikian itu? Tetapi baik kita periksyai dahulu atau ia
maukah atau tiada mau kepada kami, karena ia anak yang
empunya negeri, ada pun kami ini anak dagang. Itulah sebabnya
baik kita periksai dahulu.’ Lalu keduanya pergi masuk dalam
negeri kepada rumah perdana Jamilu. Maka perintah dengan baik
patut pakaian yang baik kepada hambanya, ia duduk di atas di
hadap orang banyak, dan pakaian yang jahat kepada anaknya, ia
duduk di bawah serta memegang penyapu. Tellah demikian itu,
maka menyuruh orang membawah kepadanya, lalu masuk serta
orang banyak dan permullianya dengan adat sehinggasana. Ia
berhadapan dengan perdana Jamilu bijaksana, maka kata Jamilu:
‘Pada hari ini dan ketika ini kita sempurnakan janjian itu. Tellah
kesudahan kataku termasyhur didengar oleh orang sekalian.
Daripada itulah kurelahkan anaku akan isterimu.’ Maka
menyahut: ‘Kujungjung ke bawah kadim yang memeliharakan dan
mengasih dagang piyatuh.’ Lalu ia menyaksyikan sepahnya,
demikian katanya: ‘Apabila bennar anaknya yang di atas itu,
lettalah kepadanya. Jika benar yang di bawah itu, lettalah
kepadanya. Lalu dicampakan serta dengan kehendak Tuhan Yang
Mahasuci lettalah kepada yang di bawah itu. Maka ia tersunyum
serta barpantung: ‘Harap-harap janji tuhan mengasih dagang
piyatu. Siapa mengetahui tipu dayah tuhan?’ Lalu menyahut
demikian katanya: ‘Dagang piyatu minta maaf. Ada pun yang di
atas itu, dari dunia datang ke akhirat akan syaudaraku dan ada
pun yang di bawah memagang penyapu itu, tuhan perhamba akan
kami.’ Maka kata Jamilu: ‘Betapa kata demikian? Karena ia hamba
mengapa maka kau ambil kepadanya? Didengar orang seolah-olah
dicellai kepada kita, tetapi tiada mengapa. Kepada anaku juga
yang menyasal, karena tiada patut hamba dan orang baik.’ Maka
ia menyahut: ‘Apatah daya? Untung kita serta kehendak Allah
ta`ala.’ Lalu diam dirinya. Maka kata perdana Jamilu: ‘Bennarlah
anaku, orang besar daripada Goron*.’ Lalu dipersuamikan
anaknya serta makan minum bersuka-sukaan dalamnya. Itulah
nyata orang berbahagia dalam dunia. Tellah demikian itu, maka ia
mengambil tempat akan kedudukannya. Itulah negeri bangsya
Goron*, perdana kipati namanya. Tellah kesudahan anak cucu
Goron* linang. Maka jadi empat negeri pada tatkala itu. Maka
dengan kehendak Allah ta`ala muafakat keempat perdana itu
menjadi suatu negeri dan empat negeri itu dijadikan empat
kampung dan empat nama. Alkissah peri mengatakan tatkala
keempat perdana muafakat itu menjadi suatu negeri dan keempat
kampung, serta dipindakan nama keempat itu. Ada pun Zamanjadi
dipindakan Totohatu namanya dan perdana Mulai Mulai
dipindakan Tanihitumesen namanya dan perdana Jamilu
dipindakan Nusatapi namanya dan perdana kiyai pati dipindakan
Pati Tuban namanya. Itulah dimasyhurkan nama keempat itu
dalam tanah Hitu. Dan berjanji-janjian serta berputusan barang
sesuatu pekerjaan dalam tanah Hitu, maka muafakatlah
keempatnya, lalu dikerjakan dan tiada lain lagi daripada keempat
perdana itu. Itulah seperti emas, tiada dengan supuhnya lagi. Ada
pun keempat perdana itu, jikalau dinamai bendahara pun benar
juga, dan dinaikan kerajaan pun patut juga daripada bangsyanya
datang itu. Karena ia itu tiada dibesarkan dan tiada dan tiada
dihinakan dan tiada dinaikan dan tiada diturunkan, melainkan
melakukan kehendaknya. Itulah kenyataan empat bangsya itu.
Kemudian daripada itu datang suatu bangsya tiga kaum yang ia
datang dari negerinya. Maka dimasukkan tiga kaum itu tiga
kampung, jumlahnya tujuh kampung dalam negeri Hitu. Itulah
kesudahan kaum daripada pihak empat perdana. Alkissah peri
mengatakan daripada pihak rayatnya tiga puluh gelaran dan
daripada tiga puluh gelaran itu tujuh pengawanya yang besar.
Ialah mengerjakan sesuatu pekerjaan daripada keempat perdana.
Lain daripada itu tiada dimasukkan, sehingga takluk namanya.
Apabila kepada suatu pekerjaan, maka keempat perdana
muafakat dahuluh. Tellah sudah muafakat, maka dimasukkan tiga
kaum dahuluh. Kemudian daripada tiga itu, maka dimasukkan
tujuh pengawanya serta tiga puluh gelarannya. Itulah diadatkan
zaman datang kepada zaman turun-menurun, tiada berubah lagi.
Itulah kesudahannya. Alkissah peri mengatakan bangsya Ambon
dan peri mengatakan bangsya Jawa, maka diceriterakan oleh
yang empunya ceritera, sekali perastawa dengan kehendak Allah
ta`ala dua kaum, Zamanjadi dan perdana Mulai, keduanya
melakukan kehendaknya. Zamanjadi endak akan kerajaan dan
perdana Mulai pun ia akan kerajaan, maka fitna kedua kaum itu,
lalu berkellai. Hatta berapa lamanya seorangpun tiada manang
kepada seorang dan seorangpun tiada allah kepada seorang. Lalu
Zamanjadi menyuruh mengambil angkatan dari negeri Selan
Binaur datang endak menyarang kepada negeri perdana Mulai.
Dan perdana Mulai pun menghimpunkan segala hulubalangnya,
makan minum sehingga menanti kepada angkatan itu. Berapa
lamanya maka datanglah angkatan itu, lalu turun menyarang
kepada negeri dan empunya negeri pun keluar. Barparanglah
kedua pihak itu. Hatta seketika juga patah angkatan itu, lalu
undur daripada karas parang rakyat perdana Mulai. Maka kembali
angkatan itu tiada boleh allah kepada negeri. Daripada itulah
pantai Hitu dinamai Liasela* namanya. Maka angkatan itu pulang
dengan dukkacittanya dan empunya negeri pun makan minum
bersuka-sukaan dan beramai-ramaian dalam negeri. Hatta berapa
lamanya maka perdana Jamilu bijaksana ia pergi kepada perdana
Mulai. Maka ia berkata: ‘Betapa kehendakmu kepada Zamanjadi
itu?’ Maka menyahut perdana Mulai: ‘Ada pun kami kedua kaum
ini kepada bennarnya siapa akan kerajaan?’ Maka kata perdana
Jamilu bijaksana: ‘Jika kepada bennarnya engkau juga, karena
engkau memulai negeri ini. Sebennar ia datang dahulu, tetapi ia
duduk dalam hutan.’ Maka kata perdana Mulai kepada perdana
Jamilu: ‘Maukah tolong kepadaku?’ Maka ia menyahut: ‘Mengapa
maka tiada mau? Tetapi jika ada faedahnya.’ Maka kata pula
perdana Mulai: ‘Apabila engkau tolong kepadaku, apa barang
kehendakmu itu dan apa katamu itu tiada kulalui. Itulah kita
perjanjikan.’ Maka kata perdana Jamilu: ‘Jika bagai kata demikian
itu, ikutlah perintaku.’ Maka diiakan oleh perdana Mulai. Demikian
perinta perdana Jamilu: ‘Apabila datang kepada hari anu,
himpunlah orang serta senjata. Aku pun demikian lagi. Apabila ia
keluar mencari kehendaknya, sunyilah negeri. Maka kita pun
masuklah kepadanya melakukan kehendak kita itu.’ Tellah
berjanji demikian lalu ia pulang. Hatta datang kepada esok
harinya pergi pula kepada Zamanjadi, demikian katanya: ‘Betapa
kehendakmu kepada orang itu?’ Maka menyahut Zamanjadi serta
bertanya kepada perdana Jamilu: ‘Ada pun kami kedua ini kepada
bennarnya siapa patut akan kerajaan?’ Maka kata perdana Jamilu:
‘Jika kepada bennarnya Zamanjadi akan kerajaan. Bennar katanya
ia memulai negeri, tetapi Zamanjadi dahulu datang, ia kemudian.’
Itulah sebabnya, maka kata Zamanjadi kepada perdana Jamilu
bagai kata perdana Mulai itu juga, maka menyahut perdana
Jamilu pun demikian itu juga, serta berjanjian hari dan ketika itu.
Lalu ia pulang masing2 membilang hari yang diperjanjikan itu.
Hatta datanglah kepada hari yang diperjanjikan itu, maka kedua
kaum itu harkat* serta senjata, lalu keluar. Maka datang suruan
perdana Jamilu kepada perdana Mulai, demikian katanya: ‘Apa
tipu kita, karena ia sudah tahu perbuatan kita. Sabar dahulu serta
baik-baikan dengan dia. Apabila sudah lupa kepada harkatnya itu,
kemudian berbuat kehendak kita itu.’ Maka menyuruh pula
kepada Zamanjadi pun demikian juga. Maka kedua kaum diiakan
kata perdana Jamilu itu, lalu ia keluar berhadapan dengan orang
sekalian. Maka ia berkata: ‘Apa tipu kita kepada dua kaum ini?
Apabila Zamanjadi akan kerajaan, perdana Mulai tiada mau
sembah, dan jika perdana Mulai akan kerajaan, Zamanjadi pun
demikian juga tiada mau sembah. Apabila keduanya akan
kerajaan, belum lagi kedangaran dalam dunia suatu negeri dua
kerajaan. Apabila ia keduanya akan kerajaan, jadilah empat
kerajaan dalam negeri, karena empat perdana itu seseorang tiada
tinggi kepada seseorang dan seseorang tiada randah kepada
seseorang. Melainkan kehendak Allah subhanahu wa-ta`ala serta
orang muafakat, maka jadi akan kerajaan. Baik juga kita kata
demikian kepadanya, supaya menanti kehendak Tuhan Yang
Mahamurah berbahagia kepada seseorang akan yang dipetuhan,
itulah sempurna kerajaan. Ada pun pada ketika ini kita buat
demikian pada keduanya: jika ikut kata orang sekalian, al-hamdu
li-'llah, supaya kita menanti karunia Allah ta`ala. Apabila tiada
mengikut, apatah daya sudahlah. Atau salah suatu mengikut kata
ini, yang mengikut itu kaum kita sekalian ini, yang tiada mengikut
itu bukanlah kaum kita sekalian. ’Tellah demikian itu maka
menyuruh kepada dua kaum itu segala perastawa perinta kata itu
semuanya dikatakannya, maka diiakan oleh dua pihak itu. Lalu
keluar kepada orang sekalian, maka demikian keduanya, maka
bersettia muafakat dan bersuka-sukaan kembalilah kepada
adatnya. Maka suatupun tiada ellat lagi dalamnya. Maka keempat
perdana itu seorang tiada tinggi kepada seorang dan seorang
tiada randah kepada seorang, yakni keempatnya bersamakan.
Apabila barang suatu pekerjaan melainkan keempatnya
berhadapan, maka dikerjakan. Kemudian daripada itu jika
seorang tiada atau dua orang atau tiga orang sehingga seorang
jugapun nama keempat juga. Itulah yang bersatuan nama
keempat itu selamah-selamahnya zaman datang kepada zaman.
Itulah adat keempat perdana dalam tanah Hitu. Alkissah dan
diceriterakan oleh yang empunya ceritera, sekali perastawa
keempat perdana berhadapan muafakat. Maka perdana Pati Tuban
ia belayar ke benua Jawa tuntuti agama rasul Allah salla 'llahu
alaihi wa-sallama. Tatkala itu seri sultan Maluku paduka Zainul
Abidin khallada 'llahu mulkahu wa-saltatahu ia datang ke benua
Jawa, maka bertemu kepadanya. Lalu bertanya kepada perdana
Pati Tuban Maka segala hal-akhwalnya semuanya diceriterakan
kepada serri sultan. Lalu bersettia dan muafakat serta perjanjijanjian
dan bersumpah-sumpahan sehingga datang kepada hari
kiamat seperti firman Allah: ‘Inna 'llaha la yukhlifu 'l-mi`ada.’
Itulah pertama yang memulai perjanjian. Hatta datang musim
sultan pun pulang. Sehingga datang ke tanah Bima ada suatu
fitnah dengan raja Bima, lalu barparang pada ketika itu. Empat
puluh orang pendagar, yakni antun-antun, mengiring kepada serri
sulthan Zainul Abidin. Hatta dengan ajal Allah maka datang
seorang hulubalang raja Bima. Ia datang menuju serri sultan, lalu
menikam dengan lembingnya kennah kepada sultan Maluku, dan
serri sultan pun serta menettah hulubalang itu. Lalu mati
hulubalang itu dan raja pun luka. Maka keempat puluh pendagar
itu dinaikan kepada raja di atas kelengkapan, lalu belayar. Hatta
berapa lamanya di tengngah jalan maka serri sultan Zainul Abidin
pun wafatlah. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji´un. Pada ketika
itulah bawah kepada pendita yang alim, tuhan Bahrul* namanya,
akan kadi di negeri Ternate. Maka diceriterakan oleh [yang
empunya ceritera] perdana Pati Tuban ia pulang ke tanah Hitu,
maka mengatakan peri hal-akhwal perjanjian dengan raja Maluku
itu. Semuanya dikatakannya kepada orang sekalian serta
dijungjung titah itu, sehingga datang kepada sultan Khairun Jamil
akan kerajaan zill Allah fi 'l-alamin. Maka masyhurkan
demikianlah riwayatnya: ada pun tatkala serri sultan Khair Jamil
akan kerajaan itu, lalu ia bertanya kepada perdana yang besar
dalam negeri demikian titah: ‘Hai segala perdana dan parwara
sekalian, berapa kampung dalam negeri kita ini?’ Maka menyahut
mankubumi: ‘Ada pun dalam negeri yang dipetuhan sembilan
kampung jumlahnya, sepuluh dengan negeri Hitu.’ Lalu menyuruh
kiaicili* Darwis akan utusan ke tanah Ambon meneguhkan pula
perjanjian itu, sehinggalah termasyhur Ternate dengan Hitu. Ada
pun tatkala utusan datang ke Ambon itu singga di tanah Boanoh*,
maka lalu ke pantai Eran* dan dari pantai Eran* itu lalu ke
tanjung Siyal. Ia masuk ke pantai Waibuti, lalu menyeberang ke
tanah Hitu. Pada ketika itulah negeri Hitu dan negeri Waiputih
serta negeri Eran* ketiganya muafakat bersama-sama. Tellah
demikian itu kuceriterakan yang empunya ceritera. Tatkala
perdana Pati Tuban ia datang dari tanah Jawa itu, lalu negeri Hitu
pun masuk iman kepada Allah dan nabbi Muhammad serta agama
rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Maka suatupun tiada
hisab* melainkan memerintahkan tanahnya serta agama Allah
dan agama nabbi Muhammad salla 'llahu alaihi wa-sallama amin
ya Rabb al-`alamin. Alkissah peri mengatakan perdana Jamilu dan
peri mengatakan panngeran Japara. Maka kuceriterakan yang
empunya ceritera demikian riwayatnya. Tatkala perdana Jamilu
menyuruh utusan ke tanah Jawa mengadap kepada pangeran
Japara, maka ia bersettia dan muafakat dengan pangeran. Tatkala
itu nyai Bawang* akan kerajaan, maka ia bertanya bangsya
perdana Jamilu, maka semuanya diceriterakan kepadanya. Lalu ia
memberi nama Patinggi: ‘Karena nama Jamilu itu artinya kepada
bahasa Jawa “jangan mengikut”. Itulah sebabnya dan seperkara
lagi nama syaudaraku itu kuberikan kepadanya.’ Hatta datang
musim utusan itu pun pulang dan orang Japara pun gennap
musim tiada berputusan bedagang ke tanah Hitu dan tanah
Ambon sekalian sebagailah, pergi datang berulang2 tiada
berputusan, sehingga Nyai Bawang* pulang ke rahmat Allah. Dan
negeri Hitu pun firaklah* dengan negeri Japara daripada raja
yang kemudian itu kuranlah adilnya seperti raja yang dahulu.
Apabila raja itu tiada dengan adilnya diupamakan matahari tiada
dengan bercahayanya. Daripada itulah maka dikatakan firak,
tetapi bukan firak, sehingga tiada sampai ini juga. Itulah
kesudahannya negeri Hitu dan negeri Japara. Alkissah peri
mengatakan syariat nabbi akhir zaman. Ada pun tatkala masuk
iman serta mengesakan Allah subhanahu wa-ta`ala dan
termasyhurlah agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama,
lalu membuat suatu mesjid tujuh pangkat. Tellah itu maka
dinaikan Maulana ibn Ibrahim akan kadi daripada ia mutakalim
daripada alim mahudum* guru sekalian tanah Ambon. Daripada
ialah termasyhur agama Allah dan agama nabi Muhammad rasul
Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Kemudian daripada itu, maka
kuceriterakan yang empunya ceritera, kepada suatu hari keempat
perdana berhadapan kepada suatu tempat, maka keempatnya
muafakat mengira-mengirakan negerinya. Maka seorang berkata:
‘Mana baik beraja daripada yang tiada beraja?’ Maka kata
seorang: ‘Daripada yang tiada beraja, baik beraja.’ Dan seorang
berkata pula: ‘Daripada beraja baik tiada beraja.’ Maka seorang
pula berkata: ‘Mana faedah yang baik beraja itu dan mana faedah
yang baik daripada tiada beraja itu?’ Lalu berkata keduanya:
‘Demikian faedah yang baik beraja.’ Maka kata seorang pula:
‘Demikian faedah yang baik daripada yang tiada beraja.’ Maka
kata pula: ‘Bennar juga kata keduanya itu tiada salah, tetapi kita
naikan dahulu seorang akan kerajaan, supaya kita periksai
kepada faedahnya yang baik beraja atau faedah yang baik tiada
beraja itu.’ Lalu dinaikan kaum gulawarganya seorang akan
kerajaan. Maka digelarnya Latu Sitania namanya, yakni artinya
‘raja tanya’, nama yang dijungjung. Dan dinaikan hukum*
AbubakarNaseddiki* namanya. Maka suatupun tiada ellat dalam
tanah Hitu. Hatta berapa lamanya keempat perdana berhadapan
serta orang banyak, maka raja naik ke atas balai. Ia duduk
bejuntai-juntai, maka kata orang sekalian: ‘Nyatahlah faedah
yang baik beraja dan faedah yang baik tiada beraja.’ Maka kata
keempat perdana: ‘Apa salahnya karena ia kerajaan? Tetapi
sehinggalah kerajaan, yakni dipawahkan*. Ada pun amar dan nahi
serta adat semuanya itu melainkan keempat perdana juga.’ Apa
yang kehendaknya itulah diadatkan daripada zaman datang
kepada zaman turun-menurun. Tiada lain daripada keempat
bangsya itu, melainkan kehendak Allah ta`ala juga tiada dapat
dikatakan. Alkissah dan kuceriterakan tatkala itu perastawa
keempat perdana membahagi rakyat. Seorang pengawa empat
gelaran kepada seorang perdana. Demikian juga keempatnya
seorang pengawa empat gelaran turun-menurun, demikian juga
kemudian daripada itu. Dan kuceriterakan sekali perastawa raja
naik kepada sebuah perau. Apa2 kehendaknya tiada ia muafakat
dengan keempat perdana. Ia keluar bersuka-sukaan sehingga
datang kepada suatu pantai, Hunimoa namanya pantai itu. Maka
tiada berupama kepada yang empunya negeri serta melakukan
kehendaknya dan negeri itu pun tiada diketahui kepadanya. Maka
dikata dengan kata yang aib, lalu ia pulang diam dirinya kepada
halnya. Itu pun tiada dikatakan kepada empat perdana itu. Lalu ia
menyuruh kepada negeri yang bukan takluknya. Ia minta tolong
kepadanya. Maka negeri itu keluar dengan angkatan pergi
menyerang kepada negeri itu. Tiada boleh alah, jangan alah naik
ke darat pun tiada boleh, lalu kembali angkatan itu. Maka kata
keempat perdana: ‘Mengapa maka kembali angkatan ini?’ Maka
sahut orang itu: ‘Tiada boleh alah kepadanya.’ ‘Mengapa maka
tiada boleh alah kepadanya?’ Maka kata angkatan itu: ‘Jangan
alah, turun ke pantainya pun tiada dapat.’ Maka kata perdana
Jamilu: ‘Betapa perintah parangnya itu?’ Maka menyahut orang
itu: ‘Ada pun panglimanya itu terlalu sangat gagahnya. Apabila
kita langgar ke darat, maka ia keluar, lalu sekali-kali di aluan
angkatan itu serta menetta. Sebab itulah maka tiada dapat turun.
Demikianlah halnya orang itu.’ Tellah didengar kata orang
demikian itu, serta menyingsing tangan bajunya, lalu ia becakap
di hadapan orang sekalian, demikian katanya: ‘Insya Allah ta`ala
berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama, jika beta
tiada dapat alah kepada negeri itu, beta pun tiada kembali.’ Tellah
demikian itu maka ia membuat suatu maslahat serta dengan
panah di aluan kelengkapannya itu. Hatta ia datang, lalu langgar
ke darat. Maka panglima negeri itu keluar, lalu sekali-kali di aluan
kelengkapan itu. Maka dilepas kepada maslahat itu serta dengan
kehendak Allah ta`ala kennah panglimanya itu mati dan orang
banyak itu pun undur serta lari. Maka diikut belakangnya orang
itu, lalu alah kepada negerinya. Tellah demikian itu, maka ia
kembali dengan kemenangngannya makan minum bersukasukaan.
Maka kata orang sekalian: ‘Bennarlah perdana Jamilu
pahlawan dan bijaksana dalam tanah Hitu.’ Lalu disalin dan
dimuliah kepadanya, tiada seupamanya lagi dalam tanah Hitu.
Hatta lama datang kepada lamanya, makin bertambah kebajikan
dan kepujian. Itulah kehendak Tuhan Yang Mahamurah kepada
makhluknya, berbahagia seseorang-orang dalam dunia. Alkissah
dan kuceriterakan yang empunya ceritera: sekali perastawa sebua
perau Saki Besi Nusatelu* ke laut Puluh Tiga mengambil ikan.
Maka ia datang membawah khabar kepada perdana Jamilu,
demikian katanya: ‘Ada kami bertemu sebua perau di laut Puluh
Tiga. Selamanya umur kami hidup dalam dunia, bulum lagi
melihat rupa manusyia bagai rupa orang itu. Tubuhnya putih dan
matanya seperti mata kucing. Lalu kami tanya kepadanya, ia tiada
tahu bahasa kami dan kami pun tiada tahu bangsyanya.’ Maka
kata perdana Jamilu: ‘Pergilah engkau bawah ia ke mari.’ Maka
kembali pula bawah ia datang ke negeri kepada perdana Jamilu.
Lalu ditanya kepadanya: ‘Darimana datang dan apa nama
negerimu?’ Maka ia menyahut: ‘Ada pun kami ini datang di sini
kami sessat tiada tahu jalan. Maka kami jatuh pesir* ke tanah
sebelah dan kapal kami pun tekarang di laut Puluh Burung*. Maka
tinggal kapal kami, naik kepada sampang endak pulang ke negeri
Portugal. Tetapi malim tiada tahu, maka kami datang ke mari.
Apatah daya, untung kami di sini.’ Lalu diberinya tempat
membuat rumahnya ia duduk. Hatta berapa lamanya maka ia
memohon setengah duduk menungguh rumahnya dan setengah
membawah khabar kepada orang besarnya. Hatta datang musim
barat, maka menyuruh kapalnya datang gennap tahun tiada
berputusan lagi. Jadi ramai bandar di tanah Hitu dan termasyhur
sekalian tanah Ambon. Kepada zaman itulah maka digelarnya
kepada perdana Jamilu ‘kapitan Hitu’ namanya dan berjanjian
apabila datang kapalnya, maka diberinya masara persalin kepada
Kapitan Hitu. Gennap tahun diadatkan selamanya, maka suatupun
tiada hujat dalamnya pada ketika itu dan termasyhur nama
Kapitan Hitu dari negeri Ambon sampai negeri Portugal. Maka raja
Portugal digelarnya dua nama, suatu Kapitan Hitu, kedua Don
Jamilu namanya. Hatta datang lama dengan lamanya serta
kehendak Allah ta`ala yang kebaikannya itu dibalaskan oleh
Tuhan Yang Mahamurah datang kejahatannya. Sekali perastawa
ia minum mabuk, lalu berampas-rampasan serta haru-biru dalam
pasar. Maka disampaikan kepada hukum dan penghuluh agama,
maka kata penghuluh agama: ‘Salah orang itu melainkan sampai
nyawanya.’ Maka kata keempat perdana: ‘Bennar kata hukum dan
penghuluh agama, tetapi ampun dahuluh kepadanya, karena
sudah termasyhur kita membuat baik kepadanya. Kemudian kita
membuat jahat pula, apa hal nama kita didengngar oleh orang?
Baik kita pindahkan dia kepada tempat yang lain, jangan sama
senegeri kita.’ Maka dipindahkan dia ke tanah sebelah kepada
tempat yang baik ia duduk, daripada negeri itu tiada beragama
dan lagi banyak minuman anggur. Seperkara lagi sama
makanannya dan minumannya. Itulah hal keempat perdana. Pada
ketika itu tiada dikira-kirakan kepada hari yang kemudian. Hatta
berapa lamanya menjadi fitna, lalu paranglah dengan dia. Sorangmenyarang,
alah-mengalah sebagailah tiada berputusan parang
sabil Allah. Sekali perastawa keempat perdana menyarang kepada
sebuah negeri kafir. Maka keluar kafir itu serta barparanglah
kedua pihak itu seperti orang bepasaran, jual-beli, tukarmenukar.
Bunyi senjatanya diupamakan guruh di atas langit.
Hatta berapa dalamnya pun parang lanatullah itu dan tentara
Islam itu pulang serta kemenangnya, bersuka-sukaan, makanminum
dan bergela-gelaran nama panglimanya itu, sehingga
dimasyhurkan dua nama, pertama Lekalahabesi dan kedua
Tubanbesi, daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi
wa-sallama dan Tubanbesi pun syahid pada ketika itu. Tellah
demikian itu maka adinda perdana Jamilu belayar ke tanah Jawa
mengadap kepada pangeran Japara. Maka pangeran Japara
menyuruh tujuh buah gurap mengantarkan dia. Hatta datang ke
tengah laut antara Jawa dan Bali, maka ia sakit serta dengan
ajalnya, maka ia meninggal negeri fanah datang kepada negeri
baka. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un. Dan maitnya itu
ditaburkan bauh-bauan, maka dimasukkan ke dalam petti, lalu
belayar dibawah oleh angin dan arus jatuh datang ke tanah Seran.
Maka ia menengar khabar orang, ada sebuah kapal di tanah
Bandan*. Lalu menyuruh sebuah gurap antar kepada mayit itu
dahuluh dan ain inayat naik kepada sampangnya ennam buah itu
dan gurapnya itu menanti di tanah Seran. Hatta ia datang ke
Bandan, lalu naik rampas kepada kapal itu dan orangnya itu habis
dibunuhnya. Maka ia pulang kepada gurapnya, lalu belayar ke
Ambon. Maka didengar oleh kafir itu, ia menyuruh angkatan
mengadang di tengngah jalan. Hatta berapa lamanya, maka
bertemu kedua kelengkapan itu, lalu berparanglah. Maka
penghuluh kelengkapan itu kira-kiranya sukar karena banyak
kafir itu. Maka ia meninggal dua buah gurap sehingga dinaikan
orangnya, lalu ia masuk ke pantai Hitu bersama-sama dengan
tamannya yang mengantarkan mayit itu dan diturunkan kepada
mayit itu. Maka dipeliharakan dan diadatkan kepada mayit itu
sehingga datang kepada seratus harinya. Tellah demikian itu
maka dihimpunkan orang serta kelengkapan Japara itu pergi
menyerrang kepada sebuah negeri kafir, Hatiwe namanya. Pada
ketika itulah pendagar Tahalele menyerrang buankan dirinya ke
tengah tentara kafir itu seperti harimau. Tiada dapat terpandang
mukanya oleh musuh itu, lalu alah negeri itu. Maka ia pulang
dengan kemenangngannya sehingga datang ke negeri bersukasukaan,
makan-minum dan disalininya kepada pendagar Tahalele
serta digelarnya pahlawan Tubanbesi dan syamsyirnya Lukululi,
artinya ‘patah tulang’. Namanya digantikan Tubanbesi yang mati
itu. Inilah muafakat orang parang sabil dalam dunia. Entah
berapa lagi dalam akhirat dibalaskan Allah ta`ala karena sabda
nabi salla 'llahu ’alaihi wa-sallama: ‘Apabila mati Islam, dalam
akhirat bulum lagi diterima oleh malak al Ridwan, jika bulum
dilepaskan oleh malak al Zabaniah.’ Yakni artinya bulum lagi
masuk syurga, jika bulum lagi lepas daripada azab naraka.
Apabila Islam mati parang sabil, maka dalam akhirat suatupun
tiada hisab* kepadanya melainkan masuk syurga. Itulah manfaat
orang parang sabil dalam akhirat. Alkissah peri mengatakan
parang Don Duarde datang daripada negeri Portugal serta dengan
kelengkapannya, entah berapa-rapa panglimanya, maka ia naik ke
darat, lalu masuk ke medan dan berbunyilah gendang, suisa* dan
serunai, caramela* pelbagailah bunyi-bunyian. Maka didirikan
panji-panji parang dan tentara Islam pun demikian lagi.
Panglimanya dan pendagarnya serta dengan harkatnya. Maka
kedua pihak berhadapan seperti orang bersembahyang mengadap
kepada kiblat. Lalu bertempik kedua pihak itu upama guru di atas
langit bunyi tempiknya. Hatta seketika juga mardan* Khatib ibn
Maulana dan maradan Tahalele ibn Abubakar Nasiddik keduanya
syahid. Kemudian daripada itu mardan Totohatu ibn Zamanjadi ia
bertempik, lalu menetta, maka ditankis oleh laknatullah itu.
Esfinkarnya* putus kedua pangkal, maka patah parang kafir itu.
Hatta datang seketika lagi masuk pula ke medan, maka bertempik
Umar, pendagar parang. Lalu ia menetta serta merampas panjipanji
kafir laknatullah itu, maka patah pula laknat itu. Seketika
juga himpunkan orang dan panglimanya sekalian serta dengan
Den Daurdia*. Daripada sanngat marah hatinya kepada panjipanjinya
itu, maka masuk pula parang ke medan. Maka kata
pahlawan Tubanbesi: ‘Untunglah aku sekarang pada ketika ini,
karena pintu syurga sudah terbukah.’ Lalu bertempik
menyerbukan dirinya ke dalam tentara kafir itu. Ia beparang
tettak-menettak serta kehendak Allah ta`ala kulitnya tiada makan
besi. Maka dipaluh dengan esfingarnya* laknatullah itu, maka
ditangkis oleh pahlawan itu, patah tulang tangannya yang kiri.
Maka tentara kafir itu cerai-berrai, masing-masing melarikan
dirinya, lalu naik kepada kelengkapannya kembali serta dengan
dukkacittanya dan orang Hitu pun kembali memeliharakan
mayitnya itu. Alkissah peri mengatakan sultan Maluku
demikianlah riwayatnya, yang diceriterakan oleh yang empunya
ceritera. Ada pun tatkala itu datang sebuah kapal membawah
kepada serri sultan Maluku ke tanah Ambon. Ia masuk ke Kota
Laha, maka khabarkan orang kepada negeri Hitu dan tanah
Ambon sekalian. Maka keempat perdana menyuruh orang
periksyai kepada khabar itu, bennarkah atau tiadakah. Maka
datang orang itu katanya: ‘Bennar juga khabar itu.’ Maka keempat
perdana muafakat: ‘Apa tipu kita karena janjian kita serta
sumpahan?’ Lalu menyuruh kepada kapitan* Feranggi itu minta
bedamai. Maka ia pun mau,lalu bedamai orang Hitu dan orang
Feranggi. Tellah demikian itu, maka menyuruh tanya kepada
gurendur Peranggi itu, demikian katanya: Dapatkah atau tiadakah
kami endak menyuruh melalat kepada raja Ternate itu?’ Maka
kata gurendur Feranggi: ‘Mengapa maka tiada dapat, karena kita
sudah bedamai.’ Lalu menyuruh melalawat* dengan tipu
maslahat. Empat puluh mata keris dimasukkan ke dalam gendaga
Seran dan di atas keris itu has* sehellai dan di atas has itu sirri
pinang dan bunga serta bauh-bauan. Dan empat puluh orang
gaggah membawah makanan serta gendaga itu di hadapan raja.
Lalu dibukah sendirinya serta pandang kepada keris itu, maka
raja pun tercengang tiada boleh bersuarah, lalu ditudung pula
kepada gendaga itu. Hatta lagi maka titah syah alam kepada
empat puluh orang itu: ‘Pulanglah engkau bawah gendaga itu dan
sampaikan salamku kepada empat perdana. Ada pun daging
darahku sekali pun tiada bagai demikian ini. Tanda kasih dan
tulus serta kehendaknya itu tellah sampailah kepada kami, maka
kami pun terima dengan sempurnanya. Ialah bennar syaudaraku
dari dunia datang ke akhirat. Inilah tanda berteguhan ikrar dan
tasdik.’ Lalu orang itu pulang serta gendaga itu dan sampaikan
salam titah itu kepada keempat perdana. Maka keempat perdana
pun endak mengulang lagi, lalu kapal pun belayar membawah
kepada serri sultan. Maka tanah Hitu serta tanah Ambon sekalian
paranglah dengan kafir laknat itu. Alah-mengalah, sarangmenyarang
sebagailah parang sabil Allah. Alkissah dan
diceriterakan yang empunya ceritera. Kemudian daripada parang
Don Daurde itu, maka datang kapitan Sanjo*, terlalu ammat
gaggahnya. Ia naik ke darat, lalu membuat kotanya di pantai Hitu.
Maka ia parang siang malam, pagi petang tiada berkeputusan.
Dan negeri Hitu pun pinda ke atas bukit, Ulukulu namanya,
betahanlah di atas bukit itu. Hatta berapa lamanya alah negeri itu,
maka naik pula ke atas bukit Mamala, betahanlah di situ. Hatta
berapa lamanya alah pula bukit itu. Maka negeri semuanya itu
takluklah kepadanya kafir itu. Sehingga keempat perdana dan
setengngah negeri tiada berapa itu pinda ke Tanah Besar. Ia
duduk di negeri Lesiela*, maka berulang-ulang beparang di tanah
Hitu. Pada ketika itu pahlawan gimelaha* Laulata ada di tanah
Ambon. Ialah memeliharakan negeri sekalian serta mengeluarkan
angkatan ke tanah Hitu. Maka ia langgar kepada sebuah kapal,
lalu ia kembali duduk di negeri Luhu serta meneguhkan tanah
Ambon. Tellah demikian itu, maka hukum Abubakar pergi
mengadap kepada serri sultan di Maluku, yakni tentukan
perjanjian itu. Entah apa kehendaknya titah, maka ia pulang ke
tanah Ambon. Hatta didengar negeri sekalian di tanah Hitu tellah
datang hukum Abubakar daripada Ternate, lalu menyuruh gelaran
Tuheasal dan Tuhelusun datang kepada hukum dan keempat
perdana, demikian katanya: ‘Negeri sekalian empunya sembah
datang ke bawah kadim tuhanku. Ingatkah lagi rakyat tuhanku
atau tiadakah lagi?’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Mengapa maka
kami tiada ingat? Ingat juga, tetapi bulum lagi datang kepada
ketikanya dan waktunya.’ Maka menyahut pula gelaran itu:
‘Bilamana lagi tuhanku maka datang ketikanya dan waktunya?
Tetapi negeri tuhanku sekalian itu sekarang inilah datang
ketikanya dan waktunya melainkan tuhanku pulang dahuluh di
tanah Hitu.’ Maka kata hukum Abubakar: ‘Apabila bagai kata
demikian itu, pulanglah engkau, nyiyahkan kepada kafir itu
dahulu, maka kami percahaya.’ Lalu ia pulang memberitahukan
kepada negeri sekalian, lalu dibunuh kafir yang dalam negeri itu.
Tellah dibunuh itu, maka disampaikan kepada hukum dan
keempat perdana. Tellah demikian katanya: ‘Sudahlah bagai
kehendak tuhan-tuhan itu.’ Maka hukum Abubakar dan keempat
perdana pada ketika itulah pulang ke tanah Hitu. Ia duduk kepada
bukit Hatunuku. Pada zaman itu negeri Hitu sekalian memberi
kepala ikan ia upetti kepada keempat perdana. Itulah perinta
hukum Abubakar Nasiddik dan sekalian negeri pun kembali
kepada hukum Abubakar dan keempat perdana. Hatta berapa
lamanya bertambah -tambah kebajikan dan kemerahan, maka
suatupun tiada ellat sehingga melakukan parang sabil Allah
daripada berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama.
Tellah demikian itu dan diceriterakan negeri Hitu dan negeri
Nusaniwe kedua berhadapan kepada suatu majellis serta
muafakat dan berjanjian. Lalu dipepatutan karena negeri Hitu pun
keempat perdana itu empat bangsyanya dan Nusaniwe keempat
perdana juga, tetapi suatu bangsyanya, jumlahnya dualapan
perdana lima bangsyanya. Lalu Lalu dipepatutan: pertama Pati
Lupa* lawannya perdana Tanihitumesen, kedua Totohatu
lawannya Lisakota, ketiga Latuhalat lawannya perdana Nusatapi,
keempat perdana Pati Tuban lawannya perdana Pati Naelai. Itu
bersuatuan namanya. Apabila kasahkitan negeri Hitu, ia keduanya
juga, atau kebajikan negeri Nusaniwe, ia keduanya juga. Daripada
itulah negeri Nusaniwe ia pinda datang ke negeri Hitu. Suatupun
tiada dengan hisab* karena tatkala muafakat itu
dipersyahdakan*. Nama gelaran negeri Henalale dinamai
Hehahitu dan gelaran negeri Latua dinamai Hehatomi* namanya.
Itulah kesudahan negeri Hitu dan negeri Nusaniwe. Tellah
demikian itu dan diceriterakan daripada negeri Urin* dan Asilulu.
Sungguhpun namanya Ulisiwa, tetapi dalam pihak Ulima. Bennar
juga dalam pihak Ulima, tetapi dalam martabat negeri Hitu.
Daripada itulah maka tatkala ia bertemu kepada orang Peranggi
itu, maka dibawah kepada perdana Jamilu. Maka keempat
perdana menerima kepadanya itu serta dengan berjanji-janjian,
demikian itu katanya: ‘Apabila jika datang kebaikannya pun kita
bersama-sama, jika datang kejahatannya pun kita bersamasama.’
Dan suatu lagi dijanjikan juga: ‘Apabila jika orang dari
sebela pihak Ulisiwa endak masuk muafakat serta negeri Hitu,
maka datang kepada negeri Asilulu, bersama-sama datang ke
negeri Hitu.’ Ada pun perjanjian ini sehingga Alan, Liliboi dan
Larike, Wakasihu dan Urin*, Asilulu suatu juga. Alkissah peri
mengatakan johan pahlawan gimelaha Rubohongi. Ia datang akan
bendahara di tanah Ambon serta kaum gulawarganya gimelaha
Haji dan gimelaha Sakatruana. Lain daripada itu tiada
kuceriterakan sehingga ibn bendahara: pertama gimelaha
Kakasingku* dan (kedua) gimelaha Jamali dan (ketiga) gimelaha
Kulabu dan keempat gimelaha Aja dan kelima gimelaha Basi dan
keenam gimelaha Angsari*. Itulah daripada pihak bendahara.
Maka datang kepada kerabat serri sultan daripada bangsya raja:
pertama kiyaicili* Cuka, kedua cili Kodrat, ketiga cili Abu Syahid
dan keempat cili Kaba, kelima cili Naya, keenam cili Ici dan
ketujuh cili Aya, kedualapan baginda cili Ali, tatkala bulum lagi
dinaikan kapitan laut, lain daripada itu tiada kusubutkan. Dan
daripada pihak hamba raja pertama Kalaudi dan kedua Usman dan
ketiga Kabutu Malu dan keempat Sagaluwa*, kelima Sibangua,
keenam Ambalau. Lain daripada itu tiada kusubutkan dan sekalian
ini termasyhur pendagar. Pun ia utusan, pun ia pergi datang
berulang-ulang membawah titah sebagailah, karena pada tatkala
itu sangat parang sabil Allah di tanah Ambon. Ada parang di
darat, ada parang di laut, ada mennang, ada yang dimennang, ada
disarang, ada yang menyarang, sebagailah kedua pihak itu tiada
berputusan lagi. Segali perastawa gimelaha Kakasingku* keluar
dengan kelengkapannya, maka ia bertemu dengan angkatan
Nasrani di tanjung Mamala. Lalu melawanlah kedua angkatan itu
daripada waktu duha sehingga datang kepada bakda lohor. Serta
dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi sekali-kali dengan
kelengkapannya dan mayitnya perdana Kakasingku* pun sabil
Allah tiada kettahuan lagi. Kemudian daripada itu dan
kuceriterakan, sekalian keluar dengan kelengkapannya
mendattangi sebuah negeri, Latu namanya. Maka datang
angkatan kafir laknat bantu kepada negeri itu. Maka kedua pihak
berparanglah seperti orang bepasarang beramai-ramaian jualbeli.
Hatta datang malam masing-masing pulang kepada
tempatnya. Apabila datang esok harinya demikian juga, tiada
berputusan berkawal-kawal kedua tentara itu. Hatta datang
kepada suatu ketika serta dengan kehendak Allah ta`ala kepada
pihak Islam itu pergi barjalan ke sini dan orang kawal itu pun
serta dengan alpanya ia tidur. Maka dipandang oleh kafir laknat
tempat itu sunyi dan kotanya itu pun tiada manusyia, lalu ia
masuk. Laknat itu alah kepada kota Islam itu. Dan orang sekalian
itu pun lari masing-masing membawah dirinya sehingga gimelaha
Jamali al-Din, dua bersyaudara gimelaha Angsari* dan Liwa al-
Din, hoja* alim mahudum*: ketiganya syahid, karena Jamali al-
Din itu pahlawan yang termasyhur, ketiganya pendagar parang.
Daripada itulah maka tiada berpaling apa tipu orang banyak serta
dengan kehendak Tuhan Yang Mahatinggi daripada kesudahan
hidup manusyia dalam negeri fanah datang kepada negeri yang
baka. Dan Kalaudi pun dengan kelengkapannya masuk, maka ia
bertemu kepada kafir laknat itu, maka ia syahid serta
kelengkapannya pada ketika itu juga. Maka angkatan itu sekalian
kembali masing-masing ke negerinya. Alkissah peri mengatakan
parang kiyai Mas. Tatkala perdana Tubanbesi belayar ke tanah
Jawa mengadap kepada pangngeran minta tolong kepada agama
rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama, maka pangeran
menyuruh kepada kiyai Mas serta kelengkapannya. Dan
panglimanya yang gaggah dalam angkatan itu Martajiwa namanya
dan seorang Panarukan namanya dan seorang pula Pasiruwan*
namanya. Hatta ia datang ke tanah Hitu dan orang Hitu pun
keluar angkatan serta ia mendatangi negeri kafir itu, lalu masuk
ke dalam negeri. Maka negeri ke dalam kotanya dan orang itu pun
mengikut belakangnya sehingga datang ke pintu kotanya. Maka
panglimanya yang gaggah itu syahid, maka patah parang Islam
itu. Ia undur lalu naik kepada kelengkapannya pulang ke negeri
Hitu. Hatta datang musim, maka ia belayar kembali ke tanah
Jawa. Itulah kesudahan parang kiyai Mas di tanah Hitu tolong
kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Alkissah
dan kuceriterakan yang empunya ceritera, sekali perastawa
keluar angkatan Islam mendatangi negeri kafir dan angkatan
kafir pun keluar. Maka kedua angkatan itu sama bertemu di
tengah jalan antaranya Hitu dan Kota Laha. Maka kedua pihak
berhadapan seperti orang berhadapan serta dengan hidangan
karena sangat maksud Islam ke sana kepada kafir laknat itu.
Sebab pada ketika itu baginda cili Cuka ia menjadi kapitan laut,
sendirinya memeggang panji-panji serta membaca salawat. Lalu
bertempik kedua pihak itu seperti datang tofan bakilat-kilat dan
bunyi senjatanya diupamakan guruh dari atas langit dan asapnya
senjata itu menjadi awan antara langit dan bumi. Dan parangnya
itu daripada waktu duha sehingga datang kepada waktu asar .
Hatta dengan ajal Allah, maka baginda kiyaicili pun syahid. Dan
daripada orang luka dan mati itu tiada kuceriterakan, daripada
ajal itulah meneguhkan hati manusyia serta memberikan
kesudahannya. Ada pun dalam angkatan kafir itu pun demikian
juga luka dan mati, lalu undurlah keduanya angkatan itu. Islam
pun dukacitta hatinya dan Nasrani pun demikian lagi. Masingmasing
pulang kepada tempatnya. Itulah hal parang sabil Allah.
Alkissah dan kuceriterakan johan pahlawan Tahalele ke tanah
Bandan*minta tolong kepada agama rasul Allah salla 'llahu alaihi
wa-sallama. Maka negeri Bandan* sekalian keluar angkatan ke
tanah Hitu. Entah berapa aluannya, tetapi penghulu yang besar
dalam angkatan itu pertama kapitan Falat, kedua kapitan Atijauh,
ketiga orangkaya Watimena dan raja Rosengaing*. Hatta berapa
lamanya datangnya itu dan negeri Hitu pun keluar angkatan serta
dia bersama-sama mendatangi kafir laknat itu dan kafir itu pun
keluar angkatan. Hatta terbit fajar kepada bakda subuh keluarlah
kedua pihak angkatan itu berlawanlah dan bunyi senjata itu tiada
dapat dikatakan. Asapnya itu menjadi awan menudung kepada
kedua angkatan itu tiada berkenalan. Hatta hilang awan itu, maka
dilanggar sebuah kapal, lalu patah parang kafir itu dan angkatan
Islam itu kembali serta kemenangannya, makan-minum bersukasukaan.
Kemudian daripada itu pergi alah kepada negeri,
Tuhahan* namanya, maka ia kembali ke negeri Hitu. Hatta datang
musim, lalu pulang ke tanah Bandan. Kemudian daripada itu
datang pula angkatan itu ke tanah Hitu, tetapi tiada masyhur
parangnya itu. Sehingga datang musim ia pulang. Itulah
kesudahan tanah Bandan* datang ke tanah Hitu tolong kepada
agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama. Alkissah dan
kuceriterakan oleh yang empunya ceritera sekali perastawa orang
Hitu keluar dengan kelengkapannya. Dan angkatan Ferangi pun
keluar sama bertemu di pantai Kota Laha, maka melawanlah
kedua angkatan itu. Pada mati dan luka itu tiada dikira-kirakan
lagi. Hatta berapa lamanya serta dengan kehendak Allah ta`ala
sebuah kelengkapan Islam, hulubalang Pati Lihat namanya,
tebakar oleh api obat bedil sendirinya. Maka didapat oleh kafir
laknat itu, lalu undurlah kelengkapan Islam itu kembali dengan
dukkacittanya. Ada pun pada ketika itu ada juga suruan pangeran.
Ia membuat kota di pantai sebelah berhadapan kota Ferangi. Itu
pun tiada juga jadi kota, itu bukan dialah oleh Ferangi, ia
meninggal sendirinya pulang ke negeri Hitu. Hatta lama dengan
lamanya sebagai juga tiada berputusan parang sabil Allah. Segali
perastawa keluar angkatan kafir laknat itu serta orang Tidore dan
orang Buru mendatangi di negeri Hitu dan orang Hitu pun harkat
menanti di pantai. Hatta datang angkatan itu lalu turun, maka
hulubalang Ulu Ahutan ia becakap di hadapan orang sekalian:
‘Jangan dahulu orang keluar, biarlah aku sendiri keluar dahulu.
Apabila tiada patah orang itu, tuhan-tuhan sekalian keluar.’ Lalu
ia bertempik ke dalam tentara kafir itu serta menettak, maka
patah parang laknat itu. Masing-masing lari terjung ke dalam air
berenang kepada tempatnya sehingga hulubalang Sulaiman:
maka ia tiada paling mukanya, maka ia bertankis-tankisan dengan
perisainya serta undur datang kepada air sehingga lututnya, lalu
naik kepada kelengkapannya pulang ke Kota Laha. Tellah
demikian itu dan kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha
Rubohongi ia pulang ke rahmat Allah meninggalkan negeri fanah
datang kepada negeri yang baka. Maka dihabarkan orang kepada
kafir laknat itu, lalu ia keluar angkatan. Kehendak kafir itu
menggagahi akan mayit bendahara itu, tetapi tiada dapat lagi,
sebab sudah dipindahkan ke Tanah Besar. Lalu ia menyerrang
kepada negeri Hitu. Tatkala itu sekalian hulubalang serta
pendagar semuanya tiada, sehingga Jumat pahlawan al-Din ada,
tetapi ia dalam uzur. Maka pada ketika itulah perdana Kapitan
Hitu memagang senjata, ia masuk parang kepada tentara kafir itu.
Hatta seketika juga patah parang kafir laknat itu, lalu naik kepada
kelengkapannya pulang ke Kota Laha. Itulah parang sabil di tanah
Ambon, sungguh pun disubut tanah Ambon, tetapi tanah Hitu juga
parang siang dan malam tiada berputusan. Kadang-kadang Tanah
Besar masuk kepada parang. Sebab itulah maka dikatakan tanah
Hitu di belakang perisyai dan Tanah Besar di dalam perisyai.
Karena tatkala zaman parang itu hulubalang dan pendagar ada
semuhanya -- pertama Ulu Ahutan, kedua hulubalang Hasan Pati,
ketiga hulubalang Hatib Tunsulu,keempat Pati Baraim, kelima
Umar pendagar, keenam Mahir pendagar, ketujuh pendagar
Nahoda, kedualapan pendagar Nasiela -- hulubalang yang
termasyhur dalam tanah Hitu. Lain daripada itu tiada kusubutkan
melainkan Jumat, pahlawan al-Din. Ialah yang termasyhur
pendagarnya dan terlalu amat gagahnya daripada sekalian. Itulah
sangat parang sabil Allah di tanah Hitu. Dan kuceriterakan
hulubalang kafir laknat itu pertama Don Duarde, kedua kapitan
Sanco*, ketiga Paulo Kastanya dan Dan Tamura dan
Dirgurumaridisi dan Siku Kisua dan Don Disera* dan Fernando
Melo* dan Antoni Laliru. Lain daripada itu tiada kuceriterakan,
sehingga inilah dimasyhurkan sangat parang kafir di tanah
Ambon. Tatkala pada zaman itu alah menang sama kedua pihak
itu. Kuceriterakan menang Islam kepada kafir itu: sekali alah
sebuah kapal di tanah Bandan, kedua sebuah di pantai Hitu dan
ketiga sebuah serta angkatan Bandan* dan keempat langgar
kepada pinsu* dan kelima langgar kepada antonibot*. Lain
daripada itu tiada kuceriterakan. Dan menang kafir kepada Islam
pun demikian lagi, karena parang sabil di tanah Ambon itu tujuh
puluh tahun daripada parang Don Duarde sehingga datang parang
Antoni Furtado*. Tatkala belum lagi datang Furtado itu, maka
datang sebuah kapal Wolanda. Ia masuk ke Hitu, maka orang Hitu
tanya kepadanya:‘Darimana datangmu dan apah nama negerimu?’
Maka ia menyahut: ‘Kami datang dari negeri Hollandes* dan nama
raja kami “Paringsi*”.’ Maka kata orang Hitu: ‘Bolehkah kami
minta armada tolong kepada kami?’ Maka kata orang itu:
‘Mengapah maka tiada boleh? Boleh juga, tetapi menyuruh sampai
kepada Prings* dan orang besar2 di negeri Holanda* supaya
boleh dengar kepada dia empunya pekatahan, bolehkah atau
tiadakah.’ Maka kata keempat perdana: ‘Jika bagai kata demikian
itu,sampaikan dahulu kami punya pekatahan ini. Bagaimana
kehendaknya Prings dan orang besar2, atau kamikah datang ke
sana atau menyuruhkah datang ke mari?’Serta dengan kiriman
tanda alamat tanah Ambon, lalu ia belayar pulang ke negeri
Holandes menyampaikan katahan itu kepada orang besar2 dari
negeri Holandes. Hatta datang musim barat kapitan amiral
Kurnilis* [dan] Istin Warhaga* pun datang. Maka ia berhadapan
kata serta keempat perdana dan berjanjian apah upahan dan
berputusan barang kerja: apabila barang sesuatu perbuatan, jika
salah kepada adat jangan dikerjakan kepada dua kaum itu. Dan
diperjanjikan upahan: apabila alah kepada kotanya, maka orang
Hitu bayar empat ratus bahara kepada Wolanda. Ada pun kotanya
dan senjatanya dan orangnya hitam itu kepada orang Hitu, dan
orang putih itu kepada orang Wolanda. Apabila alah kepada kapal,
maka bayar empat puluh bahara. Kapal serta senjatanya dan
orang putih kepada Wolanda, orang hitam kepada orang Hitu.
Tellah demikian itu, lalu masuk ke Kotah Laha periksai kepada
kotah Feranggi itu. Maka ia pulang, lalu belayar ke negeri
Wolanda menyampaikan berjanjian berputusan kata sekalian itu
kepada Prings vin Nyuranye* dan orang besar2 dalam negeri
Murucisa*. Dan enam orang dinamai ‘graf*’, yakni syaudagar
yang besar lagi artawan, termasyhur dalam negeri Wolanda, ialah
empunya kapal syaudagar yang datang ke tanah bawah hangin
ini. Dan kuceriterakan yang empunya ceritera. Kemudian daripada
kapal belayar itu, maka kapitan Peranggi menyuruh kepada
keempat perdana, demikian katanya: ‘Marilah kita bedamai dan
bebaikan dunia tanah Ambon.’ Tetapi keempat perdana tiada mau,
karena ia ingat kepada perjanjian dengan amiral Istiwin
Warhaga* itu. Daripada tiada mau mengubah janjinya, lalu
peranglah kedua pihak itu tiada berputusan sehingga datang
Furtado. Itulah halnya orang berjanjian. Alkissah peri
mengatakan datang Furtado. Ada pun tatkala datang Furtado
serta kelengkapannya, lalu ia mendatangi negeri Hitu. Dan negeri
Hitu pun pinda ke gunung Pinau*, maka ia naik barparanglah di
sana. Hatta berapa lamanya alah gunung itu,maka negeri sekalian
takluk kepadanya. Lalu dibawah kepada perdana Tubanbesi dan
orangkaya Patiwani kepada kafir laknat itu, sehingga keempat
perdana juga pinda ke Tanah Besar. Maka kafir itu mendatangi
negeri Luhu dan Lasidi*, Kambelo itu pun alah juga semuanya.
Lalu ia mendatangi negeri Iwa* dan orang Iwa* pun keluar
berparang dia.Hatta seketika juga patah parang kafir, sebab
dilontar dengan batu oleh negeri itu kennah kepala kapitan
Furtado, lalu undur pulang ke Kota Laha. Demikianlah parang
Antoni Furtado* di tanah Ambon sehinggalah perangnya. Maka
kuceriterakan keempat perdana pinda ke Tanah Besar itu, dan
perdana Tanihitumesen ia duduk di negeri Anin dan perdana Pati
Tuban ia duduk di negeri Waibuti dan perdana Nusatapi ia duduk
di Gamusungi, yakni negeri Luhu. Maka Kapitan Hitu naik kepada
sebuah perau pergi mencari bantu sehingga ke Seran. Maka
bertemu dua buah kapal Wolanda dan ditanya kepadanya: ‘Mana
kapitan-mor*?’ Maka ia menyahut: ‘Kapitan-mor ada di tanah
Bandan.’ Lalu Kapitan Hitu belayar ke tanah Bandan, maka ia
bertemu dengan kapitan Wolanda itu dan keduanya berhadapan
kata dan bicara. Maka dinaikan empat orang mengikut kapitanmor
itu, lalu belayar dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah
Ambon. Hatta datang musim barat, datang pula sebuah kapal ke
tanah Ambon kepada empat perdana. Maka keempat perdana
menyuruh kepada Mihirjiguna ibn Kapitan Hitu dan mardan Sibori
ibn Tubanbesi keduanya naik kepada kapal itu mendapatkan
angkatan. Hatta datang ke tanah Jawah, maka ia menanti
sehingga datang sama negeri Banten. Hatta berapa lamanya
angkatan pun datang, maka Mihirjiguna dan mardan Sibori
bertanya kepada angkatan itu, demikian katanya: ‘Darimana
angkatan ini dan siapa empunya angkatan ini?’ Maka ia
menyahut: ‘Ada pun angkatan ini angkatan Wolanda, keluar dari
negeri Murucisa* dan empunya angkatan ini Prings van
Nyuranye* dan penghulu dalam angkatan ini amiral Matelif* dan
Istiwin Warhaga*.’ Maka kata Mihirjiguna: ‘Endak ke mana?’ Maka
ia menyahut: ‘Mencari kepada musuh kami, Portugal namanya.’
Maka kata pula Mihirjiguna dan mardan Sibori: ‘Marilah sama kita
ke tanah Ambon, karena musuh itu ada di tanah Ambon.’ Maka
menyahut menyahut pula kata Mihirjiguna itu: ‘Apabila jika
dengan faedahnya, maka kami bersama-sama ke tanah Ambon.’
Lalu Mihirjiguna keluarkan surat perjanjian itu kepada amiral
Matelif*dan Istiwin Warhaga*. Maka dibaca surat itu, lalu ia diam
dirinya. Ada pun bunyi dalam surat itu, demikian buninya:
‘Apabila alah kotanya itu, maka kami beri empat ratus bahara
cengkeh. Ada pun kotanya serta senjatanya kepada orang Hitu
dan orangnya hitam itu pulang kepada hitam dan orangnya putih
itu pulang kepada putih. Apabila jika alah kepada kapalnya, maka
beri empat puluh bahara. Ada pun kapalnya serta senjatanya
kepada Wolanda dan orang putih serta kapalnya, dan orang hitam
kepada orang Hitu dan artanya itu bahagi dua.’ Telah demikian
itu, hatta datang kepada hari dan ketika yang baik, lalu belayar
serta Mihirjiguna dan mardan Sibori ke tanah Ambon, lalu masuk
kepada labuan kota Feranggi itu. Hatta datang itu, maka kapitan
Feranggi menyuruh datang tanya kepadanya,demikian katanya:
‘Darimana angkatan ini?’ Maka ia menyahut: ‘Angkatan ini dari
negeri Wolanda.’ Lalu katanya kepada kapitan Feranggi itu:
‘Keluar engkau dari tanah ini.’ Maka kata kapitan Feranggi itu:
‘Mengapah maka kata demikian? Karena kami empunya negeri ini,
mengapah maka kami keluar dari tanah ini?’ Maka kata
amiral:‘Bukan engkau empunya tanah, karena tanah ini ada yang
empunya. Sudah ia berikan kepada kami dan ia pun ada pada
kami.’ Lalu dikeluarkan kepada Mihirjiguna dan mardan Sibori di
hadapan, lalu diam kapitan Feranggi itu tiada berkata-kata lagi.
Hatta datang pagi hari dikeluarkan anak kunci itu diserahkan
kepada tangan amiral, lalu keluar duduk di luar. Maka diberinya
perau, lalu ia belayar pulang ke negerinya. Tellah demikian itu
maka kata amiral Kurnilis Matelif* dan Istiwin Warhaga* kepada
Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Betapa kota ini?’ Maka kata
Kapitan Hitu serta orangkaya-kaya: ‘Baik juga kita rusakkan kota
ini buan ke laut.’ Maka kata amiral dan Istiwin Warhaga*: ‘Bennar
juga kata itu, tetapi kita mengambil kota ini seperti kita
mengambil isteri orang. Apabila datang cari kepada isterinya,
bagaimana tempat kita jawab kepadanya? Ada pun tempat kita itu
melainkan dengan kota, maka kita melawan dengan dia.’ Maka
kata Kapitan Hitu dan keempat perdana: ‘Jika bagai kata amiral
itu, baiklah Wolanda duduk kepada kota itu, tetapi barang kerja
kota atas orang hitam. Itulah kerjakan dia, ada pun orang
Wolanda sehingga perintahkan dan mengaraskan.’ Maka kata
amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Diiakanlah jika bagai kata
demikian itu.’Lalu dinaikan Firdirik Hutman* gurendur di kota
Ambon. Maka amiral Matelif* dan Istiwin Warhaga* pulang serta
angkatannya menyampaikan khabar kepada Frings* dan orang
besar2 dalam negeri Wolanda. Hatta datang musim barat, datang
pula angkatan itu ke tanah Hitu, masuk ke Kota Laha. Maka
datang baginda cili Ali dan gimelaha Aja dan hamba raja Ambalau
minta kepada amiral, demikian katanya: ‘Tellah sudah selamat
tanah Ambon daripada bahaya. Marilah kita ke Maluku tolong
kepada negeri Ternate.’ Maka kata amiral Matelif* dan Istiwin
Warhaga* menyahut amiral keduanya: ‘Jika dengan manfaatnya
maka kami mau ke Maluku.’ Maka kata baginda cili Ali dan
gimelaha Aja: ‘Apatah lagi manfaat? Karena Kapitan Hitu
mengatakan upahan itu kami semuanya di situ.’ Maka kata amiral:
‘Yang tellah sudah itu apa betapa disubut lagi?’ Maka kata kiyaicili
dan gimelaha: ‘Jika bagai kata demikian itu, apatah kehendak
amiral itu? Katakanlah, supaya kami dengar.’ Maka kata amiral
Matelif* dan Istiwin Warhaga*: ‘Berilah hasil tiga negeri itu
kepada kami, maka kami mau ke Ternate.’ Maka kata kiyaicili Ali
dan gimelaha dan hamba raja:‘Mana tiga negeri itu?’ Maka kata
amiral: ‘Negeri Luhu dan Lesidi dan Kambelo, tiga buah negeri itu
kami minta.’ Maka gimelaha dan kiyaicili tiada mau kepadanya
dan amiral pun endak juga kepadanya. Lalu kata gimelaha dan
kiyaicili: ‘Marilah kita pulang dahulu, esok hari maka kita berkatakata’,
lalu pulang. Maka menyuruh panggil kepada kapitan serta
keempat perdana Hitu, maka kata baginda cili Ali kepada gimelaha
dan orangkaya-kaya semuanya: ‘Apa tipu kita karena negeri
Ternate dalam kesukaran?’ Maka ia saat*: ‘Endak kepada hasil
tiga buah negeri itu, maka kita berilah salah, tiada beri salah. Apa
tipu kita sekarang ini?’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun sudah
rusak negeri Ternate serta dengan arta isi rumahnya habis
dirampas oleh kafir itu. Moga2 dengan kehendak Allah ta`ala dan
berkat agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama, maka
kembali negeri Ternate serta dengan kerajaan. Dari mana akan
datang ganti isi astanah raja? Karena rakyat sekalian wa-'llahu
a`lam dalam kesukaran, melainkan hasil datang dari tanah
Ambon. Pada ketika itu, apabila kembali rayat semuanya dan
negeri Ternate pun tettap, sudah tiada kurang kepada hasil masuk
negeri Ternate kepada hari yang kemudian itu.’ Lalu berkata:
‘Apabila angkatan itu ia mau tolong kepada negeri Ternate, insya
Allah, itu upahnya atas tanah Hitu.’ Tellah demikian itu maka
gimelaha dan kiyaicili katakan kepada amiral Kurnilis Matelif* dan
Istiwin Warhaga* dan kapitan sekalian dalam angkatan itu. Maka
kata Kapitan Hitu, maka diiakanlah kapitan sekalian itu. Dan
Kapitan Hitu pun becakaplah di hadapan orang sekalian itu. Lalu
kata amiral: ‘Berilah anak Kapitan Hitu ikut kepada kami supaya
kami sampaikan kepada Prings dan orang besar di negeri
Wolanda.’ Maka diberikan anak Kapitan Hitu, Unus Halaene
namanya, ia mengikut kepada amiral belayar ke Maluku, sehingga
datang ke Ternate. Maka didirikan kota di negeri Melayu. Maka
sekalian rakyat pun kembali ke negeri Ternate dan dinaikan serri
sulthan paduka Mudafar ibn Sa`id al-Din syah, lil* Allah [fi] 'l-
`alamin akan kerajaan dan diturunkan gurendur serta soldadunya
duduk menunggu kota. Lalu belayar angkatan itu membawah
kepada Unus Halaene ibn Kapitan Hitu dan anak raja Nusaniwe
dan anak orangkaya Lakatua dan anak orangkaya Natahuat* ke
negeri Wolanda. Dan kuceriterakan tatkala gurendur Hutman* itu,
maka datang amiral, Simon Hun* namanya, serta
kelengkapannya. Ia itu banyak kasihnya akan artanya kepada
orang serta dengan empenak supaya menjadi jinak sekalian orang
Ambon. Kemudian daripada ia itu maka datang pula amiral, Piter
Bot* namanya,mengantarkan kepada Unus Halaene. Iapun
demikian juga murahnya dan pada ketika itu gurendur Hutman*
pun belayar karena lamanya gurendur Hutman* enam tahun ia
duduk. Maka dinaikan Yangseper Yangsi* akan gurendur sehingga
tiga tahun. Tatkala itu datang jeneral, Gerat Rangsi* namanya. Ia
datang dari Betawih, lalu ke Maluku, dari Maluku datang ke
Ambon, lalu ke Bandan, dari Bandan* datang ke Ambon pula.
Pada zaman itu negeri Luhu dan Kambelo menerima kepada orang
Ingeris, ia duduk di negeri Kambelo. Maka gurendur Yangseper
Yangsi* menyuruh serta kelengkapannya masuk ke pantai
Kambelo suruhnya Ingeris itu keluar, ia tiada mau. Maka kedua
pihak sama petuguhnya, pasang-memasang, tembak-menembak
kedua kaum itu. Hatta berapa lamanya, maka datang jeneral
Gerat Rengsi* dan perdana Kapitan Hitu menyuruh kepada
gimelaha Syabidin*, karena gimelaha itu mangkubumi di tanah
Ambon, daripada itulah menyuruh periksai kepadanya. Maka kata
gimelaha Syabidin: ‘Mengapa maka tanya kepada beta lagi?
Karena beta sudah keluarkan dia dari negeri Luhu. Maka sekarang
ini ia duduk di negeri Kambelo, tiada beta mengetahui duduknya
itu. Mana kehendak jeneral itu kerjakan, tetapi serta adil kepada
jeneral, karena tempat duduk Ingeris itu tanah raja Ternate dan
negeri Kambelo itu pun rakyat raja Ternate. Itulah beta taksirkan
dahulu. ’Tellah demikian itu, maka jeneral Gerat Rangsi dan
gurendur Yangseper Yangsi* menyuruh memagang senjata endak
melanggar kepada negeri Kambelo. Maka kata perdana Kapitan
Hitu kepada jeneral dan gurendur: ‘Sabar dahulu, supaya kami
menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo. Apabila
ia mengikut, al-hamdu li-'llah, bebaikan kita serta dia. Jika tiada
mengikut, apatah dayah, lepas taksir kita.’ Maka diiakanlah
jeneral dan gurendur kata Kapitan Hitu demikian itu, lalu
menyuruh kepada orangkaya-kaya dalam negeri Kambelo kata
yang kebaikan dan kebenaran. Maka mengikutlah ia, lalu pindah
ke pantai Eran* dan orang Wolanda pun masuk ke dalam negeri
itu dan orang Inggeris pun keluar naik kepada kapalnya, lalu
belayar pulang ke negerinya.Maka jeneral dan gurendur pulang ke
Kota Laha. Maka dinaikan Aren Bulok* akan gurendur ganti
kepada Yangseper Yangsi*, lalu ia belayar pulang ke Betawih dan
gurendur Aren Bulok* duduk di kota Ambon. Pada ketika itu ada
suatu fitna, maka berparanglah dengan negeri Nasrani yang
takluk kepadanya itu, Leitimol* namanya. Hatta berapa lamanya,
maka Kapitan Hitu bedamaikan dia, maka suatupun tiada fitna
dalamnya. Hatta lama dengan lamanya sehingga datang kepada
tahunnya, lalu ia pulang dan dinaikan Herman Aspel* akan
gurendur ganti kepada Aren Bulok*. Alkissah peri mengatakan
tatkala Herman Aspel* ia akan gurendur itu, maka kedua kaum
muafakat serta bersakutu bandar Wolanda dan Inggeris itu, maka
suatupun tiada hisab* lagi. Hatta berapa lamanya serta dengan
kehendak Allah ta`ala datang suatu bala Allah.Orang Inggeris dan
Jupun endak tipu kepada Wolanda, serta kotanya maka diketahui
oleh Wolanda, lalu dibunuh kepada Inggeris dan Jupun semuanya,
karena gurendur itu itu sangat bengis. Daripada ia memulai
parang di tanah Ambon. Pertama berkellahi dengan negeri
Hutumuri, kedua berkellahi dengan negeri Lesibata, ia serta
gimelaha Syabidin mengalah kepada negeri itu. Maka Kapitan Hitu
bawah kepada kipati Lesibata, ia bedamai dengan gurendur.
Segali perastawa tanah Ambon semuanya serta gimelaha
berbantahkan harga cengkeh, tawar-menawar dengan orang
Wolanda. Demikian kata gimelaha dan orangkaya-kaya sekalian:
‘Minta seratus harga sebahara.’ Maka kata gurendur: ‘Enam puluh
harga sebahara.’ Maka kata orangkaya-kaya: ‘Berilah delapan
puluh.’ Maka kata gurendur: ‘Betapa kami disamakan dengan
Inggeris, karena ia tiada hilang belanjanya. Mengapah maka ia
disamakan kami, karena kami banyak belanja hilang kepada
soldadu dan marinero* membuat kota. Mengapah maka minta
delapan puluh daripada kami banyak arta keluar?’ Maka kata
orang Ambon: ‘Mengapa maka gurendur kata demikian? Karena
gurendur banyak arta hilang itu ada dengan hasilnya. Mengapa
maka kata demikian itu?’ Lalu orang Ambon tiada keluarkan
cengkeh, maka jadi fitna, endak berkellai kedua pihak itu. Maka
kata Kapitan Hitu kepada kedua pihak itu: ‘Apa kerja berkellai?
Baik juga gurendur menyuruh belayar ke Betawih kepada jeneral
menyampaikan kata orangkaya-kaya itu. Dan apa kata jeneral itu,
maka gurendur dan menyuruh kepada paduka seri sultan di
Ternate. Betapah kehendak titah itu, maka kita lakukan bagai
titah itu.’ Lalu ia menyuruh ke Ternate dan menyuruh ke Betawih.
Hatta datang musim barat maka maka datang kapitan Warhaga,
surat dari Betawih dan titah dari Ternate pun datang. Maka
semuhanya dengan Wolanda pun berhimpun di pantai Luhu
memutuskan harga cengkeh itu. Karena surat dari Betawih
demikian katanya: ‘Ada pun kepada bicara yang lain, baik dan
jahat, seperti membuat kota atau berkellai atau kurang kuasa
barang sesuatu, maka atas kepada jeneral. Jikalau kepada
benyagah Ambon itu atas kepada gurendur dan fetor* semuhanya
di tanah Ambon.’ Itulah kesudahannya. Ada pun daripada titah
seri sultan di Maluku demikian bunyinya: ‘Bahwa sesungguhnya
tanah Ambon itu takluk kepadaku, tetapi kepada artanya itu mana
kehendaknya tiada kepadaku, karena benyagaan itu sama sukah
keduanya.’ Itulah kesudahannya daripada titah. Maka kata orang
sekalian: ‘Jika bagai kata titah keduanya itu, atas kepada
gimelaha dan gurendur memutuskan harga cengkeh ini.’ Maka
kata gurendur: ‘Bukan aku, atas kepada fetor semuhanya.’ Maka
kata fetor kepada orangkaya gimelaha: ‘Betapa harga cengkeh
ini?’ Maka kata orangkaya gimelaha: ‘Bukan aku empunya
cengkeh. Yang empunya cengkeh itu orangkaya-kaya sekalian di
tanah Ambon.’ Lalu kata orangkaya-kaya: ‘Berilah tengah delapan
puluh.’ Maka kata fetor: ‘Tengah tujuh puluh.’ Maka kata
gimelaha: ‘Berilah tujuh puluh.’ Maka fetor pun mau dan
orangkaya-kaya sekalian pun mengikut kata gimelaha itu, tujuh
puluh harga sebahara cengkeh. Kemudian kata gurendur: ‘Sudah
putus tujuh puluh, tetapi beta minta kepada orangkaya gimelaha
dan orangkaya-kaya semuhanya enam puluh tujuh. Tiga real itu
akan harga siri pinang soldadu.’ Maka diiakanlah orangkaya-kaya
semuhanya kepada kata gurendur itu enam puluh tujuh real.
Itulah keputusan harga ce
ngkeh dan negeri sekalian pun keluar cengkeh timbang kepada
fetor. Tellah demikian hatta datang kepada tahun yang lain,
datang utusan dari Ternate minta bantu kepada gurendur, karena
banyak datang Kastila ke Tidore. Tatkala itu jeneral Lurinsu Riyal*
dan amiral Astiwin Warhaga* pun datang serta kelengkapannya
delapan buah kapal. Maka disampaikan surat itu kepadanya, maka
kata jeneral: ‘Ada pun beta ini endak ke Bandan, tetapi surat dari
raja dan gurendur dari Ternate minta bantu ke sana. Maka betapa
tipu orangkaya-kaya semuhanya kepada titah itu. Jikalau mau,
beta minta kepada orangkaya-kaya sekalian keluarkan tujuh real
upamakan harga makanan soldadu. ’Maka diiakanlah orangkaya
sekalian tanah Ambon serta dengan janjinya, demikian katanya:
‘Enam puluh pada harga sebahara cengkeh itu, sehingga dalam
berkellai ini. Apabila alah kepada Kastila dan Tidore atau bedamai
dengan dia, maka cengkeh itu hargakan lagi atau kurang lagi
daripada enam puluh itu atau lebihkan lagi daripada enam puluh
itu.’ Maka diiakanlah oleh kedua pihak itu serta disuratkan dalam
kertas tatkala disuratkan itu di pantai Gamusungi di hadapan
jeneral dan amiral dan perawara sekalian daripada pihak Nasrani
dan hadapan mengkubumi gimelaha Syabidin dan perdana
sekalian perwara di tanah Ambon serta Kapitan Hitu daripada
pihak Islam itu, lalu jeneral belayar ke Maluku tolong kepada
negeri Ternate. Itulah kesudahan harga cengkeh pada ketika itu.
Maka suatupun tiada lagi fitna pada kedua pihak itu karena sudah
keputusan kata yang baik dan jahat. Tetapi daripada ia endak
kejahatan itu, maka ia membuat suatu fitna kepada sengaji*
Boano, karena fitna itu tiada subut lagi, yakni sudah di luar
perjanjian. Alkissah peri mengatakan tatkala gurendur keluar
dengan angkatan. Ia datang tanya kepada perdana gimelaha,
demikian katanya: ‘Betapa perbuatan sengaji Boano demikian
itu?’ Maka kata perdana gimelaha: ‘Ada pun perbuatan sengaji itu
kami tiada mengetahui kepadanya. Melainkan dengan adil
gurendur, karena tanah Boano itu tanah raja dan orang itu pun
rakyat raja Ternate. Itulah kita taksirkan kepada gurendur.’ Lalu
gurendur serta angkatannya mendatangi negeri Boano, maka kata
Kapitan Hitu kepada gurendur: ‘Ada pun gimelaha itu tiada
bicarakan, sehingga ditaksirkan juga. Maka beta minta kepada
gurendur sabar ahulu, beta menyuruh kata kepada sengaji.
Jikalau mau keluar, beta damaikan dia dengan gurendur; apabila
jika ia tiada mau, apahtah daya? Lapas taksir kita kepada sengaji
dan orangkaya-kaya dalam negeri Boano.’ Tellah demikian itu,
lalu menyuruh kata kepada sengaji dan orangkaya semuhanya
keluar, maka Kapitan Hitu dan gurendur serta orangkaya sekalian
menghukumkan kedua pihak itu. Yang benar itu dibenarkan dan
yang salah itu disalahkan serta didamaikan kedua kaum itu
dengan kebajikan. Maka gurendur serta angkatannya pulang ke
Kota Laha dan Kapitan Hitu serta kelengkapannya pulang ke
negerinya. Maka suatupun tiada fitna lagi, melainkan melakukan
kebaikan dan kebenaran serta kesukaan dunia dan tiada mengirangirakan
hari yang kemudian,karena kesukaan dan keadaan itu
tiada berapa dalamnya. Tellah demikian itu datang johan
pahlawan gimelaha Hidayat. Alkissah peri mengatakan serta
kuceriterakan tatkala perdana gimelaha Hidayat keluar serta
angkatan datang ke tanah Ambon. Dan negeri sekalian pun
dengan kesukaannya serta dimulianya, karena ia perdana yang
besar dalam negeri Ternate, lagi johan pahlawan, lagi ia hukum
dalam negeri Ternate, lagi ia alim dan tiada orang besar tubuhnya
bagai dia dari Maluku sehingga datang ke Ambon, susunya bagai
susuh perempuan. Sungguhpun besar tubuhnya itu tetapi kuat. Ia
membuat ibadat, taat siang malam tiada berputusan
mengaraskan agama Islam. Ada pun pada tatkala itu barang
hukum daripada zaman yang tiada boleh putuskan orangkayakaya
sekalian di tanah Ambon itu, ialah memutuskan, daripada ia
mengatakan hukum itu serta dengan hukum Allah. Daripada itulah
termasyhur nama johan pahlawan hukum Hidayatullah di tanah
Ambon, upama terbit matahari cahayanya menarangkan yang
adanya. Tellah demikian itu, hatta berapa antaranya dengan
kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Syabidin pun uzur, yakni
sakit. Serta ajal Allah, maka wafatlah perdana gimelaha pulang ke
rahmat Allah. Maka pada ketika itu tanah Ambon dalam hukum
Hidayatullah. Kemudian daripada itu datang jeneral Pitir Eskun*
serta angkatan masuk ke Kota Laha. Maka Kapitan Hitu tanya
kepada jeneral: ‘Endak ke mana angkatan ini?’ Maka kata jeneral:
‘Endak ke Bandan* berkellai.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa tipu
kita kepada tanah Bandan? Karena tatkala kita berparang dengan
orang Feranggi ia tolong kepada kita. Maka sekarang ini kita
tolong dengan senjata tiada boleh. Sudah kita tolong dengan
makanan tiada sampai. Baiklah kita tolong kepadanya dengan
pekatahan.’ Lalu Kapitan Hitu naik kepada angkatan itu, tiada
pulang ke negerinya lagi, sehingga enam orang juga mengikut
dia. Kemudian anak orangkaya-kaya tiga puluh orang serta Unus
Halaene ibn Kapitan Hitu naik kepada kapal Inggeris ikut
belakangnya. Hatta datang angkatan itu antaranya laut Puluh
Suanggi* dan Gunung Api, maka didirikan tunggulnya sekalian
kapalnya itu serta bunyi tamburunya*, torompetanya* dan
himpunkan soldadu serta dengan senjatanya, maka masuk di
pantai Lontor. Ia belabu sehingga datang labuan Komber. Maka
kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sabar dahulu, kita masuk
kepada orangkaya-kaya tanah Bandan, tanya kepadanya maukah
bedamai atau tiada maukah.’ Maka kata jeneral: ‘Bukan kami
minta bedamai, kami endak berkellai juga. Tetapi daripada
kehendak Kapitan Hitu demikian itu, kita ikutlah.’ Maka Kapitan
Hitu naik, lalu masuk kepada negeri Salamah berhadapan serta
orangkaya-kaya tanah Bandan* semuhanya. Lalu ia berkata
kepada orangkaya-kaya, demikian katanya: ‘Ada pun beta ini
bukan disuruh oleh jeneral. Daripada beta ingat tanah Bandan*
dan tanah Hitu daripada zaman dahulukala. Maka beta tolong
dengan makanan tiada boleh. Maka sekarang ini kita tolong
dengan senjata tiada boleh, melainkan suatu kata kami minta
kepada orangkaya-kaya, jika boleh. Apabila jika tiada boleh,
apahta daya? Karena pekerjaan itu pekerjaan yang benar, tiada
dapat kita tegah kepada perbuatan itu, tetapi ihtiar dahulu
kepada budi akal kita, supaya jangan menyasal kepada hari yang
kemudian. Daripada itulah periksai kepada orangkaya-kaya empat
perkara ini, sudahkah lengkap atau bulum lagikah.’ Maka kata
orangkaya-kaya kepada Kapitan Hitu: ‘Apa2 empat perkara itu?’
Maka kata Kapitan Hitu: ‘Ada pun empat perkara itu, pertama
negeri, kedua senjata, ketiga manusyia, keempat makanan.
Apabila jika sudah lengkap, apatah lagi dinantikan? Jika kurang
lagi suatu perkara daripada empat itu,bebaikan dahulu dengan
dia, supaya ia pulang. Kita pun lengkapkan kepada empat perkara
itu.’ Maka kata orangkaya-kaya tanah Bandan* kepada Kapitan
Hitu: ‘Baiklah, pulang dahulu, supaya kami himpunkan orang
sekalian. Dalam dua hari, apabila di mana kami bedirikan tunggul
putih, di sanalah kami menanti, maka orangkaya datang di sana.’
Tellah kata demikian itu, lalu Kapitan Hitu pulang ke kapal. Pada
malam itu datang seorang daripada negeri Bandan. Ia masuk
kepada Wolanda, maka ia berkata kepada jeneral: ‘Kita dengar
orang Bandan* bicara dalam negeri: “Kita berhimpunkan orang
serta senjata menanti di pantai. Apabila jika datang Kapitan Hitu
dan Wolanda itu kita pagang semuhanya. Kemudian apa2 barang
kehendak kita itu katakan kepadanya”.’ Tellah demikian itu maka
kata jeneral kepada Kapitan Hitu: ‘Jika bagai kata ini, jangan lagi
Kapitan Hitu turun ke darat, karena perbuatan ini sudah ia
membunuh kepada kami orang banyak.’ Maka kata Kapitan Hitu
ialah kata jeneral itu: ‘Kita tiada turun kepadanya, tetapi kita
menyuruh juga kepadanya menyampaikan perjanjian kita itu,
jangan kata kita dibebohonkan, artinya dusta, supaya kita dengar
apa kehendaknya itu, maukah atau tiadakah.’ Hatta datang
kepada janjinya, didirikan tunggul putih di pantai, maka dilihat
oleh Kapitan Hitu dari kapal, lalu menyuruh turun kepada orang
itu. Maka ia tanya: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka suruan itu
menyahut: ‘Ada pun Kapitan Hitu minta ampun daripada
orangkaya-kaya sekalian, ada sakit sedikit, maka tiada ia turun.
Tetapi apa kehendak orangkaya-kaya katakan juga kepada kami,
maka kami katakan kepada orangkaya Kapitan Hitu dengan
jeneral.’ Maka kata orangkaya-kaya semuhanya: ‘Katakan kepada
Kapitan Hitu, benar juga orangkaya kata kepada empat perkara
itu, tetapi kami parang dengan Wolanda ini bukan sekarang.
Selamanya parang kami sahingilah* empat perkara itu, artinya
kata itu sudah lengkap karena perbuatan manusyia itu serta
dengan harkat. Tetapi kehendak Allah ta`ala itu siapa
mengetahui?’ Maka menyahut pula orang yang disuruh itu:
‘Daripada itulah maka dikira-kirakan. Jika bagai kata orangkayakaya
demikian itu, apatah lagi?’ Lalu pulang orang itu
menyampaikan kata itu kepada orangkaya Kapitan Hitu dan
jeneral. Maka kata Kapitan Hitu kepada jeneral: ‘Sudah lepas
taksir beta, mana kehendak jeneral itu?’ Maka kata jeneral:‘Esok
pagi kita naik cobah dahulu, supaya kita lihat perintah parangnya
itu, kemudian perintah parang kita.’ Hatta datang pagi hari
naiklah angkatan itu butul di hadapan negeri, maka orang
Bandan* pun keluar. Beramai-ramaian parang kedua pihak itu
daripada waktu duha sehingga datang asar tiada boleh alah. Lalu
undur Wolanda pulang ke kapalnya, maka jeneral menyuruh
panggil kepada orang besarnya serta panglimanya sekalian dalam
angkatan itu datang kepada jeneral, maka kata jeneral: ‘Betapa
perintah parang orang itu?’ Maka kata orang semuhanya:
‘Demikianlah parang orang itu.’ Maka kata jeneral: ‘Jika bagai
demikian itu betapa bicara kita sekarang?’ Maka kata orang
semuhanya: ‘Mana perintah jeneral itu kami kerjakan.’ Serta
dengan cakapnya orang semuhanya itu, lalu kata jeneral: ‘Jika
siyapa naik dahulu maka alah negeri itu, seribu real kuberi
kepadanya. Lain makanannya dan pakaiannya dan apa-apa
rampasan dalam orang banyak itu mana sukanya ia ambil dahulu.
Kemudian tinggalnya itu kepada orang sekalian.’ Maka seorang
kapitan, Pugel* namanya, ia becakap di hadapan jeneral dan
orang besar2 semuhanya, demikian katanya: ‘Beta naik dahulu,
jika tiada boleh alah negeri itu, beta pun tiada kembali.’ Lalu ia
berteguhan kata dengan jeneral, maka diberinya minum arak
pada tempat minuman prings. Itulah adat berteguhan janji
kepada orang itu. Tellah demikian, hatta datang malam, maka
diturunkan gurendur Hutman* akan kapitan. Ia naik dari belakang
negeri dan kapitan Pugel dan kapitan Kuluf* dan kapitan Gemala*
dan kapitan Jupun dan kapitan Siyau dan sekalian kapitan serta
orang banyak semuhanya naik dari laut di hadapan negeri. Hatta
terbit matahari, dipalu gendarang parang dan riuh serta bunyi
bedil seperti guruh di atas langit, dan orang Bandan* pun serta
dengan harkatnya. Maka kedua pihak berparanglah seperti orang
bepasarang beramai-ramaian, jual-beli, tukar-menukar. Tiada
habar kepada yang lain lagi sehingga sana berparang daripada
bakda subuh. Hatta datang bakda lohor serta dengan kehendak
Tuhan sarwa sekalian alam, maka Wolanda daripada kapitan
Hutman* ia naik dari belakang negeri, ia masuk ke dalam serta
bunyi bedil dan riuh dalam negeri. Maka patahlah parang Islam
itu, tiada boleh masuk ke dalam negeri lagi, lalu masuk ke negeri
Ander dan Waier, berhimpunlah di sana dan Wolanda pun duduk
di negeri Lontor. Maka sekalian kapitan serta orang banyak itu
pun pulang kepada kelengkapannya dan jeneral pun pekatahan
yang diperjanjikan kepada panglimanya itu semuhanya
dikerjakannya. Kemudian daripada itu, maka menyuruh tanya
kepada orangkaya-kaya tanah Bandan* sekalian, demikian
katanya: ‘Bukankah Kapitan Hitu endak damaikan kita kedua?
Daripada orangkaya-kaya tanah Bandan* tiada mau bebaikan,
maka kita berkellai. Ada pun kepada sekarang ini mana bicara
orangkaya-kaya kita dengar. Jika mau bedamai, marilah kita
bedamai; jika tiada mau bedamai, apahtah daya?’ Maka kata
orangkaya-kaya Bandan: ‘Yang tellah sudah itu jangan disubut
lagi. Jika kepada sekarang ini jeneral mau bebaikan, seribu kali
kami sukah.’ Lalu orangkaya-kaya keluar bedamai dengan dia,
maka kata jeneral: ‘Jika hati bennar mau bedamai, rubuhkan
kotamu dan berikan senjata yang adanya itu.’ Maka kata
orangkaya Bandan: ‘Tiada lagi pada kami, karena senjata itu
semuhanya dalam negeri itu juga.’ Maka kata Wolanda: ‘Barang
seadanya itu berikan kepada kami.’Maka diberikan dua puluh
esfangar* kepada Wolenda itu, maka suatupun tiada lagi fitna.
Lalu keluar bunga pala timbang kepada fetor, bennarnya dengan
dia. Kemudian daripada itu kata Mai Hasan ibn orangkaya Bulaisi
dan orangkaya Orotatan, demikian katanya kepada jeneral: ‘Ada
lagi bedil besar dalam negeri Bandan . Semuhanya itu minta serta
anak orangkaya-kaya empat puluh orang itu. Jika ia katanya tiada
lagi, kemudian beta tunjukan kepada orang yang menaruh dia
itu.’ Tellah demikian itu maka jeneral menyuruh panggil kepada
orangkaya semuhanya, lalu kata kepadanya bagai kata orang itu.
Maka orangkaya-kaya semuhanya tiada dapat besangkal lagi, lalu
dikeluarkan semuhanya serta anak orangkaya-kaya itu. Maka kata
jeneral: ‘Sekarang ini upama tulur hayam digulingkan dari tanah
Bandan* sampai ke tanah Wolanda: tiada boleh pecah lagi, itulah
tanda bebaikan. Maka sekarang ini kami endak belayar. Baik juga
orang semuhanya cerai-berai itu suruh pulang keruan kepada
tempatnya. Kemudian kami belayar supaya kami menyampaikan
kepada orang besar2 di negeri Wolanda pun dengan
kebenarannya.’ Maka disuruh oleh orangkaya-kaya panggil
kepadanya semuhanya datang ke negeri Salamu. Maka ditipu oleh
Wolanda, kuliling soldadu serta senjata, lalu dinaikan ke kapal,
semuhanya delapan ratus delapan puluh orang kepada kapal,
Dragon namanya, dan empat puluh orangkaya-kaya semuhanya
dibunuh oleh Wolanda itu. Lalu belayar ke tanah Ambon, datang
ke tanah Hitu, lalu ke Jawahkatra* dan orang Bandan* yang
tinggal itu semuhanya pindah ke tanah Seran dan Goron*. Maka
menyuruh datang mengadap kepada raja Mangkasar minta
pindahkan ke Mangkasar. Maka raja menyuruh angkatan ke Seran
memuatkan dia datang ke Mangkasar. Itulah hal alah tanah
Bandan. Maka jeneral serta angkatannya pulang ke negerinya dan
Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu. Itulah kesudahan berkellai
tanah Bandan. Alkissah dan kuceriterakan kemudian daripada
jeneral belayar membawah kepada orang Bandan* itu, maka
Mihirjiguna masuk mengadapat* perdana Kapitan Hitu. Maka ia
menyembah, lalu berkata: ‘Beta endak belayar ke Jawahkatra*.’
Maka kata Kapitan Hitu: ‘Apa kehendakmu belayar itu?’ Maka ia
menyahut: ‘Ada pun kita belayar ini tiada kehendak kepada yang
lain melainkan kubicarakan orang Bandan. Jika tiada boleh
kembali ke tanah Bandan* pun, sehingga tanah Ambon pun baik
juga jika dilapaskan oleh jeneral.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Jika
bagai kata demikian itu, belayarlah engkau.’ Lalu ia naik kepada
sebuah kapal, Delf namanya kapal itu. Hatta berapa lamanya
maka datang ke Jawahkatra*, maka Mihirjiguna naik ke darat
berhadapan dengan jeneral serta orang besarnya. Maka apa
kehendaknya Arinjiguna* itu semuhanya dikatakan kepada
jeneral pun terimalah kepada kehendak Mihirjiguna itu. Lalu kata
jeneral kepada Mihirjiguna: ‘Ada pun barang kehendakmu itu
kami terimalah, tetapi musim lagi lambat datang. Apabila datang
musim barat akan perginya pulang, kuserahkanlah kepadanya
yang kehendaknya itu.’ Lalu Mihirjiguna tanya kepada jeneral:
‘Kapal semuhanya itu endak ke mana?’ Maka kata jeneral: ‘Kapal
itu endak ke Malaka, ada ke Jambi, ada ke Laut Mera, ada pulang
ke negeri Holandes, ada ke bandar Masilpatani*.’ Maka kata
Mihirjiguna: ‘Beta minta kepada jeneral sementari lagi lambat
musim,lagi lambat musim, beta endak turut kapal yang ke bandar
Masilpatani*, mau melihat dunia tanah Keling barang seadanya
hidupku sehingga datang musim barat.’ Maka iakan oleh jeneral
dan diberinya seribu real akan bekalnya dan sangat mulliya
kepadanya serta kasih lain2 -- tiada dapat diceriterakan kepada
kasihnya itu --, lalu naik Mihirjiguna belayar. Hatta berapa
lamanya di tengah laut datang tofan angin ribut. Bunyi layar
seperti bunyi bedil, seketika lagi patah tiyang buritang itu. Hatta
terbit matahari,angin pun tedduh. Tellah demikian itu berapa
lamanya datang ke tanah Keling, kepada negeri Tunahpatnan.
Maka naik ke darat bejalan ke negeri Pujiciri*, menubus dengan
harganya dua real seorang, ada tengah tiga real. Ada menjual
dirinya sendiri, ada menjual anaknya. Tellah menubus itu, maka
belayar dari Pudiceri*, lalu kepada Tirubambu* dan
Tirumulawasir* dan Kunmuri*, lalu kepada Nagahpatan*.
Daripada Feranggi duduk dari situ, maka dinamai San* Tumi*.
Ada pun San* Tumi* itu ada suatu bukit, maka didirikan
gerejanya akan tempat berhalanya, Nona Sinyora di Mundi*
namanya. Di situlah tempat ia menyembah berhalanya itu.
Kemudian daripada itu maka belayar sehingga datang ke Palikat*.
Karena di situ ada kota Wolanda, ia berhenti entah berapa
lamanya. Lalu ia belayar ke bandar Masilpatani*, ia duduk kepada
rumah syaudagar haji Baba namanya. Di sanalah dimasyhurkan
namanya Mihirjiguna itu ‘sultan karanful*, kipati syah’. Di sanalah
ia melihat perhiasan dunia semuhanya lengkap, sehingga ibu
bapa kita yang bennar itu maka kita tiada bertemu. Lain daripada
itu tiada dapat diceriterakan kepada kelakuan yang indah2,
seperti perbuatan yang kegemaran kepada keelokan serta
keinginan hati manusyia. Dan kejahatan serta kebencian pun
demikian lagi, dan kesukaan dan kedukaan pun demikian lagi,
seperti orang kaya dan orang miskin, dan orang berumah dalam
tanah dan orang tiada berumah selama-lamanya, dan orang
membuang segala najis manusyia dalam negeri itu. Dan
dikerjakan hamam*, ada air sejuk dan air panas kepada suatu
tempat harkat kepada segala manusyia. Apabila datang pagi hari,
maka mandi kepada air yang panas itu, jika datang tengah hari
maka mandi kepada air yang sejuk itu. Dan perbuatan pelbagai
yang andak* dalam dunia semuhanya ia melihat karena
Masilpatani* itu bandar Kutb Syah yakni raja Gulgonda, tatkala
zaman sultan Muhammad Huli akan kerajaan di negeri Gulgonda.
Tellah demikian itu hatta datang musim maka ia pulang. Berapa
lamanya di tengah laut, maka datang masuk selat antara Puluh
Merkata* dan ujung Tanjung Cina, lalu datang ke Banten sehingga
datang ke Jawahkatra*, maka ia berenti di sanalah. Entah berapa
antaranya, maka Mihirjiguna sakit. Sehingga enam hari dengan
kehendak Allah ta`ala wafat meninggal negeri fana datang
kepada negeri yang baka pada bulan Rubiu'l-awal dua belas hari
pada tahun [1032] Ha, pada malam Ahad. Maka dibaiki suatu petti
dilapis dengan tima hitam, maka ditaburkan segala bauh-bauan
dalam kafan, lalu dimasukkan mayit itu ke dalam petti. Entah
berapa lamanya dalam negeri Betawih, maka dinaikan kepada
sebuah kapal membawah kepadanya. Dan pasan jeneral dalam
surat kepada Kapitan Hitu dan gurendur Herman Aspel*, demikian
katanya: ‘Ada pun kehendak Arinjiguna* itu seribus* kali beta
terima. Daripada ia tiada empunya untung, maka ia mati pulang
kepada asalnya, tetapi Kapitan Hitu dan gurendur kira-kirakan
kehendak Arinjiguna* itu. Apabila jika dengan baiknya musim
yang datang ini suruan ke mari, maka beta serahkan kepada dia.’
Tellah demikian itu, maka diberikan surat itu pada tangan Sifar al-
Rijali, lalu belayar. Entah berapa lamanya di tengah jalan, maka
datang ke Ambon masuk ke Kota Laha. Pada tatkala itu Kapitan
Hitu pun ada di Kota Laha, bicarakan Inggeris dan Jupun endak
tipu kepada Wolanda serta kotanya itu.Maka diberikan surat itu
kepada Kapitan Hitu dan gurendur, lalu dibaca sendirinya, maka
gurendur kata kepada Kapitan Hitu: ‘Baik juga kata jeneral
kepada kita kedua itu kira-kirakan kepada kehendak Mihirjiguna
itu, tetapi inilah perbuatan Inggeris dan Jupun, jika datang orang
Bandan* pula.’ Lalu dibunuh Inggeris dan Jupun itu, maka tiada
jadi kehendak Mihirjiguna itu sebab perbuatan orang itu. Lalu
dinaikan mait itu kepada kelengkapannya orangkaya dan orang
dari negeri pun keluar mendapatkan dia di tengah jalan, sehingga
datang ke negeri. Maka dipertitahkan serta dengan arta
disedekakan kepada fakir dan miskin dan orang besar-besar dan
dipeliharakan sehingga adatnya. Itulah kesudahan pelayaran
Mihirjiguna ke tanah Keling. Serta kehendak Allah ta`ala,
kemudian daripada Arinjiguna* itu Unus Halaene akan hukum.
Ialah bengis di tanah Hitu serta kelakuannya, karena adatnya raja
ada kepadanya dan adat bendahara pun ada kepadanya. Dan
kelakuan hulubalang pun ada kepadanya, karena ia berjalan atau
duduk serta senjata tiada boleh meninggalkan dia dan
syaudagarnya pun sangat serta murahnya tangannya. Seorangpun
tiada sebagainya di tanah Ambon. Kemudian daripada itu maka
kuceriterakan tatkala bendahara gimelaha Syabidin meninggalkan
negeri yang fanah itu datang kepada negeri yang baka itu, tanah
Ambon dalam hukum perdana gimelaha Hidayat. Maka ia pinda ke
negeri Lesiela meneguhkan negeri itu daripada ia melihat salah
kelakuan Wolanda itu. Pertama membuat gudang di pantai
Huniyasi*, artinya negeri sengaji Hatuhaha, kedua membuat
kotanya di tanjung Koako, ketiga membawah angkatan
mendatangi di tanah Seran. Lain daripada itu banyak lagi
perbuatannya, itulah sebabnya. Hatta datang berapa lamanya
dengan kehendak Allah ta`ala perdana gimelaha Hidayat pun
uzur, artinya sakit lalu pulang ke rahmat Allah ta`ala. Kemudian
daripada peninggal perdana itu, makin bertambah-tambah fitnah
sebab dagang, lalu paranglah gimelaha Luhu dan gimelaha
Leliyato serta di tanah Ambon semuhanya, sehingga tanah Hitu
juga tiada mengikut. Maka kedua kaum Islam dan kaum Nasrani
itu berparanglah, sarang-menyarang, alah-mengalah sebagailah.
Hatta berapa lamanya maka datang titah paduka serri sultan
Ternate suruh bedamai. Apabila datang dagang, maka Wolanda
datang rusak kepada dagang itu, maka gimelaha serta orangkayakaya
semuhanya tiada mau rusak dagang dalam bandar. Lalu
berparang pula, sarang-menyarang, alah-mengalah, sentiasa
tiada berputusan parang di tanah Ambon dengan orang Nasrani
itu, karena kehendaknya Nasrani dan Yahudi itu endak
mengarusakkan agama Islam dimasukkan agama Nasrani.
Daripada itulah maka digelar nama kelengkapannya itu ‘buang
destar’ namanya dan demikian lagi kehendaknya Islam endak
mengarusakkan agama Nasrani dan Yahudi dimasukkan kepada
agama Islam. Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya
Daripada itulah maka gelarnya kelengkapannya johan pahlawan
gimelaha Leliyato ‘buang capeu*’ namanya. Daripada itulah maka
parang sabil Allah di tanah Ambon tiada berputusan. Pada tatkala
itu johan pahlawan gimelaha alah kepada sebuah negeri, Wai
namanya. Semuhanya diangkatnya bawah ke negeri Lesiela. Hatta
datang titah disuruh pulangkan, maka dikembalikan dianya.
Itulah halnya tanah Ambon dengan orang Nasrani itu. Segali
perastawa mendamaikan dua kaum itu. Maka kata Kapitan Hitu
kepada gurendur, lalu keluarkan kotanya di tanjung Koako itu dan
gudang di Huniyasi* itu. Lalu Kapitan Hitu dan hamba raja
Kalabata belayar ke Jawahkatra* bebicara dengan jeneral. Hatta
datang di sana raja Mataram menyuruh kepada tumengung*
Bauhraksah mendatangi kota Betawih, maka tiada ketahuan
bicaranya jeneral itu, karena ia dalam kesukaran. Dan di
belakangnya Kapitan Hitu datang kapitan lawut baginda kiyaicili
Ali ke tanah Ambon. Maka diturunkan yakni dikeluarkan gimelaha
dua bersyaudara, suruh kembali ke Ternate. Tellah demikian itu
Kapitan Hitu pun datang dari Jawahkatra*, lalu masuk ke negeri
Luhu. Maka ia bertemu kepada kapitan laut dan barang apa2
bicara dengan jeneral itu semuhanya diceriterakan kepada
kapitan laut serta muafakat. Lalu kapitan laut pun berangkat ke
Manipa dan Kapitan Hitu pun pulang ke tanah Hitu. Maka
gurnadur Filipi Lukas* dan hukum Halaene serta angkatannya
mengadap kepada kapitan laut. Maka dibawah kepada gimelaha
dua bersyaudara kembali ke Tanah Besar, maka gimelaha Leliyato
ia duduk negeri Kembali dan gimelaha Luhu ia duduk di
Gamusungi, yakni negeri Luhu, tempatnya yang lama. Maka
suatupun tiada fitnah lagi di tanah Ambon dan kapitan laut pun
berangkat ke tanah Sula, dari Sula lalu ke tanah Banggai, dari
Banggai datang ke Tambuku, dari Tambuku lalu membaiki negeri
serta dengan kotanya ia duduk. Hatta berapa lamanya datang
angkatan dari Buton serta anak raja2 dan orang besar2
semuhanya membawah titah serta dengan adat mengadap kepada
raja laut, lalu pindah ke tanah Buton, sehingga sanalah ia
berhenti. Entah berapa lamanya dengan takdir Allah ta`ala pulang
ke rahmat Allah. Itulah kesudahannya datang raja laut di tanah
Ambon. Alkissah peri mengatakan sekali perastawa perdana
Kapitan Hitu pada suatu ketika ia duduk, maka ihtiar sendirinya,
demikian katanya: ‘Ada pun aku ini sudah tuah. Siyapa tempat
kuserahkan tanah ini?’ Lalu diserahkan kepada orangkaya Samu2
menunggu tanah Hitu serta orangkaya Bulan, keduanya
memerintahkan tatkala perdana Kapitan Hitu lagi dalam negeri
Betawih. Hatta datang musim perdana pun pulang, maka suatu
tiada fitnah dalam tanah Hitu. Apabila datang suatu fitnah
daripada negeri yang lain bagi Islam atau Nasrani, melainkan
hukum Halaene juga tiada mau kecewa kepada nama tanah Hitu.
Daripada ialah orang Wolanda itu tiada dapat melakukan
kehendaknya kepada tanah Hitu pada zaman itu. Hatta berapa
lamanya apa2 kehendaknya, maka ia datang kepada gurendur
endak mengatakan kepadanya. Maka datang kehendak Allah
ta`ala kepada seorang perempuan bedzebai, artinya celaka,
memberi racung kepadanya. Maka ia tiada boleh tahan dirinya
lagi, lalu ia kembali sehingga datang ke negeri. Masya Allah ia
meninggal kepada darulfanah datang kepada darulbaka, yakni
meninggal kepada dunia datang kepada akhirat. Maka
dipeliharakan serta adat sehingga datang seratus harinya. Maka
dinaikan kepada Kakiyali akan hukum, maka ia kedua orangkaya
Samu2 keluar serta dengan angkatan melepaskan dukacittanya.
Karena istiadat orang besar yang ternama, apabila ia mati tiada
boleh masuk esukaan dan beramai-ramaian atau bunyi-bunyian
dalam negeri, melainkan alah sebuah negeri atau keluar arta
daripada takluknya sekalian; kemudian daripada itu, maka
bersuka-sukaan serta beramai-ramaian dan bunyi-bunyian dalam
negeri itu. Daripada itulah maka ia keluar membawah angkatan
menyarang negeri. Entah berapa lamanya di tengngah jalan, maka
orangkaya Samu2 pun uzur, yakni sakit serta kehendak Tuhan
Yang Mahatinggi orangkaya pun wafat, pulang ke rahmat Allah.
Maka menyuruh antarkan maitnya orangkaya itu pulang ke
negeri. Lalu Kakiyali membawah angkatan itu menyarang kepada
sebuah negeri Hatumete namanya. Semuhanya ditangkapnya,
kemudian dibagi dua: setengah didudukkan di negerinya dan
setengah dibawah kepadanya ke negeri Hitu. Maka ia beramairamaian
kesukaannya serta bunyi-bunyian dalam negeri Hitu.
Itulah istiadat mati orang ternama di tanah Ambon. Maka
kuceriterakan tatkala itu negeri Iwa* dan orang Wolanda endak
berkellai sebab Pati Herman. Maka hukum Kakiyali juga membaiki
tiada jadi berkelai, yakni mendamaikan dia. Tellah demikian itu
dan kuceriterakan tatkala itu ada lagi hayat perdana Kapitan Hitu,
maka barang sesuatu fitnah dalam tanah Hitu atau tanah Ambon,
bagi Islam atau Nasrani, jangankan sesuatu negeri, jikalau
seseorang juga pun, ia juga membaiki. Tetapi kepada fitnah tiada
dapat dikatakan lagi daripada nafsu dunialah. Hatta lama dengan
lamanya orangkaya pun makin tuah serta dengan kehendak Allah
subhanahu wa-ta`ala uzur, maka dalam uzur itu menyuruh
panggil kepada orangkaya-kaya semuhanya. Hatta datang maka
kata perdana Kapitan Hitu, demikian katanya: ‘Ada pun kehendak
Allah ta`ala siapa mengetahui? Tetapi pada perasaan diriku,
wa-'llahu a`lam, hanya baik2 bicara kepada tanah ini serta
dengan agama rasul Allah salla 'llahu alaihi wa-sallama.’ Maka
menyahut pula orang banyak itu: ‘Bennar kata tuhanku itu.
Kehendak Allah ta`ala siyapa mengetahui, tetapi jika datang
masya Allah siyapa membawah tanah Hitu ini?’ Maka kata
orangkaya: ‘Tiada dapat dikatakan, melainkan mana kehendak
Allah ta`ala serta orang banyak itulah memangku tanah Hitu.’
Dan apa2 pekatahan serta adat tanah Hitu semuhanya dikatakan
kepada keempat perdana dan berapa2 pekatahan yang dahulu
kala itu semuhanya dikatakan kepada anak buahnya. Tellah
demikian itu datang masya Allah, lalu pulang ke rahmat Allah.
Maka dipeliharakan mait perdana itu dan disedekakan arta
kepada segala penghulu agama dan orangkaya-kaya dalam negeri
Hitu sekalian dan diadatkan sehingga datang seratus harinya.
Maka gurendur Artus* dan orangkaya-kaya semuhanya muafakat,
maka dinaikan kepada hukum Kakiyali akan Kapitan Hitu serta
perjanjian: ‘Apabila barang suatu pekerjaan atau pekatahan,
jangan seorang mengaku ia sendirinya, melainkan keempat
orangkaya dan Kapitan Hitu serta muafakat, maka dikerjakan.’
Karena pada ketika itu mardan Baros akan Nusatapi nama
gelarnya dan mardan Mulutan akan Totohatu nama gelarnya dan
mardan Kelisa akan Pati Tuban nama gelarnya dan mardan Kiyoan
akan Tanihitumesen. Itulah nama keempat serta Kapitan Hitu
pada zaman itu. Tellah demikian itu entah berapa dalamnya maka
Kapitan Hitu menyuruh dua buah parau utusan ke Mangkasar,
maka orang membawah fitnah kepada gurendur itu, demikian
katanya: ‘Ada pun Kapitan Hitu menyuruh ke Mangkasar endak
muafakat dengan serri sultan di Goa. Apabila sudah muafakat
serta minta angkatan datang berkellai dengan Wolanda.’ Maka
gurendur pun percaya, tiada dengan periksyanya, maka berapa
kali tipu kepada Kapitan Hitu,tetapi bulum lagi dengan kehendak
Allah ta`ala tiada jadi tipunya itu, karena Kapitan Hitu sudah
mengetahui kelakuan Wolanda itu. Maka tiada boleh dikerjakan
kehendaknya, lalu gurendur Kisil ia belayar ke Betawih, maka
digantikan Antoni* akan gurendur. Iapun demikian juga
kelakuannya.Karena pada tatkala itu perdana gimelaha serta
negeri semuhanya berkellai dengan Wolanda, sehingga negeri
Luhu juga dua bahagi. Sebahagi serta perdana gimelaha dan
negeri sekalian, maka berparanglah dan sebahagi serta kiyaicili
Sibori memegang Wolanda membuat gudungnya di negeri Luhu
dan paranglah kedua pihak itu, sarang-menyarang, alahmengalah
sebahagai juga tiada berputusan. Hatta berapa lamanya
datang utusan dari Maluku, sadaha* Semaun namanya,
membawah titah datang kepada perdana gimelaha serta Ulima
dan Ulisiwa. Maka ia masuk ke tanah Hitu, karena dalam titah itu
demikian buninya: ‘Katakan kepada Kapitan Hitu dan orangkayakaya
sekalian dalam negeri Hitu, serta utusan sadaha Semaun
mendamaikan kepada gimelaha dengan gurendur dan membaiki
tanah Ambon Ulima dan Ulisiwa, supaya jangan jadi fitnah.
Karena perjanjian Wolanda itu seorangpun tiada mengetahui,
melainkan Kapitan Hitu juga mengetahui dia dan ia juga menaruh
surat yang perjanjian itu.’ Tellah demikian titah itu, maka kata
orangkaya-kaya tanah Hitu: ‘Jika bagai kehendak titah demikian
itu, baik juga utusan pulang dahulu ke Tanah Besar,kemudian
kami mengikut di belakang.’ Maka utusan pulang menanti di
pantai Luhu, maka datang gurendur itu pun demikian juga, lalu ia
mengikut utusan itu menanti di pantai Luhu. Maka Kapitan Hitu
dan orangkaya-kaya keluar dengan kelengkapannya, lalu
menyebarang. Hatta datang ke Tanah Besar, maka gurendur serta
angkatannya mendapatkan dia di pantai Warau. Maka kata
gurendur itu:‘Marilah kita berkata2 dahulu, kemudian kita masuk
ke pantai Luhu kepada orang banyak.’ Maka Kapitan Hitu serta
orangkaya-kaya semuhanya naik kepada kelengkapannya
gurendur itu, maka dipagang semuhanya serta Kapitan Hitu. Maka
riuhlah orang dalam kelengkapan itu, lalu dikelilingkan angkatan
kepadanya. Ia sebuah2 juga ditengah2 serta pasang-memasang,
tembak-menembak datang pengelodan rawaki itu seperti titi
hujang atas air masing dan asap obat menjadi awan antara langit
dan bumi. Dan buni bedil serta* kilat dan riuh seperti ceritera
buni sangkakalah tatkala hari kiamat kepada yaum al-mahsyar.
Karena angkatan Wolanda itu lima puluh aluan, lain daripada
kapal dan patacoh*, maka ia sebuah2 juga melawan dengan
dia.Sehingga datang kepada tanjung Kahula Wolanda itu pun
undur. Iapun masuk ke pantai Lesiela, lalu menyuruh sebuah
perau membawah kepada Patiwani. Ia pulang ke tanah Hitu
menyampaikan khabar itu kepada negeri serta dipindahkan negeri
semuhanya naik ke atas gunung. Dan undur angkatan Wolanda
itu, lalu menyebarang ke tanah Hitu endak menyarang kepada
negeri, tetapi tiada dapat lagi. Maka menyuruh panggil kepada
orangkaya-kaya, demikian katanya: ‘Apa kerja pindah? Karena
tanah Hitu dan Wolanda itu seperti laki-bini. Apabila bini salah itu
melainkan lakinya juga ajar kepada dia, maka beta pagang
kepada Kapitan Hitu dan orangkaya-kaya ini. Demikian itulah
halnya orang laki-bini dalam dunia, tetapi keluarlah kita kedua
berbicara serta kebaikan.’ Maka kata orang Hitu:‘Bennar juga kata
gurendur itu, tetapi kembalikan dahulu kepada Kapitan Hitu dan
orangkaya2 itu, maka kami keluar kepada gurendur.’ Maka
dilepaskan kepada orangkaya-kaya itu, Kapitan Hitu juga tiada
dilepaskan. Maka orang Hitu pun tiada mau keluar kepadanya
serta memerintahkan negerinya. Dan utusan sadaha Semaun pun
menangkap kepada orangkaya-kaya dalam negeri Luhu; yang
memagang kepada Wolanda itu pun ia bawah ke Maluku. Maka
orangkaya-kaya sekalian di tanah Ambon tercangan terlalu
khairan kepada perbuatan gurendur dan utusan sadaha Semaun
itu, maka tanah Ambon semuhanya tiada ketahui kehendaknya.
Setengah berkata: ‘Baik kita berkellai.’ Dan setengah berkata:
‘Baik kita bedamai, karena sudah didamaikan kita dengan
gurendur.’ Dan setengah pula berkata: ‘Jangan kita berkellai dan
jangan kita bedamai sehingga diam sahanya*, supaya kita
menanti kehendak titah.’ Maka kata perdana gimelaha dua
bersyaudara: ‘Bennar juga kata orangkaya itu. Tetapi kepada
perbuatan Wolanda ini rusak kepada agama rasul Allah di
hadapan titah yang dipetuan, daripada ia tiada berupama ke
bawah dulli paduka serri sultan Hamza, nasrun min Allah syah, zill
Allah fi 'l-`alamin.Daripada itulah baik kita berparang dengan
dia.’ Lalu muafakatlah tanah Ambon semuhanya sehingga sebuah
negeri Luhu juga. Maka kata Sifar ar-Rijali di hadapan
perdana,Ulima dan Ulisiwa: ‘Ada pun berkellai ini sebab, apabila
jika sebab Kapitan Hitu, sabar dahulu, supaya kita menanti titah
yang dipetuan dan kabaran.’ Maka kata Ulima dan Ulisiwa: ‘Sebab
agama rasul Allah, kedua perkara sebab titah tiada berupama ke
bawah dulli yang dipetuan.’ Dan barang apa2 pekatahan kepada
hari yang kemudian itu, semuhanya ditaksirkan di hadapan
perdana gimelaha dan orangkaya sekalian. Tellah sudah
ditaksirkan kata demikian itu, lalu ia beli obat bedil empat balas
bahara cengkeh harganya, dan tengah tujuh ratus padang. Lalu ia
pulang serta orangkaya gimelaha dan negeri Waibuti ke tanah
Hitu serta muafakat dengan orangkaya2 di tanah Hitu. Lalu ia
pulang, maka negeri Hitu sekalian berkellai, sehingga orangkaya
Tanihitumesen dengan orangkaya Bulan juga tiada berkellai. Ia
mengikut kepada Wolanda itu, maka ia jadi musuh kepada negeri
Hitu sekalian dan negeri sekalian pun memerintahkan kepada
hulu parangnya. Maka digelarnya kepada pendagar Nahoda dan
pendagar Pati Husen* keduanya akan panglima di tanah Hitu. Lalu
ia pergi merompa di tanah sebelah kepada pihak tentara Nasrani
itu. Maka diteguhkan Allah subhanahu wa-ta`ala, berkat agama
rasul Allah serta dengan kemenangannya, maka ia pulang di
negeri Wawani, makan-minum, bersuka-sukaan dan disalin
kepadanya serta dengan dimasyhurkan namanya johan pahlawan
Patiwani. Itulah hasiat* orang parang sabil Allah dalam dunia.
Tellah demikian itu pendagar Telukibesi ia pergi merompa pula
kepada pihak tentara Nasrani itu. Maka dengan kehendak Allah
ta`ala berkat agama rasul Allah serta kemenangannya, lalu ia
pulang di negeri Kapahaha bersuka-sukaan dan dimulliya
kepadanya serta dimasyhurkan namanya johan pahlawan
Tubanbesi. Ia duduk di gunung Kapahaha. Itulah faedah orang
parang sabil Allah dalam dunia, entah berapa lagi dan* akhirat;
karena riwayat pandita dalam syarah Sunusi*, dua perkara orang
masuk syurga tiada dengan hisab* lagi, suatu perkara tarekad
dunia, kedua perkara parang sabil Allah. Daripada itulah, maka
beramai-ramaian negeri sekalian berparang dengan Wolanda itu.
Maka kata Wolanda itu: ‘Apabila orang Hitu keluar duduk di pantai
seperti dahulu kala itu, maka kami keluarkan Kapitan Hitu.’ Maka
kata orang Hitu: ‘Bennar juga kata gurendur itu, tetapi keluarkan
dahulu, maka kami turun duduk di pantai kembali seperti dahulu
itu. Jikalau tiada lepaskan dia, kami pun tiada mau keluar.’ Maka
negeri semuhanya tiada keluar sehingga orangkaya Bulan, ayah
mudanya Kapitan Hitu serta tujuh negeri keluar duduk di pantai
serta Wolanda itu. Maka kata orang sekalian kepada orangkaya
itu: ‘Betapa kehendak orangkaya keluar itu?’ Maka kata
orangkaya: ‘Baik juga kita keluar ikut katanya. Dalam tujuh bulan
itu apabila dilepaskan kepada Kapitan Hitu, maka negeri sekalian
keluar. Jikalau tiada dilepaskan kepada [Kapitan] Hitu dalam
tujuh bulan itu kita berbantahkan perjanjiannya.’ Maka orangkaya
keluar serta muafakat dengan orangkaya-kaya, lalu orangkaya
Tanihitumesen belayar ke Betawih. Dan apa2 kehendak
orangkaya itu semuhanya dikatakan kepada jeneral, maka di
belakang orangkaya negeri semuhanya itu keluar masuk kepada
musuh itu,tiada lagi berkellai. Maka kata Sifar ar-Rijali kepada
orangkaya-kaya dan panglima serta pendagar sekalian, demikian
katanya: ‘Apabila perbuatan kita demikian ini?Rusaklah negeri
kita dan Kapitan Hitu pun tiada dikembalikan lagi oleh Wolanda
itu.’ Lalu ia pergi merompa kepada orang Hitu yang mengikut
kepada Wolanda itu. Hatta dengan takdir Allah ta`ala serta
dengan kemenangannya, maka ia pulanglah ke negeri Wawani
bersuka-sukaan, maka seorangpun tiada keluar lagi.Entah berapa
lamanya datang orangkaya Tanihitumesen, maka orangkaya-kaya
menyuruh tanya kepadanya: ‘Betapa kehendak jeneral kepada
Kapitan Hitu, lepaskankah atau tiadakah?’ Maka ia berkata: ‘Ada
pun kata jeneral, tiga bulan lagi datang kapal dari Bandan, maka
dilepaskan kepada Kapitan Hitu.’ Maka negeri Hitu semuhanya
menanti sehingga datang tiga bulan tiada juga dilepaskan, maka
kata negeri sekalian kepada orangkaya Bulan: ‘Ada pun perjanjian
gurendur kepada orangkaya dalam tujuh bulan, sekarang sudah
lalu tiga bulan, maka tiada ia mengikut perjanjian itu. Betapa lagi
kehendak orangkaya itu, kami ikut juga, tetapi baik orangkaya
undur dahulu. Kemudian apa kehendak orangkaya itu katakan
juga kepada orang sekalian, supaya kita kerjakan.’ Itu pun tiada
juga orangkaya mau undur sehingga empat buah negeri undur
naik ke gunung, lalu paranglah negeri semuhanya beramairamaian.
Pada ketika itu pahlawan Patiwani seorangpun tiada
sebagainya di tanah Hitu, di mana merompa di darat atau di laut
tiada lain ia juga. Dan kuceriterakan perdana gimelaha dan
orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa, sekalian pati dan sengaji
semuhanya keluar serta dengan angkatan endak menyarang
kepada negeri orangkaya Tanihitumesen. Daripada ia bulum lagi
untungnya, maka tiada jadi mendatangi dia, sehingga
dipindahkan kepada negeri Loin naik ke atas gunung. Lalu datang
ke pantai Wawani, maka ia bertemu kapal Wolanda itu, lalu
melawanlah ia dengan kapal itu daripada waktu duha sehingga
datang waktu asar. Hatta datang angin daratan, lalu kapal pun
belayar dan angkatan pun undur ke pantai Wawani. Apabila
masuk matahari, entah berapa kapal serta kora2 datang pula,
maka kedua pihak pasang-memasang, tetapi iapun tiada turun
dan iapun tiada naik sehingga berapa lamanya Wolanda pun
pulang dan angkatan Islam pun kembali serta perdana gimelaha.
Maka ketika itu tanah Ambon Ulilima dan Ulisiwa semuhanya
berparanglah beramai-ramaian tiada berputusan. Hatta datang
musim barat, datang armada dari Betawih endak menyarang
kepada kota Lesiela, tetapi perdana gimelaha sudah harkat
menanti dia. Maka kedua pihak berparanglah siang dan malam,
pagi pettang tiada berantara lagi. Sebahagai juga parang kedua
pihak itu, tetapi kepada parang Wolanda itu tiada dapat
diceriterakan pelbagai parangnya. Hatta datang tiga bulan
bertungguan tiada boleh alah, lalu ia pulang ke Betawih. Maka
perdana gimelaha serta Ulilima dan Ulisiwa keluar meromparompa
kepada negeri Yahudi dan Nasrani, sarang-menyarang
sebahagailah tiada berhenti lagi. Hatta berapa lamanya datang
utusan dari Maluku, gimelaha Bobawa, membawa titah
memanggil kepada gimelaha dan orangkaya-kaya. Maka Kipati
Luhu dan Pati Tuban dan imam Nusaniwe, lain daripada itu tiada
kusebutkan, serta perdana gimelaha Luhu pergi mengadap ke
bawah dulli paduka serri sultan Hamza, nasrun min llah syah.
Tellah demikian itu maka kuceriterakan: di belakang perdana
gimelaha Luhu itu johan pahlawan gimelaha Leliyato memangku
tanah Ambon serta memerintahkan parang sabil Allah dan berkat
agama rasul Allah serta kemenangannya. Segali perastawa ia
keluar serta angkatannya mendatangi kota dauman*. Hatta
dengan takdir Allah ta`ala entah berapa-rapa negeri Nasrani
takluk Wolanda itu bebali kepada johan pahlawan gimelaha serta
orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa. Maka kata johan pahlawan
[kepada] orangkaya-kaya Nasrani itu, demikian katanya: ‘Hai
syaudaraku, engkau sekalian bukan kami endak kepada hamba
sahayamu dan bukan kami kehendak kepada artamu, tetapi
kehendak kami itu melainkan kita bersama-sama membawah
agama rasul Allah.’ Maka diiakan orang itu, lalu ia pulang ke
negeri bersuka-sukaan, makan-minum serta disalini dengan
pakaian yang inda2. Maka gurendur menyuruh sebuah kapal
belayar membawah khabar kepada jeneral serta bawah kepada
Kapitan Hitu ke Betawih. Maka kata orang Hitu kepada orangkaya
Bulan, demikian katanya: ‘Siya-siyalah orangkaya keluar serta
Wolanda itu . Jangan dikembalikan kepada Kapitan Hitu; jika
ditahankan ia duduk sehingga tanah Hitu jua pun baik juga, ini
pula dibawah ke ini pula dibawah ke Betawih.’ Lalu orangkaya
belayar ikut ke Betawih dan apa2 kehendaknya orangkaya itu
dikatakan kepada jeneral. Hatta datang musim jeneral pun datang
serta angkatannya ke tanah Ambon, menyarang kepada Lesiela
serta dengan kehendak Allah ta`ala alah kota Lesiela. Maka
orangkaya gimelaha dan orang semuhanya pindah ke negeri
Kambelo,betahanlah di sana serta orang dagang Melayu
Minangkabau. Lalu Wolanda itu ke negeri Hatubawah endak
menyarang kepada gunung Alaka. Itu belum lagi dengan
kehendak Allah ta`ala, maka tiada boleh alah, lalu ia pulang ke
Kota Laha. Hatta dengan takdir Allah ta`ala, maka dikembalikan
kepada Kapitan Hitu.Sendiri-dirinya juga, seorangpun tiada serta
dia, nama orang hitam, Nasrani atau Islam, melainkan Wolanda
juga antar kepadanya sehingga datang ke pantai Hila. Maka
ditinggal kepada dia lalu orang Hila antar bawah kepadanya ke
negeri Wawani. Maka negeri Hitu sekalian bersuka-sukaan,
makan-minum, beramai-ramaian dengan dia, lalu orangkaya-kaya
semuhanya serta Kapitan Hitu pergi ke Kota Laha bedamai
dengan jeneral dan gurendur serta orang besar-besarnya. Entah
berapa lamanya dalam Kota Laha, maka ia pulang ke negeri
Wawani dan negeri sekalian memberi tiga puluh bahara cengkeh
kepada jeneral akan pembeli siri pinang,seperti pantun Melayu:
‘Dapakan bunga setangkai jangan diaibkan orang.’ Tellah
demikian itu orang membawah fitna kepada jeneral dan gurendur,
demikian katanya: ‘Kapitan Hitu menjual cengkeh kepada dagang
Mangkasar dan Minangkabau di Puluh Tiga.’ Maka gurendur tiada
dengan periksyai lagi, lalu menyuruh kepada kapitan Yon Yan*
serta orang banyak mencahari. Ganap tanjung dan labuan tiada
dapat, lalu ia mengadang ke laut Puluh Tiga. Itu pun tiada juga
dapat, lalu ia pulang ke Kota Laha. Maka Kapitan Hitu pun takut
tiada keluar kepada Wolanda itu, makin bertambah fitnah. Hatta
tiada berapa lamanya datang paduka serri sultan Hamza, nasrun
min Allah syah, zill Allah fi 'l-`alamin, ke tanah Ambon serta raja
Tidore yang diturunkan daripada kerajaannya itu dan raja Jailolo.
Maka Wolanda itu serta angkatannya mendapatkan paduka serri
sultan, lalu masuk ke pantai Kambelo. Maka tanah Ambon dan
Buru sekalian berhimpunlah di sana. Hatta datang titah yang
dipetuan kepada orangkaya-kaya dalam negeri Lesidi dan
Kambelo, sekalian pati dan sengaji: ‘Rubuhkan kotamu itu dan
niyahkan segala orang dagang itu, suruh belayar pulang ke
negerinya.’ Maka kotanya itu pun dirubuhkan dan sekalian dagang
itu pun belayar masing2 mencahari tempatnya. Maka suruh
panggil perdana gimelaha dua bersyaudara, lalu dinaikan
pahlawan gimelaha Leliyato kepada kapal Wolanda itu dan
dikeluarkan gimelaha Luhu. Tellah demikian itu paduka yang
dipetuan berangkat ke tanah Hitu serta Wolanda itu dan negeri
Hitu sekalian pun keluar jungjung serta dengan adat semuhanya
dikerjakan. Ada yang memagang senjata serta santiagu*, ada
yang bejalan saja, ada yang membawah ayapan, ada yang
membawah arta bejenis-jenis serta bunyi-bunyian mengiringkan
kepada payung kerajaan daulat al sultan Hamza, nasrun min Allah
syah, zill Allah fi 'l-`alamin. Maka berhimpunlah tanah Ambon
sekalian berhadapan . Apabila sudah rubuhkan kotanya, maka
turun Wolanda itu mendatangi negeri Kambelo. Maka orang
Kambelo keluar serta pahlawan Patiwani Hitu. Pada ketika itu ia
duduk di negeri Kambelo, maka berparanglah atas bukit itu. Hatta
seketika lagi patah parang Kambelo, berpalinglah orang sekalian,
sehingga Patiwani jua ia betahan parang dengan Wolanda itu.
Tiada dapat kuceriterakan parangnya. Kemudian berhadapan di
bawah dulli yang dipetuan, hatta datang titah kepada orang
sekalian:‘Mana surat perjanjian dengan Wolanda itu?’ Maka
menyahut orangkaya-kaya semuhanya: ‘Ada pun surat perjanjian
Wolanda itu ada kepada patik tuanku Kapitan Hitu.’ Lalu
menyuruh panggil kepada Kapitan Hitu. Ada pun pada ketika itu
Kapitan Hitu pun sakit, lalu pulang orang yang memanggil itu
menyampaikan ke bawah dulli yang dipetuan. Tetapi kepada
jeneral itu tiada ia percaya. Maka menyuruh fetor Soroi* dan
sarinto* pergi periksyai kepada penyakitnya itu. Lalu ia pulang
katakan kepada jeneral: ‘Bennar juga kata orang itu.’ Tellah
demikian itu panglima Nahudimeten serta imam Sifarrijali
keduanya keluar datang mengadap ke bawah dulli serri sultan.
Hatta datang maka titah: ‘Mana Kapitan Hitu?’ Maka menyahut
Sifarijali: ‘Daulat tuanku, ampun seribu ampun, patik tuanku
sakit. Jika tiada sakit, sudah datang ke bawah dulli tuanku.’ Maka
titah: ‘Jika ia sakit, manatah surat perjanjian Wolanda itu?’ Maka
menyahut pula Sifarijali: ‘Patik minta maaf. Bennar juga titah
yang dipetuan itu, tetapi tatkala ditipu kepada patik tuanku,
jangankan surat itu, negerinya pun tiada diketahui lagi. Entah
surat itu ta dapat tiada kepada Wolanda, karena ia tempat
merampas isi rumah Kapitan Hitu.’ Maka sabda yang
kerajaan:‘Apabila bagai kata yang demikian itu, tiadalah kita
memutuskan kepada perjanjian itu, karena surat pun tiada, yang
memagang surat pun tiada datang.’ Lalu berangkat kepada
kelengkapannya dan orang sekalian pun masing2 pulang kepada
tempatnya. Hatta datang kepada hari yang lain, maka masuk pula
bicara dalam gudang Wolanda itu. Itu pun demikian juga tiada
berputusan, lalu dibawah belayar kepada pahlawan gimelaha
Leliyato ke Jawahkatra*. Maka tanah Ambon pun masing2 pulang
ke negerinya, sehingga kelengkapan dari Ternate itu juga serta
yang dipetuan di tanah Hitu. Maka bersumpah-sumpahan kalam
Allah dengan orang Hitu dan berjanjian dan muafakat seperti
dahulu itu lagi, lalu berangkat ke Kota Laha. Entah berapa
lamanya di sana, maka berangkat pulang ke Hitu pula, dari Hitu
menyeberang ke Luhu, dari Luhu berangkat ke Kambelo, Lesidi,
lalu pulang ke Maluku, sehinggalah keluar yang dipetuan serri
sultan Hamza, nasrun min Allah syah, meninggalkan benua
Ternate datang ke tanah Ambon, itulah kesudahannya. Telah
demikian itu maka kuceriterakan kemudian daripada itu tanah
Ambon, tiada ketahuan negeri Luhu dan negeri Lesidi, lain
daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira mengikut
kepada Wolanda. Ada pun negeri Kambelo dan Eran* dan Loki,
lain daripada itu tiada kusubutkan serta gimelaha Majira
mengikut kepada Wolanda. Ada pun negeri Kambelo dan Eran*
dan Loki, lain daripada itu tiada kusubutkan, serta gimelaha Luhu.
Dan kepada tanah Hitu negeri Hila dan negeri Hitulama, lain
daripada itu tiada kuceriterakan, serta orangkaya Bulan dan
orangkaya Tanihitumesen mengikut kepada Wolanda. Ada pun
negeri Hitu dari Wawani dan negeri Asilulu dan negeri Alan,
Liliboy, lain daripada itu tiada kuceriterakan, serta Kapitan Hitu
dan Pati Tuban dan Tubanbesi, serta johan pahlawan gimelaha
Luhu berparang dengan Wolanda itu, alah-mengalah,sarangmenyarang
sebagailah tiada berputusan parang sabil Allah di
tanah Ambon. Hatta berapa dalamnya, maka orang Hitu dan orang
Kambelo serta orangkaya gimelaha belayar mengadap raja
Mangkasar minta tolong kepada agama rasul Allah. Maka serri
sultan Muhammad Sya`id, wa-sultan al-Din, ibn al-sultan marhum
syah, menyuruh tujuh buah perau mengantarkan kepada
orangkaya gimelaha dan orangkaya2 pulang ke tanah Ambon.
Sehingga datang ke pantai Eran*, maka bertemu dua buah kapal .
Berlawanlah di sana dua kaum itu, pasang-memasang, tembakmenembak,
karena kelengkapan Mangkasar membuat
talangkeranya* di darat dan Wolanda membuat di laut atas
kapalnya. Hatta berapa antaranya dalamnya parau dari Kambelo
dan dari Hitu datang membawah kepadanya; setengah masuk
duduk di Kambelo dan setengah dibawah ke Hitu membuat
kotanya di pantai Seit ia duduk. Lalu menyorong parangnya
kepada negeri Larike dan negeri karas sukar mengalahkan dia.
Hatta datang pahlawan Patiwani melihat kepada negeri itu,
sangngat berahinya, lalu masuk sekali2 tiada dengan was2 lagi,
maka alah negeri itu. Endak lalukan kepada gudang Wolanda itu,
tetapi diteggah oleh penggawa, karena pasan yang dipetuhan
tiada dengan orang Wolanda, karena perjanjian raja kepada
Wolanda itu belum lagi berubah. Maka ia bernanti tiada masuk
kepada gudung itu, sehingga lalu pulang orang sekalian serta
Patiwani ke negeri Wawani, makan-minum, bersuka-sukaan. Dan
yang duduk di Kambelo itu pun menyoron parangnya serta orang
Ternate dan orang Kambelo alah kepada negeri Saluku. Maka ia
pulang serta dengan kemenangnya bersuka-sukaan dalamnya.
Hatta datang musim, maka setengah duduk dan setengah pulang
ke Mangkasar menyampaikan khabar dan minta bantu pula. Hatta
datang musim barat, maka datanglah entah berapa aluwannya.
Tetapi penghulu dalam angkatan itu karaen* Bontomanompo dan
daeng* Bulikan, dan karaen Mampo akan hukum dalam angkatan
itu dan memagang arta raja itu Marala dan karaen Puli dan Malim
dan Besi Lumu*. Lain daripada itu tiada kusebutkan. Hatta datang
ke tanah Ambon, lalu masuk ke tanah Hitu, ia duduk di pantai
Seit. Maka datang kapal Wolanda itu, berlawanlah kedua kaum
itu, pasang-memasang, tembah-menembah. Siang dan malam,
pagi petang pertungguwan tiada berkeputusan. Apabila masuk
matahari, berlakulah kedua pihak itu serta senjata bekilat-bekilat
dan bunyi-bunyian tamburnya dan kucapinya atas kepadanya.
Dan daripada Mangkasar pun demikian juga begendang serta
bunyi-bunyian. Hatta berapa lamanya kapal itu pun belayar, maka
Mangkasar pun menyorongnya menyarang kepada negeri
Hitulama serta dengan kehenda Allah ta`ala alah negeri itu. Maka
orang dalam negeri itu semuhanya masuk ke dalam gudung
Wolanda, maka orang Mangkasar endak masuk rusak kepada
gudung itu. Maka datang orangkaya2 dari negeri Kapahaha dan
negeri Mamala minta maaf kepada Mangkasar dan orang Wawani,
demikian katanya: ‘Kami minta maaf banyak-banyak kepada
penggawa dan panglima sekalian undur juga. Ada pun gudung itu
atas kepada kami, alahkan dia, tetapi anak buah kami itu kami
keluarkan dahulu, kemudian kami rusakkan dia.’ Tellah kata
demikian itu, maka orang Mangkasar dan orang Wawani pun
berhenti, tiada jadi berhenti, tiada jadi masuk kepada gudung itu,
lalu pulang. Hatta datang esok harinya, orang dalam gudung itu
pun keluar dan bantu dari Kota Laha pun datang menolong
kepada gudung itu. Maka orang Kapahaha dan orang Mamala dan
Liyan pun tiada jadi mengrusakkan dia. Itulah tanda orang kibria
dalam dunia tiada mengetahui kehendak Allah ta`ala. Tellah
demikian itu hatta datang berapa antaranya menyorong pula
parangnya ke Tanah Besar. Daripada Anin dan Laala itu pun
demikian juga, karena orangkaya gimelaha tiada sesungguhnya
parang, karena gimelaha Majira serta orang itu dan pun demikian
lagi dengan negeri Anin dan Laala. Maka berangkat serta orang
Kambelo dan orangkaya gimelaha mendatangi di negeri Lesidi. Itu
pun demikian juga sebab orang Kambelo dan Lesidi tiada dengan
sesungguhnya. Maka sesungguhnya. Maka orang Kambelo dan
orangkaya gimelaha serta Mangkasar tiada jadi menyarang
kepada negeri Lesidi, lalu pulang tiada dengan faedahnya. Tatkala
itu karaeng Jipang dan daeng Manggapa keduanya bedagang di
pantai Kambelo, maka ia keduanya bersama-sama serta angkatan
itu menyeberang ke tanah Hitu. Ia duduk di pantai Wawani, lalu
orang Kambelo dan gimelaha bedamai dengan orang Lesidi. Maka
tanah Ambon semuanya mengikut kepada Wolanda, sehingga
negeri Wawani juga berkellahi dengan orang semuhanya itu serta
Wolanda itu. Hatta datang musim karaeng Bontomanompo dan
daeng Bolikan serta kelengkapannya pulang ke Mangkasar
menyampaikan khabar kepada serri sultan Muhammad Sya`id al-
Din, sehingga karaen Jipan* dan Manggapa serta hamba raja
Marala dan Malim menunggu kepada kotanya di pantai Seit. Dan
Wolanda itu pun demikian lagi, menyuruh belayar ke Betawih
membawah khabar kepada jeneral Fandiman*. Hatta datang
musim barat Mangkasar tiada keluar, sebab raja berangkat
menyarang kepada raja Bone. Ada pun kepada Wolanda itu
jeneral keluar dengan angkatannya serta tanah Ambon dengan
angkatan semuanya mendatangi kotanya Mangkasar itu . Serta
dengan kehendak Allah ta`ala alah kota itu. Hatta datang esok
harinya, lalu naik menyarang kepada negeri Wawani, maka orang
Hitu dan Mangkasar keluar mengamu. Serta pahlawan Patiwani
menetah, maka ditangkis oleh Wolanda itu sehingga sedikit juga
putus asfanggarnya* itu. Lalu patah parang Wolanda itu, belarilariyan
membuangkan senjatanya. Maka orang Hitu dan
Mangkasar mendapat tiga puluh pucu esfangar yang tiada berapi.
Lain daripada itu tiada kusubutkan dan orang mati pun entah
berapa banyak tiada kuceriterakan, karena ada mati oleh pedang,
ada mati beddil, ada mati sendirinya, sebab ia terjung dari atas
gunung tiada berketahuan larinya, masing-masing membawah
dirinya. Maka naik kepada angkatannya, lalu pulang ke negerinya
sehingga meninggal tiga buah kapal menunggu kepada pantai
Wawani. Ada pun tatkala parang itu hamba raja Marala dua
bersyaudara mati dan pahlawan Patiwani luka dan imam Sifar ar-
Rijali pun luka pada ketika itu. Maka negeri Wawani pun selamat.
Kemudian daripada itu Seit dan Hahutuna, lima buah negeri,
keluar serta orangkaya Tanihitumesen masuk kepada Wolanda.
Maka ia berbicarai dengan gurendur, lalu bawah kapal belabu di
tanjung Hulu, membuat talangkeranya serta gudungnya di pantai
Hahutuna. Daripada itulah rusak iman orang parang sabil Allah
dan melamahkan hati orang itu, daripada ia katakan kata yang
baik serta membujuk dengan kata yang manis samanya Islam. Itu
orang meruntuhkan agama rasul Allah dan orang itu orang
munafik, karena orang itu dengan Hehalesi mengaku hadapan ke
pantai Hitu dan menyuruh berparang serta Wolanda, karena ia
mengaku di laut atau di darat atas kepada orang itu dengan
Hehalesi. Sebab itulah Kapitan Hitu menengar fitnah daripada
orang itu, maka ia berparang dengan Wolanda. Maka
kuceriterakan pada tatkala itu ada dua orang Kastila lari daripada
orang Wolanda datang ke negeri Wawani,masuk kepada Kapitan
Hitu dan Kapitan Hitu pun percaya kepadanya. Sangkanya bennar
orang lari, tiada mengetahui tipu dayah Kastila itu. Entah berapa
lamanya dalam negeri Wawani dan orang sekalian pun percaya
kepadanya. Hatta datang kepada suatu ketika ia datang kepada
Kapitan Hitu, maka ia berkata:‘Kami endak pergi bermain di
negeri kicil.’ Maka kata Kapitan Hitu: ‘Pergilah engkau.’ Lalu
keduanya berjalan keluar di pantai Seit, maka ia naik ke kapal
kepada Wolanda itu dan apa-apa katanya Kastila itu, maka
turung, lalu naik ke negeri Wawani. Hatta datang tengah malam
ia masuk ke dalam rumah. Tatkala itu Kapitan Hitu pun baringbaring,
lalu tidur sekalih di luar kepada suatu balai. Karena
istiadat Kapitan Hitu, jangankan laki-laki, hamba sahayanya
sekalipun, jika panjangnya lima jengkal tiada boleh masuk ke
dalam rumah. Itulah sendirinya beradu tiada dengan
penunggunya, seorangpun tiada. Ia juga sendirinya, lalu masuk
laknat itu. Maka tikam tigabelas kali serta dengan kehendak Allah
ta`ala tiada makan besi kulitnya, sehingga sekali juga makan besi
butul dadanya. Hatta datang ajal Allah, lalu pulang ke rakhmat
Allah. Inna li-llahi wa-inna ilaihi raji’un. Dan laknat itu lari ke
kapal beritahu kepada kapitan. Maka ia pasan muruyumunya*
semuhanya gennap kapalnya serta gudungnya sekalian, maka
negeri Hitu sekalian pun menjadi daif daripada ia terkuddun ia.
Tellah demikian itu orang Kaitetu pun keluar serta orang Seit dan
Hahutuna masuk kepada orangkaya Tanihitumesen muafakat.
Maka menyuruh naik ke negeri Wawani, menyampaikan kata
orangkaya itu kepada orangkaya Pati Tuban dan pahlawan
Patiwani serta orangkaya sekalian, demikian katanya: ‘Ada pun
Kapitan Hitu sudah pulang ke rakhmat Allah. Bolehkah kita
bertemu dengan orangkaya2? Tetapi kita tiada boleh naik ke
negeri, karena gurendur tiada mau kepada beta naik.’ Maka kata
orangkaya2: ‘Benar kata syaudara kami itu. Apa salahnya?’
‘Daripada itu ia ingat kepada negeri Hitu serta agama rasul Allah,
maka ia menyuruh datang kepada kami itu, dan kami pun
demikian juga seperti kata orangkaya itu, tiada boleh naik ke
negeri.’ ‘Benar juga kata orang itu, karena orangkaya dalam
maklum Wolanda itu. Kami pun demikian lagi endah bertemu
dengan orangkaya juga, tetapi kami tiada boleh keluar sebab
orangkaya serta Wolanda.’ Maka suruwan itu pulang beritahu
kepadanya. Maka menyuruh pula berulang-ulang dengan kata
yang baik dan manis, karena piliyan kata yang benar, maka
dikatakan serta dengan empena menjadi jina. Lalu katanya
demikian: ‘Orang kaya2-pun tiada boleh keluar, karena kita
bersama-sama dengan Wolanda. Kita pun tiada boleh naik ke
negeri, karena gurendur tiada mau. Baiklah kita sama bertemu di
luar negeri, supaya kita muafakat mana yang baik itu maka kita
kerjakan. Karena negeri semuanya sudah keluar akan katanya
kepada gurendur; tetapi gurendur tiada percaya karena negeri
sekalian itu mengikut kepada dia. Seperkara lagi, tiada perna ekor
dahulu maka kepala mengikut, melainkan dahulu juga kepala,
maka ekor mengikut. Daripada itulah kita menyuruh datang
kepada orangkaya2 itu serta dengan angkunya. Apabila berbuatan
atau tipu yang jahat bukanlah perbuatan Wolanda, kita empunya
perbuatan itu.’ Maka orang sekalian percaya, sangkanya kata
yang baik, lalu keluar orangkaya2 serta orang banyak mengikut
kepada suruwan itu, sehingga datang kepada suatu padang di tepi
sungai. Maka kata orang Seit dan Hahutuna: ‘Tuanku lalu ke pasar
Lebelehu, karena orangkaya serta orang banyak ada di sana.’ Ia
menanti, lalu pergi ke sana. Hatta datang di sana bertemu dengan
orangkaya serta orang banyak itu. Matahari pun masuk, maka
kata orangkaya dan orang banyak: ‘Ada pun kita ada bicara
sekarang ini, orangkaya2 dari Hila dan dari Mamala dan dari
Kapahaha bulum lagi datang. Baiklah orangkaya2 berhenti. Esok
harinya ia datang, maka muafakat semuanya dahulu. Kemudian
maka kita kira-kira apabila baik kita masuk kepadanya; jika tiada
baik menyuruh panggil kepadanya bicara di luar.’ Maka kata
orangkaya2 Wawani: ‘Jika bagai kata demikian itu, baiklah kami
pulang dahulu. Esok harinya maka kami datang.’ Maka kata
orangkaya dan orang Seit, Hahutuna: ‘Mengapa maka pulang lagi?
Jika begitu tiadalah percaya kepada kami semuanya ini.’ Karena
orangkaya sudah mengaku di hadapan orang semuanya kepada
barang perbuatan yang jahat itu, maka orangkaya2 serta orang
sekalian pun percayalah, sangkanya kata yang benar. Maka ia
berenti di sana, lalu orang Seit dan Hahutuna pulang ke
negerinya, beritahu kepada letnante dan menyuruh antan-antun
dua orang, seorang Goron* dan seorang Tapihuwat namanya,
keduanya naik ke kapal beritahu kepada kapitan gurendur,
Demer* namanya, membilang nama orang yang datang itu dan
nama panglima serta pendagarnya semuanya yang datang itu.
Dan apa-apa kehendaknya itu semuanya dikatakannya kepada
Wolanda. Lalu turun Kompenyi*, naik kepada tengah malam itu
menyarang kepada negeri Wawani. Serta kehendak Allah ta`ala
alah negeri Wawani dan orang dalam negeri itu pun cerai-berai,
masuk dalam hutan dan orangkaya yang keluar itu pun tiada
boleh masuk ke negeri lagi, lalu berjalan di luar masuk utan. Maka
ia bertemu sekalian rakyatnya dan karaen Jipan* dan daen
Manggapa serta rakyatnya dan kiyaicili La Manimpa ibn sipati* di
Buton. Maka semuanya bejalan masuk ke negeri Nukuhali dan
negeri itu pun tiada boleh terima kepadanya. Maka berjalan pula
ke negeri Tehala dan negeri Tehala pun demikian juga tiada dapat
terima, lalu keluar masuk utan, terbit pandang*, naik bukit, turun
bukit dan berapa padang ia berjalan. Entah berapa lamanya dalam
hutan itu sebagai juga sehingga datang ke hulu sungai, Wai Luyi*
namanya sungai itu, maka berentilah di sana. Entah berapa
dalamnya, paduka kiyaicili Laksamana pun sakit lalu mati . Tellah
dipeliharakan paduka kiyaicili itu, maka semuanya muafakat: ‘Apa
tipu kita? Apabila kita dalam hutan juga tiada tahan lagi rakyat
kita ini . Jika kita endah masuk kepada suatu negeri, semuanya
mengikut kepada Wolanda. Baiklah kita menyuruh kepada suatu
negeri, supaya kita dengngar kehendak itu, mauka atau tiadaka,
kemudian kira-kirakan kehendak kita.’ Lalu menyuruh ke negeri
Kapahaha: ‘Boleh kami masuk atau tiadakah?’ Karena tatkala itu
negeri Kapahaha pun bedamai dengan Wolanda, maka kata
orangkaya Tubanbesi: ‘Boleh juga, tetapi sabbar dahulu supaya
kami kira-kira serta orangkaya2 semuanya.’ Tellah demikian itu
entah apa-apa kehendaknya sekalian orangkaya itu, lalu ia datang
sendirinya membawah kepada orang yang tiada dapat berjalan
itu,dijalankan di laut dan orang Hitu dan setengah orang
Mangkasar serta daen Manggapa berjalan di darat. Hatta datang
ke pantai Kapahaha, maka didiamkan kepada suatu dusun, Alitan
namanya. Di sanalah ia duduk menanti kepada orang banyak lagi
dalam hutan itu. Apabila datang semuanya kemudian, maka kirakirakan
kepada kedudukan, karena panglima Patiwani dan imam
Sifar ar-Rijali dan pati Larutu bersama-sama karaen Jipan* serta
Mangkasar yang banyak itu lagi dalam hutan. Demikian kehendak
orang itu:’Apabila kita sekalian ini masuk ke dalam negeri,
sukarlah kepada hidupan kita. Baiklah kita di sini supaya kita pun
dapat makanan. Orang dalam negeri itu pun kita antar akan dia.’
Itullah kehendaknya orang itu. Ada pun tatkala ia dalam hutan itu
sekalian negeri itu tiada boleh masuk dalam hutan. Daripada
itulah kubunnya dengan tanamannya semuanya kepada orang itu
mengambil dia. Hatta berapa lamanya dalam hutan itu, maka
datang Wolanda itu mencari dia. Maka bertemu kepada suatu
padang, lalu berparang kedua pihak itu. Hatta seketika juga undur
Wolanda itu pulang ke gudangnya dan karaen Jipan* pun
meninggalkan Mangkasar setengah serta Kartulesi menanti
kepada suatu dusun. Ia membawah setengah serta Patiwani dan
Sifar ar-Rijali masuk ke negeri Kapahaha. Maka diberikan dua
buah perau, lalu ia belayar pulang ke Mangkasar. Maka menyuruh
mengambil perau kepada Kartulesi serta orang yang tinggal
dalam hutan itu. Maka datang pula Wolanda itu serta orang Hitu
yang mengikut kepada Wolanda itu, maka berparanglah tiga kaum
itu dalam hutan di sana. Hatta seketika juga dengan kehendak
Allah ta`ala tetanam kaki Kartulesi ke dalam lumpur, tiada boleh
bergerak lagi serta dengan ajal Allah lalu ia syahid. Apabila ia
mati maka orang banyak itu masing-masing lari membawah
dirinya. Tiada berketahuan larinya, ada mati dalam hutan, ada
masuk ke Hitulama, ada masuk ke Hila, ada masuk ke negeri kicil,
ada masuk kepada Wolanda itu, ada masuk ke negeri Kapahaha.
Maka kata orangkaya: ‘Apa tipu kita? Karena kita sudah bedamai
dengan dia. Baiklah kita pergi kepadanya minta ampun.’ Lalu
orangkaya-kaya masuk pada gurendur serta membawah tiga ribu
real akan pembeli siri pinang, supaya kami minta minta ampun.
Maka gurendur itu real itu pun diterima dan kepada orang itu
tiada diampunkan. Lalu keluarkan angkatan serta tanah Ambon
semuanya datang ke pantai Mamala. Maka menyuruh panggil
kepada negeri semuanya, demikian kata: ‘Baik siap-siap negeri,
jika tiada ia keluar serta aku, ialah akan musuhku.’ Hatta
didengar kata gurendur demikian itu dan negeri semuanya keluar
serta gurendur itu, sehingga negeri Kapahaha juga tiada keluar.
Maka Wolanda itu dilabukan kapalanya genap tanjung dan labuan
Kapahaha serta mendirikan talankeranya* di pantai itu, lalu
menembang cengkeh serta kayu yang dimakan buah2-nya. Maka
hulubalang negeri Kapahaha, Umarela namanya, ialah rasamu*
kepada orang mudah-mudah dalam negeri Kapahaha pada tatkala
itu, maka ialah keluar merompa pada orang Nasrani itu. Empat
orang ditindisnya di adapan Wolanda itu, lalu ia pulang dengan
kemenangnya, bersuka-sukaannya, makan-minum serta bunyibunyian
dalam negeri Kapahaha. Dan Wolanda itu pun demikian
lagi, sama gagahnya . Maka kedua pihak itu tiada berputusan
berparang siang malam pagi petang, sentiasa kedua kaum itu
sebagai juga. Apabila kepada pihak Islam itu ia keluar mengambil
makanan,tiada ia pulang kepada siang hari, melainkan petang
malam, maka ia pulang dan Wolanda itu pun apabila petang
malam, ia datang mengadap di pantai di mana datang orang itu .
Hatta sama bertemu kedua pihak itu, perparanglah kedua kaum
itu, sentiasa tiada bertinggalan lagi. Apabila petang, malam atau
siang hari, maka keluar orang dari negeri Kapahaha, ia mengadap
di luar talankeranya Wolanda itu dan Wolanda itu pun mengawal.
Maka sama bertemu keduanya lalu berparanglah kedua kaum itu,
pasang-memasang, tatuk-menatak sebagai juga tiada berhenti
lagi. Sama gagahnya dua
pihak itu. Alah mennang daripada kapitannya yang gagah itu
seperti letnante dan alferes* dan sarento* serta kapitan Merlaka*
ia sangat keras mengasakan soldadu kepada parang. Dan
demikian lagi daripada pihak Islam, panglimanya dan
pendagarnya serta pahlawan Patiwani ialah sangat mengasakan
orang mudah2 kepada parang sabil Allah.Maka sama gagah kedua
pihak itu, alah menang Islam pun tiada mau kepada Nasrani dan
orang Nasrani pun tiada mau kepada Islam,samalah kedua kaum
itu. Hatta berapa dalamnya serta dengan kehendaknya Allah
ta`ala pahlawan Patiwani ia naik kepada sebuah perau
menyeberang ke sebelah Tanah Besar, maka ia masuk ke dalam
sungai Wai Liyi*. Entah berapa hari dalamnya, maka datang
sebuah perau Wolanda itu dari pantai Lumakai*. Maka ia
keluar,melawanlah keduanya pasang-memasang, tembahmenembah.
Hatta seketika lagi ia memandang ke kiri dan ke
kanan dan ke aluan dan ke buritan, maka dilihatnya jurumudi
putus tangannya sebelah dan mati. Hatib Lukula dari Mamala
tangannya satu bengko dan orang luka pun banyak, maka ia
memarintah kepada orang semuanya, lalu langgar kepada
Wolanda itu. Apabila sudah langgar, maka ia mengunus
syamsyirnya serta melompat naik ke atas kelengkapan Wolanda
itu. Hatta dengan ajal Allah syahidlah ia dalam perau Wolanda itu.
Maka huru-gara majnun pandang kepada johan Patiwani ia dalam
kelengkapan Wolanda itu. Lalu ia menyerbukan dirinya kepada
Wolanda itu, serta menatak sekali juga kennah dua orang.
Seorang itu sehingga sedikit juga putus kedua penggal, ialah
kapitannya dan seorang lagi putus sebelah tangannya ada di jalan
lagi. Maka ditembah oleh Wolanda itu dua lukanya, satu kennah
pahanya dan satu lagi kenah bibirnya,maka jatuh ke air masing,
lalu naik kepada peraunya. Maka datang mengambil kepada johan
pahlawan Pati[wani], maka kedua kaum itu berhanyutan juga
tiada boleh penggayu lagi, karena keduanya sama lellah leti.
Hatta demikian itu, maka kata johan pahlawan Patiwani: ‘Hai
syaudahraku sekallian, kami sudah belakankan dunia, tetapi
menyampaikan salamku kepada orangkaya Tupanbesi serta
orangkaya2 sekallian. Tellah sudah kesudahan kami, tetapi baikbaik
bicara tuan-tuan semuanya, jangan disamakan kita di
belakang tuan-tuan itu.’ Lalu ia mati, maka dibawah pulang
maitnya itu datang ke negeri Kapahaha dan dipeliharakan serta
diadatkan sehingga seratus . harinya . Itulah kesudahan hidupan
pahlawan Patiwani dalam tanah Hitu. Apabila suda ia mati, maka
dibelakannya johan itu dan negeri semuanya pun berpalinglah
kepada Wolanda itu. Jadi kuranglah kuat negeri Kapahaha, karena
ia satu negeri juga tiga ratus orang memagang senjata
berparanglah dengan negeri sekalian. Itulah hal negeri Kapahaha
parang sabil Allah. Tellah demikian sekali perastawa gurendur
sendirinya membawah angkatan endah menyerang kepada negeri
Kapahaha. Maka ia naik ke atas bukit antara gunung Hantu* dan
negeri Kapahaha. Maka ia pasang bedil ditembah ke dalam negeri
dan negeri pun menembah kepadanya. Maka kedua kaum itu
melawanlah, pasang-memasang daripada waktu subuh sehingga
datang kepada bakda magrib. Daripada belum dengan ajal Allah
kepada negeri Kapahaha ia lari sendirinya membuangkan
senjatanya. Entah berapa matinya tiada ditentu dalamnya, karena
sekali menembah tujuh orang dikenanya. Itulah Allah dan nabi
Muhammad juga yang mengetahui. Segali lagi ia berjalan dari
bukit Iyaluli* endah mendatangi negeri Kapahaha. Sehingga
tengah jalan, maka ia lari sendirinya membuang senjatanya. Lain
daripada itu tiada dapat kuceriterakan. Ada mennang, ada alah,
itulah hal parang kedua kaum. Segali perastawa orangkaya Pati
Tupan dan Tulesi adindah orangkaya Tubanbesi bawah dua perau
ke Tanah Besar. Maka ia pulang bertemu dua buah fergat*, maka
melawanlah keduanya. Hatta seketika lagi orangkaya Patti
[Tuban] pun luka dan Tullesi pun kuka* Lain daripada itu tiada
kusebutkan. Maka didapatnya sebuah perau. Pada ketika itu
mennang Wolanda itu kepada Islam dan kuceriterakan,ada pun
tatkala itu orangkaya2 tanah Ambon, Ulilima dan Ulisiwa, Islam
dan Nasrani, serta orangkaya gimelaha datang suruh minta
bedamai. Maka negeri tiada mau bedamai, karena musuh
semuanya yang datang suruh minta bedamai, melainkan menanti
titah paduka seri sultan dari Maluku. Hatta datang musim utusan
pun datang dari Ternate, lalu masuk ke Kota Laha pada gurendur.
Maka menyuruh panggil kepada orangkaya2 negeri Kapahaha,
maka orangkaya2 serta orang banyak datang kepada utusan dan
gurendur. Maka kata utusan dan gurendur: ‘Pulanglah
orangkaya2, panggil kepada orangkaya Tubanbesi dan
orangkaya2 yang tuah-tuah datang ke mari, supaya ia dengar
kepada titah yang dipetuan.’ Apabila orangkaya2 itu pulang
sehingga tengah jalan, maka bertemu orang datang membawah
khabar, demikian katanya: ‘Ada pun orangkaya2 yang di belakan
mengikut tuan-tuan itu dipagang oleh letnante, dimasukkan ke
dalam talankeranya.’ Lalu orangkaya2 itu masuk hutan mencari
jalan yang lain. Sebab itulah maka tiada jadi bedamai. Lalu
orangkaya-kaya menyuruh menyampaikan ke bawah dulli yang
dipetuhan serta tanya sepata kata, demikian katanya: ‘Betapa hal
kami ini? Karena tanah Ambon negeri sekalian serta dengan
Wolanda, sehingga kami sebuah negeri juga berparang dengan
Wolanda itu. Mana kehendak seri sultan, baik berkellahi atau
bedamai, supaya kami dengar dan mengetahui kehendak titah itu
pun.’ Tiada juga datang titah, hatta berapa dalamnya gimelaha
pun datang dari Ternate,maka orangkaya Kapahaha menyuruh
tanya kepada orangkaya gimelaha. Hatta datang suruwan itu,
apa-apa sebabnya, lalu menyuruh bunuh kepada suruwan itu.
Maka didengar oleh orangkaya-kaya dalam negeri Kapahaha
terlalu khairan ajaib sekali kepada perbuatan gimelaha itu. Maka
kata orangkaya-kaya: ‘Ada pun harap kita kepada perjanjian serri
sultan tatkala dipersekalikan kalam Allah di negeri Hitu. Itu pun
tiada juga datang titah, apatah daya untung kita? Tellah demikian
itu datang titah, apatah daya untung kita?’ Tellah demikian itu
datang bala Allah, penyakitan dalam negeri serta kekurangan
makanan, karena negeri sekalian menjadi musuh, berparanglah
dengan negeri Kapahaha. Jangankan negeri lain tiada dapat
Demikianlah hal negeri Kapahaha. Hatta demikian itu dengan
kehendak Tuan Yang Mahatinggi seorang dagang ia lari masuk
kepada Wolanda. Maka ia menunjukkan jalan kepada Wolanda itu,
naik tengah malam serta dengan kehendak Allah ta`ala lalu alah
negeri. Maka orang semuanya itu cerrai-berrai masing-masing
membawah dirinya. Ada mati di tengah jalan, ada mati di bawah
pohon kayu, tiada dapat berjalan lagi, sebab ia kalaparang. Ada
masuk ke dalam hutan, ada masuk ke dalam guwah batu. Barang
apa didapatnya, di situlah ia diam, lalu mati kepada tempatnya.
Dan setengah masuk ke negeri Mamala dan setengah masuk ke
negeri Hitulama dan setengah masuk ke Hila. Ada masuk negeri
Tiyal dan orangkaya Pati Tuban ia masuk ke negeri Wai. Maka
semuanya itu diberikan kepada gurendur itu dan orangkaya
Tubanbesi ia membawah sebuah perau sudah keluar sehingga
pantai Hatuhaha. Maka menyuruh dua orang naik ke negeri,
demikian katanya: ‘Dapatkah orangkaya2 menyuruh seorang atau
dua orang turun kepada orangkaya Tubanbesi atau tiadakah?’
Hatta didengar kata demikian itu, lalu dipagang kepada dua orang
itu dan menyuruh turun endah dipegang kepada orangkaya
Tubanbesi.Tetapi belum lagi untungnya di situ, maka ia lepas, lalu
pulang ke negeri Hitu. Maka orang Hitu bawah orangkaya dua
beranak kepada Wolanda itu. Maka dibunuhlah kepada orangkaya
dan dinaikan kepada orangkaya Pati Tupan dan orangkaya
Beraim-ela dan Tulesi dan Alam dan Teyaka* serta anak
orangkaya Tubanbesi dua bersyaudarah, seorang Duljalal dan
Pilakan* namanya kanak-kanak itu dan anak orangkaya Kapitan
Hitu dua bersyaudara, seorang Wangsa namanya dan seorang
Petinggi namanya kanak-kanak itu, naik kepada kapal, bawah ke
Betawih. Dan kuceriterakan Sifari'l-jalih. Dan tiada kuceriterakan
kesukarangnya serta kejahatannya yang dicellai orang itu,
sehingga kunyatakan tatkala ia keluar itu masuk hutan, terbit
padang dan naik bukit, turun bukit. Maka ia hendak masuk ke
negeri Mamala, tetapi kiranya orang Mamala pun tiada boleh
diterima kepadanya, maka ia tiada jadi masuk ke Mamala lagi, lalu
ia keluar pergi ke dalam hutan. Apabila terbit fajar ia keluar di
pantai basambuni, karena kepada siang hari itu ada orang masuk
mencari dalam hutan. Sebab itulah ia keluar basambuni dakat
pantai. Hatta matahari masuk, maka ia pun keluar pergi berjalan
ke dalam hutan, terbit padang. Maka ia bertemu seorang antanantan
orangkaya Pati Tuban, Sarasara Tahakehena namanya, lalu
keduanya pergi berjalan. Entah berapa jauhnya, maka ia dengar
bunyi anjing dalam hutan. Seketika juga datang anjing serta
tuannya Wolanda itu datang. Daripada belum lagi sampai ajal
Sifarijali keduanya Sarasara Tahakehena, maka anjing itu diyam
dan Wolanda itu pun tiada berkata-berkata. Sama pandangmemandang,
lalu berjalan keduanya. Entah berapa jauhnya
berdapat pula dengan musuh, maka ia bersembuni, maka musuh
itu pun tiada melihat kepadanya. Lalu pergi masuk ke hutan
sehingga datang kepada suatu padang. Maka ia berhenti di
sana,berlindung di dalam alang-alang, lalu menyuruh kepada
Sarasara Tahakehena masu ke dalam negeri Hila, tanya kepada
seorang anak syaudagar yang besar [penggawa] lagi dermawang
pun artawan, ialah menjadi imam dalam negeri itu: ‘Dapatkah
Sifarijali masuk ke negeri atau tiada dapat?’ Maka Tahakehena
pun lasap sekali-sekali, tiada pulang lagi; maka tefakur Sifarijali
dalam cintanya serta berkata: ‘Ajaib sekali akan Tahakehena
pergi berdapat segera datang hendaknya hidup lasap sekalisekali.’
Telah demikian, maka ia menanti. Hatta masuk matahari,
ia pun masuk ke negeri berhadapan dengan imam itu, maka ia
datang beri bakal dan makanan. Seketika lagi datang Telesima
dan Abubakar serta kanak-kanak, anak orangkaya Kapitan Hitu,
Patinggi namanya, didukun oleh inang pengasuhnya, si Papua
namanya. Maka kata Sifarijali:‘Apa tipu kita kepada kanak-kanak
ini, bawahkah atau tinggalkah?’ Maka kata syaudaranya:
‘Kedudukannya baik juga kita bawah, tetapi jika datang ke hutan
maka kennah hujang dan angin ia tiada boleh tahan. Baik kita
tinggalkan dia supaya ia keluar ke negeri.’ Maka kata imam Rijali:
‘Apa dayah?’ Lalu dipuluh* dan dicium kepada kanak-kanak itu,
maka ia diketinggalkannya, pergi berjalan ke hutan ia duduk
kepada suatu bukit. Apabila masuk matahari, ia keluar berjalan
menapi pantai. Hatta terbit fajar masuk ke hutan ia berhenti,
tiada boleh berjalan kepada siang hari. Sehingga datang ke negeri
Seit dan Hahutuna, seorangpun tiada terima kepadanya dan dia
pun sembuni tiada mau menunjukkan dirinya kepada orang itu.
Maka ia menyuruh pergi kepada Hehalesi. Maka ia terima kepada
dia orang, lalu dibawah dari negeri ke dalam hutan, ia duduk
kepada suatu bukit. Hatta berapa dalamnya maka mengambil
sebuah perau, maka keempatnya menyeberang ke Tanah Besar,
sehingga datang ke tanjung Sial. Maka ia bertemu Sakia dari
Waibuti mengambil ikan. Maka ia bertanya kepada Sakia itu,
demikian katanya: ‘Dapat kami naik ke negeri atau tiadakah?’
Maka ia menyahut: ‘Orang itu tiada boleh.’ Lalu ia ke tanah
Kelang, karena pada ketika itu orangkaya gimelaha Daga dengan
kiyaicili [Besi]mulu serta orang Kelan* endah berkelahi dengan
Wolanda itu. Sebab itulah, maka ia datang ke sana bersama-sama
orangkaya Daga dan kiyaicili. Hatta berapa lamanya, maka datang
perdana gimelaha serta orangkaya-kaya Ulilima dan Ulisiwa
datang membawah titah seri sultan Hamza, lalu ia keluar bedamai
dengan gurendur itu. Lalu dipindakan pulang ke negeri Luhu dan
pati Kambelo pun bawah kepada Abubakar. Tinggal lagi tiga orang
juga, daripada itulah Sifarijali terlalu ajaib. Tiada dapat
kuceriterakan dukkacittanya, sehingga itulah menanti kepada
Tuhan Yang Mahasuci. Hatta dengan kehenda Allah ta`ala datang
gimelaha Hasi dari Luhu endah pulang ke Buru. Maka Sifarijali
minta sebuah perau daripada orang Kelan*, lalu mengikut
orangkaya itu ke tanah Buru, duduk di negeri Lesiela bersamasama
orangkaya gimelaha. Entah berapa lamanya, maka datang
gulawarganya, Pati Laik namanya, serta Ulu Ahutan membawah
sebuah perau cari kepadanya. Maka bertemulah sama berhadapan
bertanya-tanyakan hal-ahwal tanah Hitu dengan Wolanda itu,
maka semuanya diceriterakan oleh syaudaranya itu. Maka
didengar oleh Sifarijali itu, makin bertambah kedukaannya. Maka
[kata] orang semuanya: ‘Apatah daya kehenda Allah ta`ala? Baik
membuang diri kita tanah lain, supaya kita jangan melihat dan
menengar tanah kita lagi.’ Lalu memohon kepada orangkaya
gimelaha dan kipati. Maka ia belayar ke laut tiga hari datang ke
tanah Bone, maka datang orang Bone tanya kepadanya: ‘Orang
mana?’ Maka menyahut: ‘Kami orang Ambon.’ ‘Endah ke mana?’
‘Kami endah ke Mangkasar, tetapi kami kurang air dan bakal.
Jikalau ada makanan, bawahlah kemari kami beli.’ Maka kata
orang itu: ‘Nantilah di sini, esok hari kami bawah makanan ke
mari, maka ia beli.’ Maka Sifarijali pun menanti. Hatta datang pagi
hari orang itu pun datang serta senjata. Ia basembuni dalam
hutan, maka menyuruh entah berapa orang, ia keluar memanggil
kepada orang dalam perau itu, demikian katanya: ‘Marilah turun
beli makanan itu.’ Karena ia takut tiada mau naik ke perau, maka
ia pun tiada mau turun ke darat, lalu keluar belayar. Itulah
daripada belum dengan kehendak Allah ta`ala. Maka tiada lagi
bakal orang itu, sehingga karan-karan serta daun meninjau
selamanya pergi itu. Hatta datang ke tanah Buton, maka bertemu
kepada karaen Rajipan. Maka diberinya makanan serta kain
bajunya, lalu masuk mengadap kepada raja. Tatkala itu raja La
Mibilu* akan kerajaan tanah Buton. Maka datang titah kepada
bonto* dan biduwandi*: ‘Tanya olemu kepada orang itu endah ke
mana perginya dan apa kehendaknya datang ini?’ Maka menyahut
Sifarijali. Segala hal-ahwalnya itu semuanya diceriterakan kepada
biduwandi* itu, maka ia menyampaikan ke bawah dulli yang
kerajaan. Telah demikian itu ia memohon, lalu pulang ke
peraunya. Hatta datang esok harinya datang pengalas serta
antun-antun membawah titah menunjukkan kampung serta
rumah. Maka menyahut Sifarijali: ‘Ada pun titah kepada dagang
piatu itu, maka dagang piatu pun terima serta junjung kepada
kehenda titah itu, tetapi minta ampun kepada piatu yang hina
karan, belum lagi sampai pada ... itu.’ Maka ia pulang
menyampaikan ke bawah dulli, lalu menyuruh memberi bakalnya.
Maka karaen Rajipan menyuruh sebuah perau bawa kepada dia
dahulu ke negeri dan karaen Rajipan lagi duduk di Buton. Pada
dewasa itu seri sultan paduka Dipatingalowan* ia memerintahkan
tanah Mangkasar dan demikian serri sultan Muhammad Sya`id
akan kerajaan, sultan al-islam, zill al-nabi fi dar al-mu’min. Maka
Sifarijali ia masuk mengadap serta menyampaikan hal-ahwalnya
ke bawah dulli seri sultan. Maka titah paduka Dipatingalowan*:
‘Lamun jika tida kuterima kepada halmu ini, tiada seperti sabda
nabi kepada kita ummatnya: “Wa-'l muslimin ikhwan”.’ Lalu
syahbandar memberi tempat kedudukannya, ia senang dirinya.
Daripada itulah meninggal negeri mencari sennang daripada ia
takut akan Wolanda itu. Maka ia masuk hutan, terbit padang,
menapi tasik, menyeberang laut, sehingga datang ke tanah
Mangkasar. Itulah halnya orang mendapat kediaman dirinya.
Itulah kesudahan hikayat ini. Tamat sah ya sah. Wa-'s-salam bikhair
amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.