Sabtu, 01 Oktober 2016

Pengorbanan Halaene sang Raja Mamala Untuk Tanah Hitu (Ambon)





Indonesia yang dahulu disebut Nusantara merupakan suatu wilayah yang sangat subur dan banyak menghasilkan rempah-rempah. Waktu itu, wilayah Nusantara dipimpin oleh raja-raja sebagai penguasa negara atau penguasa wilayah. Banyak pedagang, baik dari wilayah Nusantara sendiri maupun dari bangsa lain.  Pedagang Eropa yang datang pertama kali memasuki wilayah Nusantara adalah bangsa Portugis dan Spanyol. Kedua bangsa ini bersaing untuk merebut daerah hasil rempah-rempah. Lalu, bangsa Spanyol tersingkir dan bangsa Portugis dapat menguasai daerah penghasil rempah-rempah. Namun, bangsa Indonesia dengan para raja dan penguasa daerah sebagai pemimpin tidak senang dengan kelakuan Portugis yang ingin menjajah. Rakyat Indonesia pun berjuang mengusir Portugis dari bumi Nusantara dengan mengangkat senjata dan mengadakan perlawanan.

Sejak tiba di Hitu dalam tahun 1512, orang-orang Portugis di bawah pimpinan d’Abrio dan Serroa disambut dan dijamu dengan ramah tamah oleh orang Hitu yang telah beragama Islam. Jumlah orang Portugis yang sedikit itu tidak dianggap sebagai ancaman, apalagi mereka segera pergi setelah tinggal beberapa lama. Maksud orang-orang Portugis itu hanyalah mencari rempah-rempah (cengkih dan pala), dan zaman itu mereka harus pergi ke Ternate, Tidore dan Banda. Dalam tahun 1525, barulah orang Portugis mendapat izin membangun sebuah rumah di pantai Hitu sebelah Utara, tepatnya di Hassamuling-tanjung Tetulaing (lokasinya berada di antara Mamala-Hitu). Tetapi, keadaan tersebut menjadi buruk ketika orang Portugis melanggar kedaulatan orang Hitu yakni ketika mereka hendak membangun sebuah benteng dan mengadakan peraturan-peraturan sendiri. (Lihat: Kekalahan Mengerikan Di Tanah Hitu) Orang Hitu menolaknya dan menghendaki orang Portugis meninggalkan wilayah mereka dan tinggal di antara orang-orang uli siwa (cikal bakal benteng Victoria). Sejak itu pula terjadi pengkristenan orang uli siwa di Leitimor oleh Portugis.

Sekilas Sistem Kerajaan Tanah Hitu

Hikayat Tanah Hitu menyebutkan bahwa ketika keempat perdana bermufakat untuk membentuk kerajaan Islam di Tanah Hitu dengan seorang raja yang bergelar “Latu Sitania” dan Hukom yang pertama Abubakar Nassidik, serta ke empat Perdana dibantu dengan tujuh penggawa yang merupakan raja / pimpinan uli yang ada di Tanah Hitu yang terdiri dari tigapuluh negeri, terbentang mulai dari Negeri Lima sampai Negeri Tial sekarang. Berbagai cobaan berat langsung dialami oleh kerajaan ini, dengan usaha menghadapi kolonialisme Portugis. (Lihat: “Perjuangan Melawan Portugis di Mamala” dan “Kekalahan Mengerikan di Tanah Hitu”).

Gambar 1. Rincian Tiga Puluh Negeri di Tanah Hitu

Perjuangan Halaene sang Raja Mamala untuk Tanah Hitu (Ambon)

Negeri Latu atau yang identik dengan negeri Mamala dalam kronologis masa terbentuknya menjadi suatu negeri dan akhirnya berkembang menjadi suatu Uli Saylesi sebelum terbentuknya kerajaan Tanah Hitu mempunyai pimpinan yang disebut “Latu Liu” atau “Latu Polonunu”. Pattikayhatu dalam pendahuluan bukunya yang berjudul “Negeri-negeri di Jazirah Leihitu Pulau Ambon” menyebutkan bahwa Mamala adalah kepala dari para penggawa.

Halaene yang disebut merupakan putra kedua dari Kapitan Hitu Tepil setelah Ariguna (Mihirjiguna), sebelum Kakiali. Semasa hidupnya menjabat sebagai Hukom di Tanah Hitu, selain menjadi raja Mamala.

Gambar 2. Keterangan dari Rhumpius tentang Halaene sebagai Raja Mamala
 
Gambar 3. Keterangan dari Valentijn tentang keberadaan Halaene sebagai Hukom Tanah Hitu dan juga Raja Mamala

Penjelasan bagaimana Halaene yang merupakan cicit dari Perdana Jamilu (Klan Nusatapi) akhirnya menjadi raja Mamala, yang merupakan perpaduan antara dinasti pimpinan uli Saylesi dengan Klan Nusatapi sampai saat ini belum ditemukan referensi yang menjelaskannya.  Hikayat Tanah Hitu menjelaskan peran besar dari Halaene saat itu, beliau sangat ditakuti dan disegani bukan saja di Tanah Hitu, namun juga di pulau Ambon. Saat ayahnya Kapitan Tepil sedang ke Batavia, Halaene mengambil peran ayahnya sampai ajal menjemputnya karena diracun Belanda.(Lihat: Gejolak Perlawanan di Tanah Hitu tahun 1636-1637).  Masa kolonialisme Belanda kala itu terlihat upaya memecah kerajaan Tanah Hitu menjadi dua, dengan terlhatnya adanya dua raja yakni raja Mamala dan raja Hitu Lama, seperti gambar di bawah ini,

Gambar 4. Keterangan dari Rhumpiuss  tentang keberadaan dua raja di Tanah Hitu pada tahun 1637

Kepustakaan

Valentijn F, 
Oud en Nieuw Oost-Indiƫn: vervattende een naaukeurige en uitvoerige, available at
https://books.google.co.id/books?id=1XtEAQAAMAAJ

Rijali I, Hikayat Tanah Hitu, available at : http://mamala-amalatu.blogspot.co.id/2015/10/hikayat-tanah-hitu.html

Rhumphius, G.E : Ambonsche Landsbeschrijving, Arsip Nasional RI, Jakarta, 1983.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.